Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat ada peningkatan okupansi hotel saat libur panjang akhir pekan pada 16-18 Januari 2026. Namun, peningkatannya tidak signifikan.
Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, mengungkapkan peningkatan itu juga ditunjukan dari rate atau harga hotel pada libur panjang akhir pekan ini yang masih sama seperti reguler, bukan seperti harga pada high season.
“Ada peningkatan, tapi peningkatan itu sih gak banyak ya. Paling dari regular itu kenaikannya cuman 10-20 persen. Enggak pengaruh (long weekend), naik sih naik, tapi okupansinya juga rendah,” kata Yusran kepada kumparan, Minggu (18/1).
Selain itu, Yusran menuturkan peningkatan okupansi yang tak signifikan ini juga menandakan ada pelemahan daya beli. Apalagi, kata Yusran, long weekend kali ini juga berdekatan dengan libur panjang lainnya.
“Tapi kalau di libur ini saya rasa lebih kepada daya beli agak sedikit melemah sekarang dan orang juga baru selesai liburan di akhir tahun, jadi enggak terlalu banyak juga mereka akan bergerak. Ini kan dempet-dempet, sebentar lagi Imlek, jadi banyak pilihan libur lah,” ujar Yusran.
Yusran mengungkapkan faktor lain yang juga mempengaruhi keterisian hotel ini adalah momen lebaran Idul Fitri yang jatuh pada bulan Maret mendatang. Ia melihat banyak orang yang menyimpan keinginan berlibur saat ini demi lebaran nanti.
“Jadi banyak mereka menyimpan untuk libur lebaran nanti, karena sebentar lagi, 2 bulan lagi lah ya. Itu mungkin salah satu faktor juga jadi mereka lebih bagus mereka simpan buat nanti,” tutur Yusran.
Yusran memprediksi peningkatan okupansi terbesar akan ada pada saat lebaran, libur semester sekolah, dan libur natal dan tahun baru (nataru).

