Membaca Tugas-Tugas Mahasiswa

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Siang itu, entah di pertemuan kesepuluh atau kesebelas, saya sedikit agak lupa persisnya, yang saya ingat bahwa saya menugaskan mahasiswa di kelas Politik Luar Negeri untuk membaca dua artikel berbeda yang selanjutnya harus dijelaskan di depan kelas.

Beberapa di antara mereka agak sedikit keberatan karena saya menunjuk secara random siapa saja yang harus mengelaborasi hasil bacaannya di depan kelas. Namun saya menjelaskan bahwa masing-masing Dosen punya strategi Pedagogi yang direlevansikan dengan kondisi mahasiswa dan capaian mata kuliah.

Mata kuliah yang saya ampu dalam ranah ilmu sosial yang intinya harus banyak baca, tidak mengkuantifikasi sesuatu sebagaimana lazim dilakukan dalam ilmu eksakta. Membaca adalah satu-satunya pintu utama untuk memahami fenomena sosial. Membaca berbagai perspektif sebelum mencoba untuk menyusun sintesis dari perspektif yang digunakan.

Dua minggu sebelumnya, saya berdiskusi dengan salah seorang professor dari UPI tentang konteks keadaan mahasiswa di era perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI) yang seakan tidak terbatas dan menyandera manusia dalam ketergantungan yang semakin parah.

Beliau menjelaskan bahwa beberapa penelitian merangkum dampak dari perkembangan teknologi yaitu kemampuan membaca mahasiswa yang semakin menurun. Selain itu, teknologi membuat otak manusia hanya ingin instan dan tidak mampu berlama-lama untuk mendalami isu tertentu.

Banjir informasi tidak lantas membuat kita menjadi lebih pintar dari generasi sebelumnya, namun ternyata sebaliknya. Informasi yang datang begitu deras membuat kita sulit untuk memetakan mana informasi yang diperlukan dan mana yang hanya akan menjadi sampah di memori otak.

Kemampuan Membaca

Pada salah satu kelas kuliah online Prof Bambang Sugiharto, Guru Besar Fakultas Filsafat (FF) Unpar, beliau menjelaskan keadaan generasi muda Indonesia dengan sangat gamblang:

Anak muda Indonesia itu buta huruf, artinya bisa baca. Tapi kemampuan menangkap isi bacaan itu, dan mengolah isi bacaan dan digabung menjadi bacaan lain untuk menjadi visi itu rendah sekali. Kemampuan dan analisis sintetiknya itu rendah sekali. Mahasiswa tahun pertama (di Indonesia) itu levelnya hanya setara anak SMP di negara maju."

Sulit untuk membantah pernyataan ini karena pada kenyataan di lapangan, kemampuan mengartikulasikan hasil bacaan dengan bahasa sendiri masih sangat kurang, tidak hanya pada mahasiswa bahkan juga generasi umum di Indonesia, bahkan mungkin para pengajar.

Saya menjumpai beberapa orang di komunitas baca yang bahkan tidak mampu mengartikulasikan kembali bacaan-bacaan yang hanya beberapa halaman, mungkin kurang lebih sepuluh halaman.

Membaca bukan sekadar proses bagaimana mengeja diksi demi diksi tetapi membaca adalah proses yang melibatkan berbagai hal termasuk juga penalaran. Ketika membaca maka pikiran harus ikut aktif dalam merefleksikan apa yang sedang dibaca. Aktivitas membaca merupakan rangkaian kerja kognitif yang menuntut penalaran, bukan sekadar aktivitas mekanis seperti layaknya menonton film atau membaca buku fiksi yang bisa dipahami sekali baca.

Maka jika ingin mengukur apakah mahasiswa memahami bacaan, harus ditugaskan untuk menjelaskan kembali hasil bacaan dengan bahasa sendiri, entah itu dengan cara dipresentasikan atau dituliskan kembali dengan penekanan pada argumen pribadi tanpa harus mengikuti pola artikel ilmiah karena lebih mudah melakukan plagiasi.

Sejak awal perkuliahan, saya seringkali membagikan beberapa referensi mata kuliah sebagai bahan diskusi di kelas. Namun di hampir setiap pertemuan, saya jarang menemukan mahasiswa yang benar-benar sudah membaca referensi sebelum masuk kelas. Padahal mereka akan mampu berdialektika ketika memiliki cukup referensi bacaan.

Bahkan sekian kali saya melontarkan pertanyaan retoris kepada mereka:

"Berapa buku yang sudah dibaca dalam sebulan atau bahkan setahun?"

Tidak ada yang percaya diri mengangkat tangan kemudian menjawab jumlah buku yang dibaca. Inilah realitas yang harus dihadapi, tidak hanya menjadi masalah mereka tetapi juga sistem pendidikan secara umum.

Masalah ini harus menjadi perhatian bagi pengajar untuk bertumbuh bersama mahasiswa sembari perlahan demi perlahan memahamkan bahwa mahasiswa punya kewajiban moral untuk meningkatkan kompetensinya, tentu salah satunya dengan cara memperbanyak referensi bacaan.

Memang, semua mahasiswa tidak bisa digeneralisasi dengan standar yang sama karena mereka memiliki keunikan masing-masing, namun pada aspek membaca dan menulis, ada standar minimal yang mereka harus penuhi salah satunya adalah kemampuan untuk memahami bacaan dan menuliskan kembali hasil bacaan sesuai dengan argumen masing-masing.

Bagaimana Memberikan Tugas Kepada Mahasiswa

Minggu kedua di awal tahun 2026, kampus kami UNISA Bandung, memasuki masa-masa Ujian Akhir Semester (UAS). Tentu persiapan sudah dimatangkan jauh hari sebelumnya, baik persiapan Dosen yang harus menyusun soal-soal maupun mahasiswa yang harus membaca kembali materi bahan kuliah yang sudah dipelajari.

Berangkat dari observasi di setiap pertemuan kelas, saya menyimpulkan bahwa ada dua hal yang harus ditingkatkan pada mahasiswa yang mengambil mata kuliah di kelas saya yaitu kemampuan membaca dan menuliskan kembali hasil bacaannya.

Dari hipotesis tersebut, saya sudah merancang dari awal bahwa penugasan UAS yang akan saya wajibkan kepada mahasiswa yaitu tugas menyusun opini populer.

Kenapa opini populer?

Pertimbangan saya pada beberapa hal yang kontekstual dengan masalah yang saya temukan di kelas. Alih-alih memberikan tugas artikel jurnal ilmiah, saya menugaskan menulis opini populer karena mereka akan lebih mengelaborasi argumen pribadi dengan bahasa yang lebih umum, tentu mereka harus menuliskan sendiri tanpa menggunakan ChatGPT. Tulisan dalam bentuk opini populer yang dihasilkan dari ChatGPT terlalu sistematis, maka identifikasinya akan lebih mudah.

Oh iya, tentu saya bukan generasi konvensional yang menolak perkembangan AI tetapi juga tidak sepakat jika setiap tugas dihasilkan dari AI tanpa dinalar kembali oleh Penulisnya.

Selain itu, menulis opini populer membutuhkan referensi dari hasil bacaan maka mau tidak mau, mereka harus membaca kasus tertentu sebelum menuangkan dalam sebuat tulisan.

Opini populer memberikan mereka kebebasan untuk menuangkan ide-idenya yang liar tanpa harus dibatasi oleh sistematika penulisan yang terlalu kaku. Mereka akan lebih bebas untuk menjelaskan apa argumen pribadi pada kasus tertentu yang akan dibahas.

Saya menikmati membaca tugas-tugas mahasiswa yang dibahasakan dengan lebih populer. Pada beberapa tugas yang sudah saya baca, saya serasa sedang berdiskusi dengan mahasiswa dan membayangkan mereka sedang memaparkan tugasnya di depan saya.

Sebelum menulis artikel ini, saya sudah membaca dua tugas dari mahasiswa yang sudah mengumpulkan berjudul, pertama "Strategi Cerdas Jokowi Membangun Diplomasi Antar Negara Melalui G20." Kedua, "Gagal Jadi Pemimpian ASEAN: "Ketika Jokowi Pilih Urus Dalam Negeri Ketika Myanmar Berdarah."

Saya memvisualisasikan Ilham dan Wildan ketika membaca tulisan mereka dengan struktur bahasa lisan mereka. Tentu masih ada sistematika dan penulisan yang kurang pas tetapi paling tidak, ide yang mereka sampaikan sudah memadai.

Demikianlah, saya menikmati membaca tulisan mahasiswa yang autentik.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tol Sedyatmo Arah Bandara Soekarno-Hatta Banjir, Lalu Lintas Dialihkan
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Terpopuler: Justin Hubner Menikah dengan Jennifer Coppen, Federico Barba Murung
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
AS Patok Tarif Rp16,8 Triliun untuk Kursi Permanen Dewan Perdamaian Gaza
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Seorang Kakek di Pamekasan Tewas Terjebak saat Rumahnya Terbakar
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Misi Artemis II Dimulai, Manusia Siap Kembali ke Bulan
• 9 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.