JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali mengatakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ingin menengahi persoalannya dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.
Peristiwa itu terjadi saat Jokowi masih menjabat sebagai presiden dan setelah Kongres ke-III Partai Nasdem yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) 27 Agustus 2024.
“Saya masih ingat Pak Jokowi itu tanya sama saya, ‘Kenapa Pak Ali tidak hadir di Kongres Partai Nasdem?’ Saya bilang saya lagi di Eropa, saya bilang saya tidak lagi (nyaman), saya memilih untuk beristirahatlah,” ujar Ali dalam podcast Gaspol! di YouTube Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Baca juga: Gaspol Hari Ini: Ada Jokowi di Tengah Surya Paloh Versus Ahmad Ali
Kemudian, Jokowi menanyakan apakah Ali sedang ada masalah dengan Surya Paloh.
Saat itu, Ali mengakui memang sedang ada konflik dengan Surya Paloh, namun ia enggan membeberkan apa persoalan itu pada Jokowi.
Lantas, Jokowi menawarkan untuk memanggil Surya Paloh dan menengahi dialog antar keduanya.
“Kalau saya bilang tidak ada masalah pasti Bapak (Jokowi) tidak percaya, tapi apa masalahnya mungkin tidak perlu juga saya harus bicara ke Bapak,” cerita Ali.
“‘Apa perlu saya undang Pak Surya? Hari ini di sini,’ (kata Jokowi). Saya bilang enggak perlu. Bapak (Jokowi) terlalu banyak urusan untuk mengurus hal-hal seperti ini,” sambung dia.
Baca juga: Jokowi Pakai Kode Titip Kaesang untuk Ahmad Ali Gabung PSI
Terakhir, Ali mengungkapkan banyak pihak bertanya pada dirinya apakah sudah berpamitan dengan Surya Paloh sebelum bergabung ke PSI.
Ia menekankan, sejak awal bergabung dengan Partai NasDem di tahun 2013, ia sudah menyatakan bergabung dan berpamitan sekaligus.
Kala itu, Ali menuturkan, meminta komitmen Surya Paloh jika akhirnya pemimpin gerakan restorasi itu berubah, maka ia akan meninggalkan Nasdem tanpa berpamitan.
Sehingga, saat ini Ali merasa tak perlu berpamitan dengan Surya Paloh, karena sikap itu sudah dikatakannya 12 tahun silam.
“Pertanyaannya apakah hari ini Pak Surya berubah? Mungkin perasaan saya berubah, mungkin subyektivitas saya. Sehingga saya tidak merasa punya kewajiban untuk pamitan kepada beliau,” imbuh dia.
Diketahui Ali sempat menjabat sebagai wakil ketua umum Partai Nasdem hingga akhirnya diumumkan masuk sebagai ketua harian PSI pada 26 September 2025.
Setelah bergabung dengan partai yang dipimpin putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep itu, Ali menyatakan PSI harus bisa menang dari Nasdem di Pemilu 2029 mendatang. Jika tidak, ia merasa akan rugi sudah berpindah partai.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



