FAJAR.CO.ID, PANGKEP — Anggota SAR dari Dit Samapta Polda Sulsel, AKP Syarief, bercerita mengenai detik-detik dirinya dan tim menemukan berbagai barang milik penumpang hingga awak pesawat dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung.
Dikatakan Syarief, serpihan pesawat pertama kali ditemukan timnya sekitar pukul 11.00 Wita. Seiring bergerak menuruni lereng, jumlah serpihan yang ditemukan semakin banyak.
Hal ini diungkapkan Syarief saat ditemui di posko AJU Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Minggu (18/1/2026).
“Saya ke bawah, untuk pertama, serpihan yang kami dapat kurang lebih pukul 11.00 Wita, kami menemukan serpihan yang semakin banyak,” ujar Syarief, Minggu malam.
Di lokasi tersebut, tim menemukan beragam barang milik penumpang dan awak pesawat, meski sebagian besar dalam kondisi rusak parah.
“Seperti oksigen, barang penumpang, tas, tapi semua hancur, berkas, laptop, handphone, barang milik pilot karena ada fotonya, sama milik pramugari, ada fotonya,” ungkapnya.
Dari temuan itu, tim semakin yakin bahwa area tersebut merupakan titik utama jatuhnya pesawat. Pencarian kemudian diperluas ke arah bawah lereng.
“Terus kami yakini bahwa inilah titiknya. Kami melakukan melebar pencarian, semua ke bawah,” lanjut Syarief.
Di lokasi lain, tim menemukan bagian kabin dan kursi pesawat yang masih tersusun.
“Kursi itu berjejer, ada enam. Kabin. Ada kepalanya juga di situ,” katanya.
Syarief dan Tim kemudian terus bergerak turun hingga ratusan meter dari titik awal. Di situlah mereka menemukan bagian mesin pesawat yang terpisah dari badan utama.
“Kami terus turun ke bawah kurang lebih 300 meter, itulah kami temukan di situ, mesin terpisah tertancap di tanah,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai temuan lain, Syarief memastikan keberadaan kursi penumpang di beberapa titik.
“Kepala, mesin pesawat, kursi-kursi? Kursi ada enam,” sebutnya.
Dalam operasi tersebut, tim SAR yang terlibat berjumlah puluhan personel dan dibagi ke beberapa sektor pencarian.
“Kami berteman ini, tim, 63 orang. Sampai di puncak kita bagi dua,” kata Syarief.
Karena posisinya paling dekat dengan koordinat jatuhnya pesawat, tim Syarief ditugaskan menyisir sisi selatan lereng gunung.
“Karena kami tim yang paling dekat dengan koordinat pesawat, jadi tim saya mengambil sisi kiri selatan ke bawah,” Syarief menuturkan.
Untuk menjangkau lokasi yang lebih dalam, tim harus menggunakan teknik turun tebing dengan peralatan khusus.
“Kita replik ke bawah menggunakan tali, panjangnya itu tali kan seratus, jadi kami sambung dua jadi 200,” jelas Syarief.
Medan ekstrem membuat pencarian berlangsung sangat berat. Namun, temuan serpihan terus bertambah seiring penurunan.
“Kami menemukan semakin banyak serpihan,” katanya.
Ia menggambarkan kondisi lokasi pencarian sebagai medan yang sangat sulit dan berbahaya.
“Sulit medannya, subhanallah. Di ketinggian mungkin 500, kami temukan kursi,” ujarnya.
Selain itu, tabung oksigen pesawat juga ditemukan berserakan, sebagian besar tidak terbakar.
“Apa itu kalau di pesawat? Oksigen, terhambur tapi tidak terbakar,” kata Syarief.
Ia menyebut, ada beberapa bagian pesawat yang terbakar, namun bukan dari badan utama pesawat.
“Ada memang serpihan terbakar tapi bukan dari badan pesawat,” jelasnya.
Syarief bilang, bagian rangka pesawat ditemukan dalam kondisi rusak berat, sementara badan utama pesawat terbelah.
“Istilahnya rangkaian pesawat tapi bukan badannya kemungkinan karena sudah hangus. Badannya memang besar dan memang terbelah dua,” ungkapnya.
Posisi bagian ekor pesawat juga berada di lokasi yang berbeda.
“Ekor di sebelah barat, ini kan di sana punya tiga bukit puncak, kami berada di puncak satu,” katanya.
Meski menemukan banyak serpihan dan barang milik penumpang, Syarief memastikan timnya tidak menemukan korban jiwa di sektor pencarian mereka.
“Di tim saya, tidak ada menemukan korban. Semua murni barang pesawat. Benda-benda milik penumpang,” kuncinya. (Muhsin/fajar)




