FAJAR.CO.ID, NEW YORK — Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk merebut Greenland dari Denmark kembali memicu gejolak politik global.
Di tengah upaya negara-negara Eropa memperkuat keamanan di kawasan Arktik, Donald Trump justru melancarkan ancaman baru berupa kenaikan tarif dagang terhadap delapan negara Eropa, termasuk Inggris, Norwegia, dan enam anggota Uni Eropa.
Ancaman Donald Trump untuk memberlakukan tarif baru tersebut dinilai sebagai pukulan telak bagi kesepakatan dagang yang dengan susah payah dirajutnya sendiri bersama negara-negara tersebut pada musim panas lalu.
Negara-negara yang kini menjadi sasaran tarif diketahui merupakan pihak yang mendukung atau mengirim pasukan ke Greenland sebagai bagian dari kerja sama penguatan keamanan Arktik.
Untuk pertama kalinya, langkah Trump berpotensi menjadi bumerang. Ancaman itu memicu respons keras yang belum pernah terjadi sebelumnya dari para pemimpin Uni Eropa.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron dan sejumlah pemimpin Eropa lainnya menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk pada intimidasi, perundungan, maupun pemerasan.
Di Parlemen Eropa, situasinya tak kalah panas. Para anggota parlemen hampir dipastikan akan menunda pembahasan kesepakatan dagang AS–UE saat rapat pada Rabu mendatang.
Dua blok suara terbesar, Partai Rakyat Eropa (EPP) serta Sosialis & Demokrat (S&D), menyatakan bahwa perjanjian tersebut tidak dapat disetujui dalam kondisi saat ini.
Blok liberal Renew juga menyatakan dukungan untuk menghentikan sementara proses ratifikasi.
Bahkan, mereka menilai fondasi kesepakatan tersebut sejak awal ‘dibangun di atas pasir’, sehingga rawan runtuh sewaktu-waktu.
Secara teknis, Trump memang dapat menaikkan tarif secara sepihak di pihak Amerika Serikat. Namun ancaman itu mengabaikan fakta bahwa kebijakan perdagangan merupakan kewenangan Brussel.
Negara-negara anggota tidak memiliki ruang untuk membalas atau menegosiasikan ancaman tarif tersebut secara individual.
Kesepakatan dagang AS–UE sendiri disepakati pada Juli lalu di lapangan golf Trump di Skotlandia, di bawah tekanan besar dari sang presiden.
Tarif 0 Persen Produk AS Terancam Ditangguhkan
Meski telah berlaku di Amerika Serikat, tarif 0 persen untuk produk AS hingga kini belum diratifikasi secara hukum di Uni Eropa.
“Kami mendukung kesepakatan dagang UE-AS, tetapi dengan ancaman Donald Trump terkait Greenland, persetujuan tidak mungkin dilakukan saat ini,” ujar pemimpin EPP, Manfred Weber.
Ia menegaskan bahwa tarif nol persen untuk produk AS harus ditangguhkan.
Nada serupa disampaikan Wakil Presiden bidang perdagangan S&D, Kathleen Van Brempt. Menurutnya, “tidak mungkin ada kesepakatan dagang dalam situasi seperti sekarang.”
Sementara itu, kesepakatan dagang Inggris-AS yang diumumkan Mei lalu memang sudah berlaku, tetapi hanya mencakup sejumlah produk terbatas seperti mobil, daging sapi, industri kedirgantaraan, etanol, dan baja. Produk lainnya, mulai dari salmon hingga porselen tulang, tetap dikenai tarif 10 persen.
Ancaman terbaru Trump dipandang sebagai upaya lain dari sosok yang kerap menjadi sekutu sekaligus lawan bagi Eropa.
Dengan senjata andalannya berupa tarif, Trump dinilai berusaha memenangkan perdebatan, memecah belah Eropa, sekaligus membungkam penolakan terhadap ambisinya menguasai Greenland.
Peneliti senior Institut Studi Internasional Denmark, Mikkel Runge Olesen, menilai ancaman tarif tersebut justru menunjukkan bahwa perlawanan Eropa mulai berdampak.
“Saya pikir ini reaksi atas pengerahan pasukan Eropa ke Greenland. Jika dilihat, tarif itu tepat menyasar negara-negara yang mengirim pasukan,” ujarnya kepada Sky News.
Ia menambahkan, “Kita tidak akan pernah melihat pasukan Amerika Serikat benar-benar ditempatkan di Greenland. Ini hanyalah taktik negosiasi.”
Ancaman pada Sabtu (17/1) lalu juga kembali menegaskan rapuhnya setiap kesepakatan dengan Trump.
Namun di sisi lain, langkah tersebut justru membangkitkan semangat Uni Eropa yang selama ini kerap dianggap lemah menghadapi tekanan Amerika Serikat.
Kepala diplomasi Uni Eropa, Kaja Kallas, bahkan mengeluarkan pernyataan keras yang jarang terjadi.
Ia menyindir bahwa “China dan Rusia pasti sedang bersorak gembira” melihat Trump mengancam sekutu-sekutunya sendiri.
Saat ini, Uni Eropa dan Inggris masih terlibat dalam negosiasi sensitif untuk menurunkan tarif yang telah lebih dulu diberlakukan Trump, khususnya pada baja.
Tarif untuk baja Inggris tercatat sebesar 25 persen, sementara produk Uni Eropa mencapai 50 persen.
Pada Desember lalu, Amerika Serikat juga menangguhkan kesepakatan investasi teknologi senilai 31 miliar poundsterling, diduga karena ketidakpuasan terhadap regulasi teknologi Inggris.
Bahkan Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, secara terbuka mengancam Uni Eropa bahwa tidak akan ada kesepakatan penurunan tarif baja jika aturan teknologi tidak dilonggarkan, meski kedua pihak sama-sama berkepentingan menghadapi banjir produk murah dari Tiongkok. (fajar)



