Imajinasi saya di dalam memandang setiap tokoh yang bersidang atau berpidato di Podium PBB yang sakral nun strategis itu, seperti membayangkan setiap tokoh fenomenal pernah berpidato disana sembari berkeluh kesah soal keadaan bangsanya. Namun, yang paling fenomenal bukanlah sebuah sekedar ia tokoh bangsa atau tokoh historis yang pernah berpidato disana, melainkan ucapannya.
Ia adalah Hugo Chávez. Yang pada September 2006 di podium tersebut adalah "And the Devil came here yesterday. Yesterday the Devil came here. Right here. And it smells of sulphur still today." Tentu, Chávez adalah presiden Venezuela yang sekaligus juga entah mempromosikan buku atau bagaimana, dengan memperlihatkan buku Noam Chomsky.
Entah, ada yang tertawa dan sekaligus baper saat pidato Chávez itu, yaitu Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice dan Presiden Sidang Umum PBB Sheikha Haya Rashed Al Khalifa yang tertawa dan tersenyum di belakang Chávez.
Tentu, bukan jalannya sidang itu yang akan kita bahas. Melainkan latar belakang seorang Chávez sebagai Presiden Venezuela. Kini, beberapa hari terakhir, berita mengenai Venezuela tidaklah sedikit. Kumparan pada 5 Januari 2026 memberitakan Maduro Ditangkap, Trump Klaim AS Sudah Kuasai Venezuela dan tentu saja kata kunci yang selalu keluar apabila membahas Venezuela, apabila bukan Chávez maka soal "minyak". Apa yang mengganjal di urusan dalam negeri Venezuela yang ternyata koCháveznsekuensi dari kebijakan lama Chávez?
Variabel Penting Venezuela
Variabel itu kita sebut saja A,C,R,C. Supaya tidak masuk dalam kerangka matematis seperti X1,X2,X3 dan X4. Namun, penting untuk melihat bagaimana kebijakan Chávez itu ternyata ada pengaruh kepada Amerika (A), Castro atau Cuba (C1), Rusia (R) dan China (C2). Namun, pembuka jalan yang sesungguhnya adalah Castro yang merupakan simbol Perang Dingin atau simbol Anti-Amerika yang masih hidup setelah Fukuyama menuliskan The End of History.
Salim Said pernah berkata pada 2016 bahwa Kuba akan menjadi kapitalis dan beberapa negara di Eropa Timur sudah ada yang bergabung dengan NATO, dan negara yang paling unik adalah Komunis Kerajaan yaitu Korea Utara. Artinya, negara Komunis yang masih eksis akan euforia Perang Dingin salah satunya Kuba yang saat itu sebelum 2008 masih diwakili oleh Castro.
Namun, mengapa Castro menjadi pembuka jalan ini? Pada 2 Februari 1999, Fidel Castro hadir di Istana Misaflores, Venezuela. Sehari setelahnya, ia berpidato disana dengan pidato yang beraroma populis dan juga revolusioner. "Raise your flags high so that they can be seen in the United States, so that they may see what Chavez is doing to support the young people." ucap Castro saat itu menyinggung Amerika yang mana Castro adalah sebuah simbol memalukan Amerika Serikat yaitu kegagalan Teluk Babi di masa CIA dipimpin oleh Allen Dulles dan Presiden John F. Kennedy.
Fakta bahwa saat itu blok Komunis sudah runtuh dengan keruntuhan Uni Soviet itu sendiri, namun kesimpulan kita pertama adalah bahwa terbukanya pintu masuknya negara lain ke Venezuela adalah Chávez, sehingga kita melihat per hari ini masuknya AS dalam intervensi ke Venezuela hingga media memperlihatkan euforia kebanggaan dari masyarakat itu sendiri akan penangkapan Maduro oleh Trump, barangkali kita akan melihat cermin masa lalu mereka. Tetapi, ini masih simplistis.
Seperti yang dikatakan oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yaitu How Democracies Die, bahwa kematian demokrasi itu sendiri justru terjadi dengan cara yang demokratis. Namun, dalam kaitannya dengan Castro, seorang jurnalis Venezuela bernama Orlando Avendaño, menulis editorial berjudul Días de Sumisión yang terbit pada 2018, mengatakan bahwa gerbang utama dalam kekalahan demokrasi di Venezuela oleh Castro. Dan dalam kata pengantarnya, ia berani mengatakan bahwa yang berkuasa saat itu bukanlah Chávez, melainkan Castro pada 1999.
Namun, ini menjadi penting dikarenakan ada relasi yang sudah ada antara Venezuela dengan Amerika Serikat dan contohnya adalah United States Drug Enforcement Administration (DEA). Namun, Chávez memutuskan hubungan itu pada Agustus 2005. Lalu, 16 November 2025, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah membuat pernyataan bahwa Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing (FTO). Kenapa penting? Ini karena sebelum DEA berakhir oleh Chávez, AS nyaris sama sekali tidak pernah konsentrasi akan organisasi tersebut, setelah Chávez, itu menjadi organisasi penting yang kemudian diberikan cap sebagai teroris.
Tetapi, variabel penting untuk membuka relasi dengan bebuyutan Amerika adalah Chávez itu sendiri dengan membuka relasi dengan Rusia dan China. Rusia misalnya, menandai awal hubungan itu dengan kaitannya transaksi senjata, yang mana Chávez membeli senjata kepada Rusia. Relasi dengan China sendiri adalah juga sama berlangsung di era Chávez. Namun yang menentukan semua itu terjadi, barangkali hanya satu : minyak.
Tentunya, sikap Amerika terhadap Venezuela, tidak bisa sekedar bahwa Venezuela dibawah Chávez adalah karena dia berwatak sosialis atau yang dikenal sebagai Chavismo tersebut. Melainkan karena masuknya Rusia dan China juga sebagai lawan politik Amerika Serikat yang sejak Perang Dingin itu juga mempengaruhi. Namun, apa yang terjadi pada Maduro kini, penting untuk memahami kiranya bagaimana Maduro adalah legacy dari Chávez itu sendiri. Sebab, ketika meninggalnya Chávez karena kanker tersebut, bahwa Wakil Presiden Nicolas Maduro akhirnya menjadi keberlanjutan dari Chávez.
Tidak ada yang berubah signifikan sampai akhirnya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt menuliskan bagaimana demokrasi itu mati, karena cara yang demokratis pula. Namun, empat variabel ini jika ditemukan satu garis, bahwa semuanya nyaris karena satu hal tadi : minyak. Apakah Venezuela bisa dijadikan studi kasus dalam perspektif Acemoğlu dan Robinson, bahwa faktor yang disebut sebagai negara itu makmur bukan semata karena sumber daya alam melainkan institusi yang inklusif?
Namun, muncul pula pertanyaan, apakah benar bahwa Venezuela bisa kita katakan apa yang disebut Michael L. Ross bahwa ada yang disebut sebagai "Does Oil Hinder Democracy" atau dengan "The Political Economy of the Resource Curse"?
Membaca Kembali Geografi
Pertanyaan dasar yang diajukan oleh Acemoğlu dan Robinson dalam bukunya Why Nations Fail yaitu apa yang menyebabkan negara maju? Tentu, buku itu dilandasi teori atau semacam membantah hipotesis yang sudah ada. Pemikir yang dibantah pun bukan sekedar asal bantah, melainkan tokoh yang juga menulis buku dengan kosakata yang cukup padat. Antara lain hipotesis yang dibantah adalah geografi, yang dibawakan oleh Jeffrey Sachs dan juga buku yang cukup tebal mengenai sejarah panjang mengenai tumbuh - tumbuhan yaitu Guns, Germs & Steel oleh Jared Diamond.
Hipotesis kemiskinan yang juga dibantah lalu ada hipotesis kebudayaan, yang mana membantah Weber soal The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, sebuah buku yang akan dan memang wajib dipelajari di dalam jurusan sosiologi. Hanya satu hipotesis yang disisakan yaitu institusi dan itu memang yang menjadi landasan di dalam pembahasan bukunya. Selain contoh soal Nogales, Sorona dan Nogales, Arizona, juga yang dibahas adalah dua suku di Sungai Kasai yaitu Lele dan Bushong.
Yaitu lingkungan, iklim, teknologi dan secara letak nyaris sama. Begitu pula dengan Korea Utara dan Korea Selatan, misalnya. Tapi, bagaimana juga bisa kita bisa menjelaskan bahwa Singapura bisa maju tanpa sumber daya alam? Apakah kita bisa mengatakan secara sementara benar, bahwa ada semacam kutukan akan negara yang dikaruniai oleh sumber daya alam yang melimpah sehingga tidak terjadi yang namanya ekonomi inklusif? Bahkan dalam konteks Venezuela, politik ekonomi yang diperebutkan saat kudeta Chávez di 2002 adalah dengan melakukan pemecatan puluhan ribu pekerja PDVSA (Petróleos de Venezuela, S.A.) yang bisa dikatakan BUMN bidang minyak di Venezuela.
Bisa dilihat dalam beberapa data, salah satunya World Bank, yaitu sejarah pendapatan Venezuela dari minyak terhadap GDP mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Mirip seperti dengan Orde Baru dengan segala kebijakan yang berdampak dari "Booming Oil" dibawah Ibnu Sutowo saat itu. Namun, saya ingin memberikan sebuah spidol besar dari Michael L. Ross maupun Acemoğlu dan Robinson adalah bahwa institusi maupun sumber daya alam itu dialektis di dalam mempertahankan sistem politik di Venezuela itu sendiri.
Jika kita membaca Jared Diamond, bahwa negara itu ataupun peradaban bisa maju karena geografi itu sendiri. Tentu ia determenistik di dalam geografi itu sendiri. Buku Jared Diamond itu tentu diawal dengan pertanyaan "Why is it that you white people developed so much cargo, but we black people had little cargo of our own?", sehingga ia berkelana seluruh dunia menjelaskan kaitan antara kuman, besi dan baja itu sendiri.
Tetapi, saya sendiri, melihat bahwa geografi yang deterministik sebagai pengaruh utama di dalam menjelaskan mengapa ada persaingan pasar yang sempurna atau pasar yang tidak monopolistik maupun oligopoli, itu dikarenakan kompetisi. Namun, membaca Revolusi Industri itu sendiri yang terjadi Inggris itu sendiri, selain revolusi politik yang ada di abad ke-17 dan kemudian berkembang di abad ke-18 sampai dengan abad ke-19 dengan ekonomi yang tumbuh dengan standar betonisasi pabrik itu sendiri begitu masif di Inggris.
Itu terjadi karena memang begitu terjadi persaingan dan tentu saja eksploitasi akan sumber daya alam memang akan terjadi tapi sumber daya alam di dalam negeri atau bahkan melakukan dagang di wilayah Blambangan (Banyuwangi, sekarang) pada abad ke-18 itu sendiri. Sri Margana dalam bukunya Ujung Timur Pulau Jawa, 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan, mencatat hal tersebut bahwa perdagangan yang terjadi di dekat Blambangan, sekarang Banyuwangi itu adalah contoh persaingan sehingga East India Company (EIC) itu bahkan berani berdagang di wilayah yang secara geografi dekat dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Tentu argumentasi soal institusi lebih mempengaruhi, adalah dalam konteks perlindungan hukum akan pabrik atau perusahaan yang melakukan investasi. Dan, kutukan geografi itu sendiri dengan hipotesis bahwa sumber daya alam yang ada, akan di ekspor secara bahan mentah tanpa diolah. Pola pikir itu determinstik keraguan akan sumber daya manusia yang mengolah sumber daya alam itu sendiri, baik mineral maupun minyak itu sendiri. Karena slogan seperti negara yang sumber daya melimpah itu menganggap bahwa cadangan besar sehingga pemasukan bisa dari sumber daya alam tanpa persaingan sehingga yang terjadi adalah perjuangan politik yang determinan untuk sumber daya alam itu sendiri.
Penjelasan politik atas kutukan sumber daya tentu saja disoroti dari beberapa hal antara lain kognitif, sosial dan yang terpenting adalah sentralitas negara di dalam ekonomi yang mana negara sebagai penjaga sumber daya alam itu sendiri dan mustahilnya terjadi persaingan secara swasta dan kompetisi layaknya yang dikatakan oleh Acemoğlu dan Robinson. Sehingga, variabel sebelumnya yaitu Castro dan Chávez sendiri penting juga bahwa baik apapun sistem ekonominya, tetap saja determinstik kepada sumber daya alam itu sendiri yaitu : minyak.
Karena itu, bisa kita katakan bahwa persaingan yang tidak terjadi secara ekonomi, barangkali disebabkan pentingnya minyak di Venezuela dengan rekam jejak nasionalisasi perusahaan minyak yaitu pada 1 Januari 1976 yang mana langkah itu diambil oleh Carlos Andrés Pérez. Tentu saja, peran negara atau perebutan negara itu lebih menarik. Tetapi, apa yang bisa melanggengkan peran negara ini? Apakah cukup seorang Presiden yang tegas begitu saja tanpa alat negara? Tentu, perusahaan yang dikuasai negara tidak otomatis, melainkan apakah digunakan politisasi atau teknokrasi? Itu juga bergantung bagaimana watak institusi yang dikembangkan.
Militer dan Sumber Daya Alam
Namun, apa yang bisa menjelaskan bahwa dalam konteks Venezuela itu sendiri menarik apakah militer juga bagian dari yang mempertahankan sistem kekuasaan ekstraktif itu sendiri? Penting memulai dari seorang Chávez, bahwa dia adalah bagian dari militer yang menang akan demokrasi. Bahkan, setelah mogok PDVSA 2002 itu, militer mulai masuk.
Yang relevan dan terbaru membahas ini adalah OCCRP yang menulis sebuah laporan berjudul How Venezuela Bought Military Loyalty pada 10 April 2020. Bagaimana menjelaskan hal ini? Tentu saja memang dimulai dari Chávez itu sendiri dengan Bolívar itu. Bahwa ditariknya militer dengan tugas - tugas yang berkaitan dengan ekonomi seperti pelabuhan,PDVSA ataupun kegiatan ekonomi lainnya. Maduro pun juga demikian, bahwa banyaknya perwira aktif dan juga pensiunan menduduki kursi gubernur dan juga kementerian, lalu menjalankan perusahaan negara.
Jauh sebelum Chávez maupun Maduro itu sendiri, David Reeve memperlihatkan dalam bukunya Golkar Sejarah Yang Hilang : Akar Pemikiran & Dinamika, bahwa nasionalisasi oleh Soekarno pada dekade 1950-an itu adalah dengan memberikan militer porsi ekonomi juga dalam mengelola perusahaan - perusahaan negara dan juga banyak yayasan serta koperasi. Hal itu juga terkonfirmasi di dalam buku Richard Robison berjudul Soeharto dan Bangkitnya Kapitalisme Indonesia , yang juga memperlihatkan peran militer di dalam dua perusahaan strategis yaitu Bulog dan Pertamina dikelola oleh militer itu sendiri.
Tetapi, itu perspektif sejarah, bagaimana dari perspektif sosial, yaitu kaitan antara militer, sumber daya alam dan juga menjadi diktator bahwa militer menjadi legitimasi bertahannya sebuah rezim yang ekstraktif tersebut? Acemoğlu bersama dengan Davide Ticchi dan Andrea Vindigni, menulis A Theory of Military Dictatorship. Yang menarik bukan sekedar teorinya, melainkan kutipan awal di jurnal tersebut, yaitu mengutip Gaetano Mosca yaitu ilmuwan politik Italia yang sejajar dengan Pareto dan Robert Michels.
Kutipannya di awal jurnal tersebut adalah bahwa “kelas yang memanggul tombak atau memegang senapan secara teratur memaksakan kekuasaannya atas kelas yang mengolah cangkul atau menggerakkan alat tenun.” Maka, bisa dipahami bahwa bertahannya rezim militer dan ekonomi bahwa kekuatan senjata (juga sebagaimana poin penting Jared Diamond yaitu Gun), bisa memaksa para ekonomi - ekonomi itu sendiri.
Tapi, kajian Acemoğlu tentu pendekatan yang matematis, namun bisa dimudahkan bahwa dalam diktator militer, bisa dikatakan bahwa paradigma militer itu berbeda dengan yang dipahami sebagai alat negara yaitu mereka juga bagian dari aktor rasional yang memiliki kepentingan, selain juga mereka bagian dari kelas yang menjaga negara. Rezim non demokratis itu sendiri bisa dilihat dua yaitu elit sipil dan militer sebagai alat, tentu saja elit itu adalah oligarki dengan segelintirnya.
Lalu, juga ada militer yang berkuasa langsung, yaitu sebuah militer sebagai kelas yang memiliki keistimewaan dalam memegang senjata sekaligus juga kelas yang memiliki kepentingan itu sendiri. Namun, rumusan matematis itu berkesimpulan bahwa transisi demokrasi itu justru harus dijaga dengan serius, mengapa? Karena demokratisasi pasti berdampak pada militer dan juga militer harus dilakukan yang namanya reformasi, lalu juga ada ancaman kudeta itu sendiri.
Itu yang menjelaskan mengapa bisa ada kudeta begitu banyak di Mesir sebelum El Sisi atau juga di Thailand itu sendiri, bahwa militer atau ketika ada kudeta pertanyaan menuju kepada militer. Sumber daya alam yang kaitannya dengan militer adalah bahwa karena militer telah di desain sebagai alat negara, apabila negara menguasai perekonomian yang sentralistik, tentu militer mendapatkan utilitas itu sendiri. Maka, penting melihat Venezuela dan kaitannya dengan Chávez dan warisannya yang berdampak kepada Maduro itu sendiri. Sebagai penutup, apakah kita bisa mengatakan bahwa sumber daya alam adalah sebuah tantangan yang jika gagal maka kita akan menganggap itu kutukan? Sehingga terjadi dinamika Amerika Serikat dengan Maduro itu sendiri?
Lantas, mengapa kemudian penangkapan Maduro justru deterministik kepada sumber daya alam? Apakah sama saja, seperti apa yang disoroti bahwa pada Februari 1999, ketika Castro mendatangi Venezuela dan berpidato, maka sebenarnya ini hanya persoalan pada pergantian kepentingan ekonomi sembari juga panasnya suhu geopolitik antara blok Amerika Serikat yang kembali pada Trumpisme dengan negara lainnya?




