GenPI.co - Antrean panjang di bawah piramida kaca rancangan I.M. Pei di Paris telah lama menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengalaman berkunjung ke Museum Louvre, layaknya ritual melihat lukisan Mona Lisa.
Dilansir AP News, Sabtu (17/1), kini pengalaman tersebut menjadi makin mahal.
Museum Louvre resmi menaikkan harga tiket masuk bagi sebagian besar pengunjung non-Eropa hampir 50 persen.
Hal itu bertujuan memperkuat keuangan di tengah serangkaian tantangan, mulai dari pemogokan berulang, pengunjung membeludak, hingga pencurian permata mahkota Prancis.
Harga tiket naik dari 22 euro menjadi 32 euro (sekitar USD 37 dolar).
Pihak museum menyebut kebijakan ini merupakan bagian dari sistem "penetapan harga berbeda" tingkat nasional yang diumumkan tahun lalu.
Sejumlah pengunjung turut menyuarakan kekhawatiran.
"Budaya seharusnya terbuka untuk semua orang dengan harga yang sama," ujar Laurent Vallet, wisatawan asal Burgundy.
Kenaikan harga ini berlaku bagi pengunjung dari sebagian besar negara di luar Uni Eropa, termasuk Amerika Serikat, yang selama ini menjadi sumber utama wisatawan asing Louvre.
Berdasarkan struktur baru, pengunjung non-Uni Eropa, kecuali dari Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia, akan dikenakan tarif lebih tinggi.
Untuk pengunjung kelompok bersama pemandu, tarif ditetapkan 28 euro dengan batas maksimal 20 orang demi menjaga kualitas kunjungan.
Meski begitu, tidak semua wisatawan menolak kebijakan ini.
"Ini salah satu daya tarik utama Paris. Kami akan tetap datang," kata Allison Moore, turis asal Kanada.
Namun, ada pula yang mempertanyakan logikanya.
"Seharusnya harga tidak lebih mahal, mengingat kami harus menempuh perjalanan jauh," ujar Darla Daniela Quiroz dari Vancouver.
Serikat pekerja CGT Culture menilai kebijakan ini mengubah akses terhadap budaya menjadi produk komersial dan menciptakan ketimpangan dalam menikmati warisan nasional. (*)
Video populer saat ini:



