TABLOIDBINTANG.COM - Jessica Iskandar angkat bicara mengenai pengalaman traumatis yang selama bertahun-tahun ia simpan rapat. Perempuan berusia 37 tahun itu menceritakan kejadian pelecehan seksual yang dialaminya saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Pengakuan tersebut disampaikannya dalam acara Pagi-pagi Ambyar, Kamis, 15 Januari 2026.
Keberanian Jessica untuk membuka kisah kelam masa kecilnya bermula setelah ia membaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Dari sanalah, ibu tiga anak ini merasa terdorong untuk berbagi cerita agar menjadi pembelajaran bagi banyak orang.
Jessica mengungkapkan, kejadian itu melibatkan seorang pria yang merupakan sahabat dekat ayahnya. Sosok tersebut kerap datang ke rumah dan awalnya tidak menimbulkan kecurigaan. “Kalau masa kelam saat kecil, aku pernah waktu masih TK. Jadi papa aku itu punya teman yang selalu datang ke rumah,” ujar Jessica.
Menurutnya, sikap pria tersebut semula terlihat wajar. Ia sering memeluk dan memuji Jessica kecil dengan nada penuh kegemasan. “Dan entah kenapa dia tuh selalu gemes banget ngelihat aku ‘lucu banget, sini pangku sama om,'” tuturnya.
Bahkan, kebiasaan mencium pipi Jessica di depan orang tuanya dianggap sebagai bentuk kasih sayang semata. “Terus udah gitu dia tuh sering banget ciumin pipi aku kalau ketemu. Mungkin orang tuaku ngeliatnya mungkin sayang anak gitu, gemas,” tambahnya.
Situasi berubah drastis ketika pria tersebut masuk ke ruang pribadi Jessica. Peristiwa itu menjadi titik awal trauma mendalam dalam hidupnya. “Tiba-tiba dia datang ke kamar aku, dia lihat kamar aku. Tiba-tiba cium pipi aku, habis itu tiba-tiba dia cium mulut aku,” ungkap istri Vincent Verhaag itu.
Sebagai anak kecil, Jessica mengaku sangat terpukul dan ketakutan atas kejadian tersebut. “Itu aku langsung syok, aku masih kecil, mulut aku tiba-tiba dilumat-lumat. Itu rasanya aku langsung nangis,” paparnya.
Dalam kondisi penuh ketakutan, Jessica memberanikan diri mengadu kepada sang ibu. Namun, respons yang diterimanya justru membuat luka batinnya semakin dalam. “Terus aku cerita sama mama, tapi sayangnya mungkin orang tuaku terlalu positif thinking, jadi mama papa aku tuh nggak percaya. Enggak mungkin katanya,” ucapnya.
Perasaan tidak dipercaya itu menjadi trauma kedua bagi Jessica. Ia merasa pengalamannya diabaikan, meski rasa sakit tersebut nyata ia alami. “Jadi aku di situ tuh ada sedikit perasaan aku nggak dipercaya padahal itu terjadi sama aku dan itu menyakitkan aku banget,” pungkasnya.

