Maraknya minuman viral seperti matcha latte dan pure matcha di media sosial telah menjadikan matcha lebih dari sekadar minuman. Di kalangan anak muda, matcha kini menjelma sebagai bagian dari gaya hidup karena menggabungkan aspek kesehatan, estetika visual, hingga pengalaman sosial di ruang-ruang publik seperti coffee shop.
Matcha tidak lagi dipandang sebagai warisan tradisi Jepang semata, tetapi sebagai simbol tren modern yang merepresentasikan selera generasi masa kini.
Popularitas matcha tak lepas dari peran media sosial dan influencer. Beragam konten yang menampilkan matcha—mulai dari video “aesthetic coffee shop”, review minuman, hingga daily vlog—secara masif beredar di platform digital.
Influencer sering kali membagikan pengalaman menikmati matcha sekaligus mengaitkannya dengan manfaat kesehatan, seperti kandungan antioksidan dan efek relaksasi. Hal ini secara tidak langsung mendorong anak muda untuk ikut mencoba dan menjadikan matcha sebagai pilihan minuman favorit.
Salah satu penggemar matcha, Naura Al Faria Fara—seorang mahasiswi jurusan Gizi di Universitas PGRI Yogyakarta—mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada matcha bukan hanya karena tren, melainkan juga karena rasa dan variasinya.
“Matcha tuh rasanya enggak ngebosenin. Kalau lagi ke coffee shop, aku suka beli matcha karena di setiap tempat rasanya beda-beda, jadi sekalian tahu,” ujarnya saat ditemui (12/12).
Naura mengaku cukup sering mengonsumsi matcha. Ia biasanya membeli matcha saat sedang berkumpul dengan teman-teman di coffee shop untuk mengerjakan tugas, sekitar satu hingga dua kali dalam sepekan, terutama di akhir pekan.
Menurutnya, tekstur matcha yang lembut dan rasa yang tidak terlalu manis menjadi daya tarik utama. “Sekarang matcha juga sudah banyak variannya, jadi bikin pengin terus coba,” tambahnya.
Tak hanya soal rasa, matcha juga memberikan pengaruh pada suasana hati. Naura merasa lebih bersemangat saat mengerjakan laporan praktikum dan tugas kuliah ketika mengonsumsi minuman manis seperti matcha.
Selain itu, tampilan visual matcha yang hijau cerah juga menjadi nilai tambah. “Warnanya cantik, estetik banget dilihat. Apalagi kalau kemasannya lucu,” ujarnya. Ia juga menilai kemudahan membuat matcha di rumah turut mendorong popularitas minuman ini di kalangan anak muda.
Di balik tren modern tersebut, matcha memiliki sejarah panjang yang cukup kompleks. Dalam penelitian Senanayake (2013) berjudul Green Tea Extract: Chemistry, Antioxidant Properties and Food Applications, dijelaskan bahwa teh bubuk yang menjadi cikal bakal matcha pertama kali berkembang pada masa Dinasti Song di Tiongkok.
Pada masa itu, teknik menggiling daun teh menjadi bubuk halus mulai digunakan untuk diseduh sebagai minuman. Tradisi tersebut kemudian dibawa ke Jepang dan berkembang menjadi bagian penting dari budaya minum teh, terutama dalam upacara minum teh Zen.
Seiring berjalannya waktu, nilai tradisional matcha bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Kini, matcha hadir dalam berbagai bentuk olahan, mulai dari minuman, dessert, hingga makanan berat. Fenomena ini juga dirasakan langsung oleh pelaku industri kopi.
Pada Jum’at (12/12) seorang barista di sebuah coffee shop, Rizal Firdaus, menyebutkan bahwa matcha sebagai salah satu menu yang konsisten diminati. “Matcha itu stabil penjualannya dan jadi best seller karena banyak anak muda yang suka,” ujarnya.
Kebetulan coffee shop tersebut mempunyai sister brand yang menjual burger. Di sana, burger tidak hanya disajikan sebagai makanan yang basic, tetapi juga diolah menjadi menu unik, seperti burger beef matcha.
Rizal—yang memiliki pengalaman bekerja di berbagai kafe—menunjukkan bahwa penjualan matcha relatif stabil, meskipun tetap dipengaruhi oleh grade dan merek bubuk matcha yang digunakan.
“Pengaruhnya ke pemasukan cukup terasa. Kalau bahan lain biasanya repurchase sebulan sekali, matcha bisa dua kali sebulan,” jelasnya. Hal ini menunjukkan tingginya permintaan terhadap produk berbasis matcha.
Rizal juga menilai bahwa matcha masih sangat relevan untuk dikembangkan. Fleksibilitasnya memungkinkan matcha diolah menjadi berbagai varian, seperti dirty matcha atau dirty latte.
Sementara itu, dari sudut pandang perilaku konsumen, Erwan Sudiwijaya, S.Sos, MBA, M.A—pengamat sekaligus praktisi pemasaran—menyebut bahwa anak muda bisa mengenal dan memilih matcha karena adanya pengaruh content creator.
“Karakter Gen Z itu lebih peduli kesehatan, tapi estetika juga penting. Matcha dianggap minuman yang sehat dan trendy, jadi cocok dengan gaya hidup mereka,” ujarnya.
Erwan menambahkan bahwa algoritma media sosial turut berperan besar dalam menyebarkan tren matcha. Ketika konten matcha mendominasi linimasa, minuman ini menjadi sesuatu yang tampak baru dan menarik. “Informasi dari media sosial sangat memengaruhi keputusan beli,” katanya.
Ia juga membedakan motivasi konsumsi matcha antara kebutuhan dan keinginan. Konsumen yang membeli matcha karena manfaat biasanya akan mencari informasi terlebih dahulu.
Sebaliknya, mereka yang membeli karena keinginan atau FOMO cenderung mudah tergoyahkan oleh tren minuman baru. “Lebih banyak yang beli matcha karena estetika. Ke depan, bisa saja muncul tren minuman lain,” jelasnya.
Faktor lain yang memengaruhi pembelian matcha adalah kemasan dan suasana kafe. Warna hijau matcha yang mencolok dianggap menarik secara visual dan mudah dipromosikan di media sosial.
Meski demikian, Erwan menilai tren matcha tidak sepenuhnya bersifat permanen. “Konsumsi matcha mungkin akan menurun, tapi tetap akan ada loyalis yang bertahan karena memang menyukai manfaatnya,” pungkasnya.
Fenomena matcha hari ini menunjukkan bagaimana sebuah produk tradisional dapat beradaptasi dan bertahan di tengah arus budaya populer. Di tangan generasi muda, matcha bukan hanya minuman, melainkan juga representasi identitas, selera, dan gaya hidup yang terus bergerak mengikuti zaman.




