Nama Thomas Djiwandono kembali mencuat ke publik. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) itu diusulkan Presiden Prabowo Subianto sebagai kandidat Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Pria yang akrab disapa Tommy itu masuk dalam daftar tiga nama yang akan mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR.
Menanggapi isu tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dukungannya. Ia justru melihat wacana perpindahan Tommy dari Kementerian Keuangan ke Bank Indonesia sebagai hal positif, terutama dalam rangka memperkaya pengalaman lintas kebijakan fiskal dan moneter.
“Tanggapan saya gimana? Ya baguslah, biar Pak Thomas punya pengalaman lebih luas lagi. Sudah di fiskal, sekarang kalau masuk kan ke moneter, kan bagus. Saya mendukung,” ujarnya kepada wartawan di Kompleks Parlemen RI, Senin (19/1).
Isu ini kian menguat seiring beredarnya kabar bahwa posisi Tommy di Kementerian Keuangan berpotensi diisi oleh Deputi Gubernur BI Juda Agung. Purbaya mengaku telah mendengar kabar tersebut dan berencana bertemu langsung dengan Juda Agung untuk memastikan rencana serta niatnya.
“Kelihatannya begitu, saya dengar juga begitu (Juda Agung menjadi Wakil Menteri Keuangan). Nanti saya mau ketemu dengan Pak Juda besok kali ya. Saya mau lihat niatnya dia apa sih,” katanya.
Profil Thomas Djiwandono
Dia lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Ia merupakan putra sulung dari Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati. Dengan latar belakang tersebut, Tommy juga merupakan kakak dari Budisatrio Djiwandono yang kini duduk sebagai anggota Komisi IV DPR RI.
Dari garis keluarga, Tommy memiliki hubungan darah langsung dengan Prabowo Subianto melalui sang ibu, yang merupakan kakak kandung Prabowo sekaligus anak dari R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI 45. Sementara itu, ayahnya dikenal sebagai mantan Gubernur Bank Indonesia yang saat ini mengajar di Nanyang Technological University, Singapura.
Dalam kehidupan pribadi, Tommy telah menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Latar belakang pendidikannya pun terbilang beragam. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana studi sejarah di Haverford College, Pennsylvania, lalu melanjutkan pendidikan magister di bidang International Relations and International Economics di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington.
Karier profesional Tommy dimulai dari dunia jurnalistik. Ia sempat menjadi wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993, kemudian menjadi wartawan Indonesia Business Weekly pada 1994. Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai analis keuangan di Whitlock NatWest Securities, Hong Kong.
Pada 2006, Tommy beralih ke dunia korporasi dengan menjabat sebagai Deputy CEO Arsari Group, sebuah perusahaan yang bergerak di sektor agribisnis. Di ranah politik, ia pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di Provinsi Kalimantan Barat.
Selama kiprahnya di politik, Tommy tercatat aktif membantu Prabowo Subianto, termasuk saat Prabowo mengikuti kontestasi Pilpres 2014 melawan Joko Widodo. Kala itu, Tommy berperan dalam mengkoordinasikan kebutuhan logistik Koalisi Merah Putih (KMP).
Tommy juga sempat menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra, yang juga didirikan oleh pamannya, Prabowo Subianto.
Tommy resmi diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 18 Juli 2024 di Kabinet Indonesia Maju, ketika Indonesia masih dipimpin Presiden Joko Widodo. Perannya kemudian dilanjutkan dalam Kabinet Merah Putih sejak Oktober 2025, dengan posisi yang sama.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5448398/original/079089700_1766028239-IMG_5739.jpg)