Beijing: Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diproyeksi melambat ke level terendah dalam tiga tahun pada kuartal keempat karena permintaan domestik melemah. Meskipun laju setahun penuh diperkirakan mendekati target, ketegangan perdagangan dan ketidakseimbangan struktural menimbulkan risiko signifikan terhadap prospek tersebut.
Perekonomian terbesar kedua di dunia sempat menunjukkan ketahanan pada awal 2025, dibantu oleh pengenaan tarif AS yang lebih kecil dan dorongan para eksportir untuk melakukan diversifikasi dari AS, sehingga memungkinkan para pembuat kebijakan untuk menjaga stimulus pada tingkat yang moderat.
Namun, Beijing menghadapi tantangan terbesarnya, bukan sekadar menjaga perekonomiannya tetap stabil dalam jangka pendek, karena kerentanan struktural yang mendalam menambah tekanan tanpa henti dari pemerintahan Trump yang bertekad untuk mengekang upaya Tiongkok membangun skala global di bidang-bidang utama termasuk kecerdasan buatan dan manufaktur teknologi tinggi.
Mengutip Investing.com, Senin, 19 Januari 2026, jajak pendapat Reuters memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Tiongkok hanya tumbuh 4,4 persen (yoy) pada kuartal keempat 2025, melambat dari 4,8 persen pada kuartal ketiga.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok di kuartal terakhir 2025 itu merupaakan laju terlemah sejak kuartal keempat 2022 ketika ekonomi masih dibatasi oleh pembatasan pandemi, karena konsumsi dan investasi melemah meskipun ekspor tetap tangguh.
Survei tersebut juga menemukan ekspansi ekonomi setahun penuh Tiongkok diperkirakan hanya mencapai 4,9 persen (yoy), sebagian besar memenuhi target resmi sekitar 5,0 persen. Namun, perekonomian Tiongkok secara keseluruhan itu melambat dibandingkan 2024 yang berhasil tumbuh 5,0 persen.
Baca juga: Asia Diprediksi Tetap Jadi Mesin Pertumbuhan Global di 2026
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Ekonomi rapuh karena ketergantungan pada permintaan eksternal
Mesin manufaktur Tiongkok yang perkasa memberikan dorongan ekonomi yang sangat dibutuhkan. Pekan ini, negara tersebut melaporkan surplus perdagangan rekor hampir USD1,2 triliun pada 2025, didorong oleh ekspor yang meningkat pesat ke pasar non-AS karena para produsen melakukan diversifikasi untuk mengimbangi tekanan tarif dari Washington.
Namun, ketergantungan pada permintaan eksternal menggarisbawahi kerentanan dalam perekonomian Tiongkok, yang sedang bergulat dengan lemahnya pengeluaran domestik di tengah kemerosotan pasar properti yang berkepanjangan dan tekanan deflasi yang terus-menerus.
Secara triwulanan, perekonomian diperkirakan tumbuh 1,0 persen pada kuartal keempat 2025, dibandingkan dengan 1,1 persen pada Juli-September (kuartal III-2025). Pemerintah dijadwalkan merilis data PDB kuartal keempat dan setahun penuh, bersamaan dengan data aktivitas Desember, pada hari Senin waktu setempat.
Jajak pendapat Reuters memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan melambat menjadi 4,5 persen pada 2026, menambah tekanan untuk stimulus lebih lanjut karena para pembuat kebijakan berupaya mengatasi kerentanan struktural untuk mendukung kesehatan jangka panjang negara tersebut.
Sebagai dorongan awal bagi permintaan, Bank Sentral Tiongkok mengumumkan pada Kamis pemangkasan suku bunga sektoral dan tetap membuka kemungkinan untuk pengurangan lebih lanjut dalam persyaratan cadangan kas bank dan pemangkasan suku bunga secara lebih luas.
"Pertumbuhan kemungkinan akan tetap lemah pada kuartal pertama tahun 2026, karena paket kebijakan menawarkan dukungan ekonomi yang terbatas," kata analis di ANZ dalam sebuah catatan.


