Menyebut orang Indonesia sebagai pencinta kopi sepertinya bukan lagi sekadar stereotip. Sebab, belum lama ini, muncul data terbaru yang menguatkan anggapan tersebut.
Berdasarkan database global Point of Interest (POI) yang memetakan lokasi kafe dan kedai kopi di seluruh dunia, Indonesia resmi menyandang predikat sebagai negara dengan jumlah tempat ngopi terbanyak di dunia per November 2025.
Informasi ini dibagikan melalui unggahan Instagram Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) @aksi_scai. Mengacu pada data riset industri dan analisis tren dari OpenStreetMap, tercatat Indonesia memiliki 461.991 titik lokasi kedai kopi yang tersebar dari kota besar hingga daerah-daerah yang sebelumnya jarang tersentuh industri kopi modern.
Fenomena ngopi yang kian menguat ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat, kopi juga tetap menjadi primadona di tengah tekanan ekonomi. Fox News Digital melaporkan bahwa pertumbuhan kedai kopi juga terus terjadi, meskipun masyarakat mulai memperketat pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, ketika sejumlah bentuk hiburan dan kemewahan harian memang mulai dikurangi, kopi tampaknya menjadi pengecualian. Laporan Placer.ai pada 18 Desember mengungkapkan bahwa jaringan kedai kopi di Amerika Serikat mencatat pertumbuhan kunjungan dari tahun ke tahun sepanjang 2025. Hal ini terjadi justru saat banyak restoran kesulitan mencatat kinerja serupa.
Salah satu contohnya adalah Scooter’s Coffee, jaringan kedai kopi drive-thru yang berbasis di Nebraska. Pada kuartal ketiga 2025, perusahaan ini mencatat kenaikan rata-rata kunjungan per gerai sebesar 3,1 persen secara tahunan.
Tak hanya itu, tingkat loyalitas pelanggan juga tergolong tinggi. Hampir satu dari empat pelanggan Aroma Joe’s, jaringan kopi asal New England, tercatat mengunjungi gerainya setidaknya empat kali sepanjang Oktober 2025.
Menurut Placer.ai, kunci keberhasilan industri kopi terletak pada konsep “kenikmatan terjangkau”. Di saat banyak orang memilih membawa bekal makan siang ke kantor dan mengurangi makan malam mahal di luar, secangkir kopi ukuran kecil atau sedang, yang di sebagian besar wilayah Amerika Serikat jarang dibanderol di atas 10 dolar AS, masih dianggap sebagai camilan harian yang masuk akal.
Faktor wilayah juga memegang peranan penting dalam pertumbuhan ini. Banyak jaringan kopi kini mulai berekspansi ke daerah yang sebelumnya kurang terlayani, seperti kawasan Tenggara Amerika Serikat, Sun Belt, dan Texas.
"Di wilayah-wilayah ini, di mana kopi bermerek masih mewakili porsi kecil dari kunjungan kuliner," tulis laporan tersebut, seperti dikutip dari Fox News Digital, Senin (19/1).
Placer.ai menilai pendekatan industri kopi ini bisa menjadi pelajaran bagi pelaku usaha di segmen makanan lain, terutama dalam mengidentifikasi pasar dengan tingkat penetrasi rendah. Selain ekspansi wilayah, kolaborasi dengan budaya pop juga menjadi strategi yang terbukti efektif.
Salah satu contohnya adalah kolaborasi terbatas Dunkin’ dengan film Wicked, yang disebut berhasil menciptakan lonjakan kunjungan signifikan selama beberapa hari.
"Segmen kuliner lain juga dapat mengandalkan kolaborasi yang dirancang dengan matang untuk menciptakan antusiasme besar dan peningkatan kunjungan, bahkan tanpa diskon besar atau promo gratis."
Strategi seperti penawaran terbatas musiman, model layanan yang efisien maupun personal, serta pemanfaatan merchandise dan kemitraan budaya pop dinilai mampu membentuk ulang permintaan pasar.
Sementara itu, Alex Tchekmeian, pendiri sekaligus presiden Foxtail Coffee yang berbasis di Florida, mengaku tidak terkejut dengan temuan laporan tersebut. Saat ini, Foxtail Coffee tengah berekspansi ke berbagai negara bagian, termasuk Georgia, North Carolina, Michigan, Virginia, dan Nevada.
Ia menilai kopi memang memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding banyak kategori kuliner lain saat konsumen mengetatkan pengeluaran. Bahkan, ia memperkirakan ketahanan ini masih akan berlanjut hingga 2026. Basis peminum kopi yang besar dan loyal disebut menjadi faktor utama, karena banyak orang tetap memprioritaskan ritual harian ini meski kondisi ekonomi sedang menantang.
Hal senada disampaikan Presiden National Coffee Association, William Murray. Menurutnya, kopi memiliki kemampuan luar biasa untuk tetap menjadi tradisi yang dicintai sekaligus beradaptasi dengan perubahan tren dan preferensi konsumen dari waktu ke waktu.
Bahkan, meningkatnya perhatian masyarakat Amerika terhadap kesehatan dan kebugaran justru memberi alasan baru untuk mencintai kopi. Murray menambahkan, puluhan tahun bukti ilmiah menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan peningkatan harapan hidup serta penurunan risiko berbagai penyakit kronis.
Jadi, nggak heran kan kenapa kopi terus mempertahankan posisinya sebagai minuman favorit di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.



