Agak Laen 2 dan Momentum Emas Perfilman Nasional

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Film nasional menjadi primadona. Tentu ini kabar yang sangat membanggakan di awal 2026. Agak Laen 2: Menyala Pantiku! resmi mencatat sejarah sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa. Hingga pertengahan Januari, film ini telah ditonton 10,8 juta orang, hanya terpaut tipis dari rekor Avengers: Endgame yang meraih 10.976.338 penonton di Tanah Air.

Angka fantastis itu bukan sekadar deretan statistik. Ia menandai gairah baru penonton Indonesia yang kembali merengkuh film nasional dengan antusiasme luar biasa.

Euforia ini wajar, bahkan pantas dirayakan. Film Indonesia tampil dengan penuh rasa percaya diri di hadapan penontonnya sendiri. Namun, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: Ke mana perfilman nasional akan melangkah setelah titik ini? Apakah rekor box office akan menjadi fondasi bagi ekosistem yang tumbuh berkelanjutan, atau sekadar puncak yang indah, tetapi ringkih?

Film sebagai Sistem yang Saling Terhubung

Fenomena Agak Laen 2 bagaikan sinar fajar menerabas keluar dari gedung bioskop, menandai kebangkitan film nasional. Dialognya meresap ke percakapan masyarakat sehari-hari, potongan adegannya beredar luas di dunia maya, sementara karakternya menjelma jadi rujukan budaya populer.

Film ini melampaui cahaya dan bayangan, meresap ke dalam ruang sosial, lalu menyatukan kita dalam pengalaman kolektif antara kenangan dan harapan.

Gedung bioskop berubah menjadi ruang publik, tempat tawa dihela dan emosi disatukan. Dalam situasi semacam ini, keberhasilan sebuah film tidak lagi diukur hanya dari jumlah tiket terjual, tetapi dari seberapa jauh ia hidup dalam ingatan dan percakapan publik.

Keberhasilan sebuah film, bagaimanapun, tidak pernah berdiri sendiri. Thomas Schur—dalam disertasinya "Film, Relay, and System: A System Theory Approach to Cinema (2013)"—menekankan bahwa sinema bekerja sebagai sistem relasional. Film memperoleh makna dan dampaknya melalui mekanisme “relay”—rantai yang menghubungkan produksi, distribusi, eksibisi, dan respons penonton.

Pemikiran ini sejalan dengan pandangan William Rasch (2002), yang menegaskan bahwa dalam masyarakat modern, makna lahir berasal dari perbedaan dan relasi antar-sistem. Sistem budaya—termasuk film—bertahan bukan karena stabilitas, melainkan karena kemampuannya mengelola perbedaan, ketegangan, dan umpan balik yang terus bergerak.

Dengan kata lain, kekuatan sebuah karya tidak terletak pada klaim universalitasnya, tetapi pada kemampuannya beresonansi dalam jaringan sosial yang majemuk.

Dalam kerangka ini, Agak Laen 2 dapat dibaca sebagai simpul yang menyala terang dalam sistem perfilman nasional. Ia berhasil karena seluruh relai bergerak seirama: cerita yang dekat dengan publik, promosi yang efektif, distribusi yang luas, dan penonton yang aktif merespons.

Film ini tidak berdiri di luar sistem, tetapi bekerja di dalam perbedaan –antara selera, kelas, dan ruang sosial—yang justru memperluas daya jelajahnya.

Pandangan Rasch ini sejalan dengan pemikiran Mary Catherine Bateson (2011), yang mengingatkan bahwa kebudayaan tidak dibentuk oleh satu peristiwa tunggal, tetapi oleh rangkaian respons yang saling menyambung. Sebuah karya baru memperoleh maknanya ketika ia terus direspons, dibicarakan, dan ditafsirkan ulang dalam pengalaman bersama.

Box Office dan Pengakuan Artistik

Sejarah sinema Indonesia menunjukkan adanya dua jalur yang sejak lama berjalan berdampingan: jalur film populer dan jalur film artistik. Film-film seperti The Raid membuka pasar global, sementara Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) atau Autobiography (2022) memperkuat legitimasi artistik di festival internasional.

Keduanya memainkan peran berbeda, tetapi penting pada saat bersamaan. Film populer menggerakkan ekonomi industri, film artistik menjaga kedalaman estetika dan daya reflektif sinema nasional. Tantangan perfilman Indonesia yakni menjaga dialog di antara keduanya.

Relasi antara box office dan prestasi artistik kerap dipersepsikan sebagai dua kutub yang berseberangan. Sejarah Festival Film Indonesia menunjukkan bahwa film terlaris jarang menjadi peraih utama Piala Citra. Namun, ketegangan ini tidak selalu berarti pertentangan.

Budaya populer adalah ruang negosiasi. Film populer dan film festival berbicara dalam bahasa yang berbeda, tetapi keduanya berkontribusi pada pembentukan imajinasi kolektif. Tantangan ke depan adalah membangun jembatan yang lebih lentur: film populer yang berani memperkaya bentuk dan tema serta film bermutu yang tidak terpinggirkan secara struktural.

Dalam istilah Schur, sistem sinema akan berfungsi optimal ketika relai antargenre dan antar-ruang legitimasi tetap terbuka. Ketika satu jalur terlalu dominan, sistem berisiko kehilangan elastisitasnya. Keberagaman inilah dinilai penting oleh Bateson untuk menjaga keseimbangan sistem. Tanpa variasi, umpan balik menjadi monoton, dan sistem kehilangan kemampuan belajar.

Produksi yang Bergairah, Akses yang Perlu Dirawat

Sepanjang 2025, produksi film Indonesia menunjukkan geliat yang menggembirakan. Lebih dari 200 judul tayang di bioskop. Angka ini mencerminkan vitalitas kreatif yang patut diapresiasi. Namun, vitalitas tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesempatan bertemu penonton.

Genre komedi dan horor masih mendominasi layar. Dalam batas tertentu, kecenderungan ini dapat dipahami sebagai respons industri terhadap selera pasar. Namun, agar sistem tetap hidup, keberagaman cerita perlu terus dirawat. Film-film dengan pendekatan berbeda membutuhkan ruang untuk menemukan audiensnya sendiri.

Dari sudut pandang sistemik, distribusi dan eksibisi bukan sekadar tahap teknis, melainkan juga bagian penting dari proses pembentukan makna. Ketika akses layar terlalu sempit, aliran relai terhambat. Film tidak sempat “berbicara” dan penonton kehilangan kesempatan untuk memilih.

Negara sebagai Penjaga Keseimbangan

Dalam sistem yang kompleks, negara berperan sebagai penjaga keseimbangan. Bukan untuk mengatur selera, melainkan untuk memastikan keadilan struktural. Transparansi jadwal tayang, dukungan terhadap bioskop daerah, dan ruang bagi distribusi alternatif dapat memperkuat ekosistem secara keseluruhan.

Langkah-langkah ini bukan bentuk intervensi berlebihan, melainkan upaya merawat sistem agar setiap simpul memiliki kesempatan untuk hidup. Seperti diingatkan Schur, sinema kehilangan daya hidupnya ketika relai sistem terputus di tengah jalan.

Literasi penonton juga menjadi bagian penting dari perawatan ini. Publik yang terbiasa dengan ragam cerita akan memperluas ruang hidup film nasional. Festival, diskusi, dan pemutaran alternatif dapat menjadi jembatan antara film dan penonton yang lebih beragam.

Menjaga Nyala, Merawat Perjalanan

Keberhasilan Agak Laen 2 layak dirayakan sebagai tonggak penting. Ia menunjukkan bahwa film Indonesia mampu berdiri tegak di hadapan publiknya sendiri, dengan tawa sebagai bahasa bersama. Namun, sinema adalah perjalanan panjang, bukan lomba lari jarak pendek.

Euforia box office ibarat api unggun di malam hari: hangat, terang, dan mengundang orang berkumpul. Api itu bertahan bukan karena satu kayu besar, melainkan karena banyak kayu kecil yang dirawat bersama. Di sanalah masa depan perfilman nasional diuji: bukan pada seberapa tinggi nyala sesaat, melainkan pada kebijaksanaan menjaga cahaya agar tetap menyertai perjalanan kebudayaan kita.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Satpol PP dan Dishub Jakbar Jaga Exit Tol Rawa Buaya untuk Cegah Aksi “Pak Ogah”
• 17 jam lalupantau.com
thumb
PAMA Buka Lowongan Kerja 2026 untuk Lulusan S1 Hukum, Ini Kualifikasi dan Cara Daftarnya
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Bertemu Mensesneg, Sufmi Dasco Pastikan Prolegnas Tak Bahas UU Pilkada
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Israel Belum Siap Serangan Balasan, Trump Batalkan Serangan ke Iran
• 10 jam lalumerahputih.com
thumb
Krisis Dunia Bawa Petaka ke RI, Harga HP Murah Berubah Jadi Mahal
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.