JAKARTA, KOMPAS.com - Keberadaan ikan sapu-sapu dengan tubuh keras, sisik kasar, dan sirip punggung yang tajam menjadi pemandangan paling mencolok di Sungai Ciliwung.
Spesies asing yang kerap dianggap “ikan sampah” ini terus bertahan di tengah air yang kecokelatan dan tumpukan sampah rumah tangga.
Keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung bahkan semakin mendominasi, sedangkan populasi ikan lokal seolah hilang perlahan.
Baca juga: Menyelami Sungai Ciliwung, Arief Kamarudin Basmi Ikan Sapu-sapu dengan Tangan Kosong
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) mengakui hingga kini belum ada kajian ekologis resmi yang secara khusus menghitung populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung.
“Saat ini belum ada kajian ekologis secara resmi yang dilakukan oleh DKPKP terkait populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, sehingga belum dapat dipastikan apakah terjadi ledakan populasi yang signifikan,” ujar Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (15/1/2026).
Meski demikian, KPKP melakukan pemetaan dampak ekologis berdasarkan pendekatan bioekologi serta kualitas fisik dan kimia perairan.
“Ikan sapu-sapu termasuk ikan introduksi yg berasal dari Sungai Amazon dan merupakan salah satu jenis ikan invasif karena memiliki tingkat reproduksi yang tinggi dan daya tahan tubuh yang kuat sehingga toleransi terhadap lingkungan cukup tinggi,” kata Hasudungan.
Dominasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung bukan temuan baru. Hasudungan mengutip penelitian Hendrawan (2008) yang menyebutkan bahwa keberadaan ikan ini berkontribusi terhadap penurunan keanekaragaman jenis ikan lokal.
“Dominasi ikan sapu-sapu ini juga disebutkan mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman jenis ikan di Sungai Ciliwung,” ujar dia.
Dari sisi kualitas perairan, KPKP menegaskan bahwa kehadiran ikan sapu-saput tidak begitu memperbaiki kondisi sungai.
“Berdasarkan pengamatan kualitas perairan, meskipun memakan bahan organik, ikan sapu-sapu tidak memperbaiki kualitas air di Sungai Ciliwung secara signifikan karena dominasi pencemaran limbah rumah tangga dan industri,” tutur Hasudungan.
Bukan Solusi, Melainkan Indikator Sungai TercemarDi tengah persepsi publik yang kerap menganggap ikan sapu-sapu sebagai “pembersih sungai”, KPKP justru melihat sebaliknya. Menurut Hasudungan, spesies ini bukan solusi pencemaran.
Baca juga: Pedagang Cangcimen Jakarta Terus Bertahan di Celah Kota yang Semakin Tertata
“DKPKP menilai ikan sapu-sapu bukan bio-remediator yang efektif, melainkan indikator perairan yang tercemar,” ujar dia.
Lebih jauh, sifat invasif ikan sapu-sapu menciptakan ekosistem perairan berkenanekaragaman rendah atau low-diversity ecosystem.
Terkait upaya pengendalian, KPKP mengaku telah dan terus melakukan edukasi publik agar tidak melepaskan ikan invasif dan non-endemik ke perairan umum.
Opsi restocking ikan endemik sempat dipertimbangkan. Namun, kondisi Sungai Ciliwung saat ini dinilai belum memungkinkan.
“Melakukan restocking ikan endemik juga dapat menjadi solusi pengendalian habitat. DKPKP sebelumnya mendapatkan beberapa permohonan kolaborasi untuk restocking di perairan Sungai Ciliwung. Namun, solusi ini tidak dapat direkomendasikan karena kondisi kualitas air yang tidak memenuhi standar baku mutu hidup ikan,” jelas dia.
Kendala utama pengendalian populasi ikan sapu-sapu, menurut KPKP, terletak pada sifat biologis ikan tersebut dan kompleksitas tata kelola sungai.
“Kendala utama yang dihadapi dalam penyelesaian masalah ini adalah tingkat pertumbuhan ikan sapu-sapu yang tinggi serta pengendalian spesies invasif yang mahal dan harus dilakukan secara kontinu,” ujar Hasudungan.
Pengelolaan Ciliwung sendiri melibatkan banyak pihak dan sektor terkait sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang dimiliki.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471129/original/050011600_1768278486-6.jpg)


