Jakarta, VIVA – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut kondisi Indonesia unik jika ditinjau dari besarnya kerusakan alam yang terjadi, namun tidak sebanding dengan kesejahteraan yang diterima rakyatnya.
Anies merujuk analisa Kate Rawort, seorang ekonom dari Oxford University, yang menggambarkan konsep 'Donat Ekonomi'. Sebuah model ekonomi tradisional untuk mengatasi tantangan abad ke-21, khususnya terkait ketidaksetaraan sosial dan degradasi lingkungan.
Dimana ada lingkaran hijau yang menjadi wilayah aman untuk manusia berkegiatan. Di bagian dalamnya ada kegiatan regeneratif dan distribusi ekonomi, termasuk kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai peradaban manusia seperti kesehatan, pendidikan, makanan-minuman, dengan demikian perekonomian tumbuh.
Sementara di lingkaran luar atau bagian atas, yakni atap ekologis: Jika dibiarkan kegiatan ekonomi melampaui batas -- menembus atap ekologi, maka akan menyebabkan kerusakan lingkungan, perubahan iklim, hutan rusak, polusi udara, deplesi lapisan ozon, dan berbagai macam masalah lingkungan.
"Nah, Indonesia ini unik. Yang bagian dalamnya (pendidikan, kesehatan, kesejahteraan) belum terpenuhi, luarnya rusak (alamnya sudah rusak). Kebayang kan?" kata Anies dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerakan Rakyat, Sabtu, 17 Januari 2026.
Di banyak negara, terang Anies, karena memenuhi kebutuhan rakyatnya, baik itu makanan-minuman, energi, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraannya. Maka mereka membesarkan porsi ekonominya, sehingga dampaknya merusak lingkungan.
"Nah, kalau kita ini, pertanyaannya, yang di dalamnya masih banyak yang belum dapat pendidikan, masih banyak belum dapat masalah kesehatan, masih banyak yang belum dapat perumahan, berarti bagian dalamnya belum beres. Bukan belum beres, tapi luarnya rusak," ujar Anies
"Jadi saya ingin sampaikan ini untuk kita memahami masalah bahwa masalah Indonesia hari ini, kita sudah menembus atapnya itu di banyak tempat, sementara jutaan rakyat Indonesia masih terjatuh di lantai bawah," tegasnya
Analisa itu diperparah dengan jumlah hutan di Indonesia yang terus menyusut. Tahun 2024, lanjut Anies, hutan yang hilang jumlahnya 175.000 hektar dalam satu tahun menurut data resmi pemerintah. Sedangkan menurut pemantau independen memprediksi 260.000 hektar yang hilang.
"Nah, pada saat yang sama kita tanya tuh, di dalam kita lihat kenyataan, di dalam masih banyak yang miskin. Pertanyaannya kemudian dari lihat itu berarti pertumbuhan yang besar itu, pembesaran perekonomian yang luar biasa itu, itu membangun semua orang atau membangun segelintir orang?" tanya Anies





