EtIndonesia. Serangan Rusia yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut telah menyebabkan kerusakan parah pada sistem energi Ukraina. Saat ini, pasokan listrik hanya mampu memenuhi sekitar 60% kebutuhan nasional. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump dengan menegaskan bahwa Ukraina sama sekali bukan penghalang bagi tercapainya perdamaian.
Pada Jumat (16 Januari), Zelenskyy mengKonfirmasi bahwa tim Ukraina sedang menuju Amerika Serikat untuk melanjutkan pembicaraan dengan pihak AS.
Musim Dingin yang Berat, Energi Ukraina dalam Keadaan DaruratPasokan listrik hanya mampu memenuhi 60% kebutuhan
Di tengah musim dingin yang keras, krisis energi Ukraina semakin mendesak. Orang-orang berkumpul, bernyanyi dan menari mengikuti musik yang penuh semangat, seolah-olah dengan cara ini mereka melawan dinginnya cuaca dan kekejaman perang. Akibat kerusakan sistem energi Ukraina oleh Rusia, Kyiv kini menghadapi pemadaman listrik dan gangguan pemanas berskala luas.
Saat ini, Ukraina telah memasuki status darurat energi. Perbaikan fasilitas dilakukan secara intensif, dan Ukraina juga secara signifikan meningkatkan impor listrik dari negara-negara Uni Eropa. Namun, Zelenskyy mengatakan pada Jumat bahwa pasokan listrik saat ini masih hanya dapat memenuhi 60% kebutuhan nasional.
Dalam pidato publik pertamanya setelah menjabat, Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal mengatakan bahwa situasi paling parah terjadi di ibu kota Kyiv, kota terbesar kedua Kharkiv, kota pelabuhan selatan Odesa, serta kota-kota di dekat garis depan. Tak terhitung jumlah keluarga telah bertahan selama berhari-hari dalam suhu di bawah titik beku. Ia mendesak kalangan bisnis untuk mematikan seluruh pencahayaan luar ruangan dan iklan, serta memprioritaskan pasokan listrik bagi warga.
Zelenskyy: Ukraina Bukan Penghalang PerdamaianPresiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan: “Ketika warga Ukraina mengalami pemadaman listrik selama 20 hingga 30 jam akibat serangan Rusia, maka Rusia-lah yang harus ditekan. Ukraina tidak pernah menjadi, dan tidak akan pernah menjadi, penghalang bagi perdamaian.”
Zelenskyy menegaskan kembali bahwa Ukraina sama sekali bukan penghalang perdamaian, dan menyatakan bahwa serangan Rusia terhadap fasilitas energi Ukraina membuktikan bahwa Moskow sama sekali tidak berniat mencapai kesepakatan apa pun. Pernyataan ini dipandang luas sebagai tanggapan terhadap Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, dalam wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin siap mencapai kesepakatan damai, dan bahwa Zelenskyy-lah yang menghambat proses perdamaian.
Zelenskyy juga mengkonfirmasi pada Jumat bahwa delegasi Ukraina sedang menuju Amerika Serikat untuk melanjutkan pembicaraan dengan pihak AS mengenai jaminan keamanan dan rencana rekonstruksi pasca perang.
Zelenskyy mengatakan: “Kami berharap dapat memahami dengan lebih jelas dokumen-dokumen yang telah kami siapkan bersama pihak AS, serta tanggapan Rusia terhadap seluruh upaya diplomatik yang telah dan sedang berlangsung.”
Zelenskyy berharap dapat bertemu Presiden Trump pada Forum Ekonomi Dunia di Davos pekan depan, dan menandatangani dokumen-dokumen tersebut.
Saat ini, Italia, Prancis, dan Jerman tampaknya berniat memulihkan dialog dengan Rusia terkait isu Ukraina, dan Kremlin menyambut baik hal tersebut.
Namun, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menilai bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk membuka kembali dialog dengan Moskow, karena tidak terlihat bukti bahwa Rusia benar-benar menginginkan perdamaian di Ukraina.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Inggris David Lammy pada Jumat mengumumkan bahwa Inggris akan memberikan bantuan sebesar 20 juta pound sterling kepada Ukraina untuk memperbaiki infrastruktur energi. Dana Moneter Internasional (IMF) juga tengah bersiap mengajukan persetujuan atas program pinjaman baru senilai 8,1 miliar dolar AS guna mendukung pendanaan bagi Ukraina. (Hui)
Sumber : NTDTV.com

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5240031/original/029473100_1748865519-1__1___1_.jpg)


