Ina Liem pakar pendidikan, konsultan karir, dan pendiri platform digital jurusanku.com mengungkap kekhawatirannya akan program Sekolah Rakyat, khususnya potensi penyeragaman kurikulum dengan sekolah reguler.
“Sekolah rakyat ini tetap berkolaborasi dengan kemendikdasmen, dengan kurikulum nasional. Memang berkolaborasi, tapi jangan sampai diintervensi. Saya berharap ini berjalan sesuai, karena project based learning itu sesuai entrepreneurship. Bukan dagang, tapi cari cara baru menyelesaikan masalah, create value,” ungkap Ina Liem dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Senin (19/1/2026).
Ina mencontohkan sistem penanganan anak-anak dari kelompok masyarakat miskin dan miskin ekstrem di luar negeri. Di mana anak-anak bisa masuk kapan pun, sesuai kondisi keluarganya.
“Misalnya kondisi lagi bercerai, ada KDRT. Orang tuanya tidak dalam kapasitas mendidik anaknya dengan baik. Kayak di luar negeri misalnya orang tua kena narkoba, mabuk korbannya anak-anak. Kalau kita lihat di film-film, anaknya diambil dinas sosial. Tapi di kita kan 20 juta lebih mau taruh di mana?,” tuturnya.
Konsep sekolah asrama dinilai sesuai, lantara memberikan tempat bagi anak-anak tersebut. Ina juga mengingatkan masalah setiap anak berbeda. Dia mencontohkan anak berusia 17 tahun yang belum bisa baca, tulis, dan hitung.
“Tidak bisa berdasarkan usia, seperti sekolah reguler biasa. Selama mereka masih masuk kelompok desil 1 (sangat miskin) dan 2 (miskin). Makanya tidak sejalan kalau kurikulumnya disamakan dengan sekolah reguler,” katanya.
Menengok sistem pendidikan Finlandia yang dikenal terbaik sedunia, negeri seribu danau itu mengubah sistem pembelajaran hapalan menjadi pembelajaran berbasis pengalaman. Mereka konsisten di bidang-bidang melek huruf dan berhitung. Perubahan itu membawa kemajuan dalam hal membaca, matematika, sains dan peningkatan skor Programme for International Student Assessment (PISA) .
Kalau di Amerika Serikat ada Community Collage. Kampus komunitas diperuntukkan bagi mahasiswa yang mencari sertifikat profesional dan gelar asociate atau gelar diploma di Indonesia. Sistem kuliahnya fleksibel dan mengakomodasi kehidupan mahasiswa di luar sekolah. Mereka bisa kuliah sembari bekerja dan tidak ada tes penerimaan untuk masuk kampus tersebut.
Ina Liem menekankan, pendidikan adalah pondasi menyelesaikan berbagai masalah. Tak hanya ekonomi, tapi juga perkara korupsi.
“Korupi itu mental ya, karakter, jadi harus dididik sejak awal. Seorang kalau mentalnya sudah koruptif, tapi dia belum mengambil, itu artinya belum ada kesempatan. Harusnya semua sekolah bisa (menghasilkan mental antikorupsi),” katanya.
Sebelumnya Prabowo Subianto Presiden menargetkan, Sekolah Rakyat mampu menampung 1.000 murid dan dapat menjangkau 500 ribu peserta didik. Presiden juga berharap program yang dijalankan pemerintahan dapat menghapus kemiskinan ekstrem di Indonesia. (lea/iss)


