Alternatif Non-Sawit, BRIN Kembangkan Malapari Untuk Biosolar dan Bioavtur

katadata.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Tanaman malapari atau pongamia pinnata potensial jadi alternatif minyak nabati untuk campuran solar dan avtur (biosolar/bioavtur). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan PT Lembata Hira Sejahtera (BATARA) dan Pemerintah Kabupaten Lembata tengah mengembangkan tanaman ini di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, bekerja sama dengan 

Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Botani Terapan Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN Budi Leksono menjelaskan, malapari kini semakin dilirik sebagai sumber energi hijau masa depan. “Selain berpotensi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan, tanaman ini juga dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung upaya penurunan emisi karbon,” kata Budi dikutip, Senin (19/1).

Berbeda dengan minyak nabati lainnya seperti minyak sawit, minyak dari biji malapari termasuk kategori non-pangan karena tidak bisa dikonsumsi atau non-edible oil. Maka itu, minyak ini dinilai strategis sebagai bahan bakar, karena tidak akan ada perebutan pasokannya untuk pangan.

Budi menjelaskan, BRIN memfokuskan riset untuk menghasilkan pohon unggul yang cepat berbuah, berproduktivitas tinggi, serta memiliki rendemen minyak optimal. “Secara alami, rendemen minyak malapari berada pada kisaran 20-28%, dan melalui seleksi genetik serta optimalisasi metode ekstraksi, dapat ditingkatkan hingga sekitar 44%,” ujarnya. 

Malapari disebutnya memiliki keunggulan ekologis yaitu mampu mengikat nitrogen dari udara melalui bintil akar, sehingga relatif tidak memerlukan pupuk nitrogen. “Karakter tersebut menjadikan malapari sangat adaptif pada lahan marginal dan wilayah dengan kondisi kering ekstrem, seperti di Indonesia bagian timur, termasuk Lembata,” kata dia.

Namun, meski memiliki sebaran habitat yang luas, mulai dari kawasan pesisir hingga ketinggian sekitar 1.200 m dpl, Budi mengingatkan bahwa fragmentasi habitat akibat alih fungsi lahan dapat menurunkan kualitas genetik tanaman dan berdampak pada produktivitas.

Pengembangan malapari tidak hanya ditujukan untuk produksi bioenergi, tapi juga sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim. Budi yakin, penanaman malapari dalam skala besar berpotensi mendukung pencapaian target penurunan emisi karbon nasional sekaligus membuka peluang perdagangan karbon yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Menurut dia, pengembangan malapari di Lembata diintegrasikan dengan perkebunan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tetap dapat menanam tanaman pangan dan komoditas lain seperti kopi, kakao, maupun tanaman semusim di bawah tegakan malapari.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nilai Ekspor Banyuwangi Tembus Rp 3,9 Triliun di 2025
• 22 jam lalurealita.co
thumb
Danantara Jelaskan Strategi Kelola US$1 Triliun di WEF
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Mensesneg soal Wacana Kepala Daerah via DPRD: Presiden Tekankan Utamakan Rakyat
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Bos BI Beri Rekomendasi Calon Pengganti Juda Agung ke Prabowo
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
KPK belum Berhenti Buru Tersangka Kasus Kuota Haji
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.