Tiga Direksi TOWR Borong Saham di Harga Diskon untuk Laksanakan MESOP

katadata.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Tiga direksi emiten Grup Djarum, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) tercatat memborong saham perusahaan di harga bawah. Apabila dikalkulasikan, ketiga pejabat tersebut telah mengeluarkan dana sebesar Rp 43,81 miliar untuk mengakumulasi saham TOWR.

Berdasarkan data keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ketiga pejabat perseroan mencatat transaksi pembelian saham TOWR pada harga yang sama, yaitu Rp 444 per saham pada 14 Januari 2026. Harga tersebut terdiskon 106 poin dibandingkan harga penutupan saham TOWR pada periode yang sama yang berada di kisaran Rp 550 per saham.

Direktur TOWR Indra Gunawan melakukan akumulasi dengan membeli sebanyak 35.607.000 saham. Transaksi ini membuat total kepemilikan sahamnya naik signifikan dari 1.167.490 saham menjadi 36.774.490 saham. Dengan begitu, hak suaranya bertambah dari 0,002% menjadi 0,062%. Dengan harga beli di Rp 444 per saham, Indra menggelontorkan dana sekitar Rp 15,80 miliar untuk pembelian tersebut.

Sementara itu, Eko Santoso Hadiprodjo yang juga menjabat sebagai direksi, tercatat membeli 35.607.000 saham TOWR pada transaksi yang sama. Alhasil, kepemilikan Eko di TOWR bertambah menjadi 39.604.000 saham dengan hak suara sebesar 0,067%.

Adapun direktur lainnya, Anita Anwar juga melakukan transaksi pembelian sebanyak 27.509.000 saham. Sehingga total dana untuk transaksi tersebut bernilai Rp 12,21 miliar. Dengan pembelian ini, jumlah saham yang dimiliki Anita meningkat drastis dari hanya 2.600 saham menjadi 27.511.600 saham.

“Tujuan transaksi dalam rangka pelaksanaan MESOP, dengan status kepemilikan saham secara langsung,” seperti dikutip dari Keterbukaan Informasi BEI, Senin (19/1).

Management and Employee Stock Option Plan atau MESOP adalah program pemberian hak kepada manajemen dan karyawan untuk membeli saham perusahaan pada harga dan periode tertentu. Ketika manajemen atau karyawan melaksanakan MESOP, artinya mereka mengubah hak opsi menjadi saham nyata dengan melakukan pembelian sesuai ketentuan program.

Prospek Saham TOWR Tahun Ini

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan sektor ini berpeluang menjadi salah satu yang paling diuntungkan pada tahun ini. Hal tersebut didorong ekspektasi penurunan suku bunga dan berlanjutnya ekspansi jaringan digital nasional.

Wafi menilai, bisnis TOWR kian bergeser dari sekadar penyedia menara menjadi infrastruktur digital berbasis fiber optik. Alhasil, emiten ini diproyeksikan berada di posisi strategis untuk memetik keuntungan dari tren fiberisasi dan perluasan jaringan operator ke luar Jawa. 

Struktur utang yang relatif besar membuat emiten menara sensitif terhadap arah suku bunga, sehingga potensi pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia berpeluang menekan beban bunga sekaligus mendorong pertumbuhan laba pada 2026.

Menurut dia, bisnis TWOR kini tidak lagi sekadar perusahaan menara, melainkan telah bertransformasi menjadi perusahaan infrastruktur digital (digital infraco) dengan bisnis fiber optik yang menawarkan margin lebih tinggi. Ia menilai manajemen TOWR relatif efisien dan agresif melakukan akuisisi penyedia layanan internet. 

“TOWR karena manajemennya efisien dan agresif akuisisi provider internet atau fiber kecil untuk konsolidasi pasar,” kata Wafi beberapa waktu lalu. 

TOWR adalah perusahaan yang berfokus pada investasi dan pengoperasian menara telekomunikasi serta jaringan fiber optik yang disewakan kepada operator sebagai solusi infrastruktur telekomunikasi. 

Sejak 2008, investasi utama perseroan adalah kepemilikan 99,99% saham PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo). Operasional Grup SMN sebagian besar dijalankan melalui Protelindo dan anak usaha utamanya, iForte. Hingga Juni 2025, grup ini memiliki dan mengoperasikan sekitar 35.825 menara telekomunikasi serta lebih dari 170 ribu kilometer jaringan fiber optik yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. 

Dalam catatan keuangan hingga kuartal ketiga 2025, emiten grup Djarum ini membukukan laba bersih sebesar Rp 2,55 triliun, naik 4,50% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp 2,44 triliun. Pendapatan perseroan juga tumbuh menjadi Rp9,68 triliun dari Rp 9,44 triliun secara tahunan.

Pada perdagangan hari ini secara intraday pukul 11.04 WIB, harga saham TOWR stagnan di level 550. Harga sahamnya terkoreksi 16,67% secara tahunan atau year on year.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
6 Tewas, 38 Hilang Setelah Kebakaran Melanda Kompleks Perbelanjaan di Pakistan: Laporan
• 7 jam laluerabaru.net
thumb
Pemikiran Soedjatmoko dan Relevansinya Bagi Indonesia Masa Kini
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
HIGHLIGHT Cicipi Nasi Padang saat Tampil di Indonesia, Sebut Rendang Sangat Enak dan Familiar
• 18 jam lalupantau.com
thumb
KPK Konfirmasi Sudewo Terjaring OTT di Pati, Dibawa ke Polres Kudus
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Mental Petugas Haji Harus "Melayani", Bukan "Dilayani"
• 2 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.