Mungkin sebagian dari anak bangsa hanya mengingat Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Agus Salim, Tan Malaka, dan jajaran tokoh lainnya ketika berbicara tentang tokoh dalam pembangunan bangsa masa pasca-kemerdekaan.
Namun, ada tokoh bangsa lain yang peranannya tidak dapat dipisahkan dari pembangunan bangsa, khususnya pada pembangunan diplomasi bangsa, seorang diaspora kebanggaan Indonesia dan pengabdiannya pada bangsa Indonesia, yaitu Soejadmoko.
Secara jujur dan tanpa berlebihan, saya menyatakan bahwa Soedjatmoko adalah salah satu manusia unggul yang dimiliki bangsa Indonesia. Soedjatmoko bukan saja sebagai pemikir besar bangsa, melainkan juga sebagai tokoh kunci yang menjadi saksi sekaligus akselerator pembangunan Indonesia era Orde Lama hingga awal Orde Baru.
Perjalanan hidup Soedjatmoko adalah tentang perjalanan bangsa Indonesia itu sendiri. Pemikirannya melampaui zaman dan pengalamannya menjadi teladan bagi anak bangsa sesudahnya.
Dari meja diplomasi Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, tokoh intelektual besar sebagai Rektor UN University di Tokyo, politikus luar biasa dari Partai Sosialis Indonesia, hingga jabatan strategis pada pemerintahan menjadi jejak langkah yang ia tinggalkan untuk diwarisi dan dipelajari.
Sebagai tokoh bangsa Indonesia yang mengabdikan dirinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, pergaulan global, hingga pembangunan bangsa Indonesia, Soedjatmoko meninggalkan warisan pemikiran yang masih sangat relevan bagi pembangunan Indonesia masa kini dan sekaligus mempersiapkan untuk masa depan.
Daya Saing Sumber Daya Bangsa IndonesiaSecara khusus, Soedjatmoko menempatkan perhatian yang amat penting dalam pembangunan bangsa melalui penguatan sumber daya bangsa Indonesia yang unggul. Upaya penguatan sumber daya manusia tersebut sedari awal harus memiliki fokus pada tumbuh dan berkembangnya anak.
Bagi Soedjatmoko, kualitas sumber daya manusia merupakan modal yang paling menentukan bagi suatu bangsa. Modal berupa sumber daya manusia yang berkualitas lebih penting daripada kepemilikan sumber daya alam. Namun, kualitas sumber daya bangsa Indonesia yang akan datang sangat ditentukan oleh kemampuan untuk mengembangkan potensi yang terdapat pada anak-anak.
Pemikiran Soedjamoko tersebut tentunya sangat relevan dengan kondisi demografi Indonesia saat ini, yang didominasi oleh kelompok usia muda. Selain gejala yang bersifat demografis tersebut, hal lain yang menjadi perhatian dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah dengan adanya gejala sosial struktural.
Pengaruh teknologi modern dan kemajuan informasi yang begitu cepat telah mengubah pola hidup masyarakat dan mempunyai dampak yang cukup besar.
Dampak lain yang dipengaruhi oleh teknologi informasi yang modern ialah perubahan-perubahan dalam tata nilai, antara lain dicerminkan dalam peningkatan kesadaran politik, perubahan-perubahan dalam aspirasi, dan perubahan-perubahan terkait etika dalam masyarakat.
Gejala-gejala tersebut mengandung sejumlah tantangan yang harus dijawab secara efektif. Kegagalan dalam menjawab tantangan-tantangan yang muncul akan menyebabkan kegagalan dalam usaha pembangunan bangsa ke depan.
Dalam pergaulan internasional dan perkembangan masyarakat transnasional yang semakin meningkat, sumber daya manusia yang unggul hanya dapat dicapai dengan kemampuan untuk meningkatkan daya saing dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan kultural.
Peningkatan daya saing suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan peningkatan kemampuan kolektif seluruh bangsa untuk belajar, untuk mencari, mengembangkan, serta mencerna pengetahuan dan informasi yang tersedia, sehingga terhimpun kemampuan kolektif untuk menjawab tantangan-tantangan yang muncul.
Selanjutnya, mengingat pertumbuhan penduduk Indonesia yang akan semakin besar dan meningkat, kondisi ini sangat rentan terhadap munculnya konflik sosial. Oleh karena itu, solidaritas sosial di antara elemen bangsa perlu dipupuk.
Menuju Manusia BaruSoedjatmoko sudah membayangkan bahwa pergerakan bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan besar pada tingkat nasional dan global. Pada tingkat nasional, manusia mengalami transformasi sosial yang sangat besar. Transformasi sosial tersebut membawa dampak bagi perubahan pola hidup masyarakat dan tingkah laku manusia secara pribadi.
Perubahan sosial yang dipengaruhi oleh global tidak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat internasional yang berkaitan dengan perusakan hutan tropis, perubahan iklim, serta ancaman perang dan pemakaian senjata.
Perubahan-perubahan tersebut digerakkan oleh dua faktor utama, yaitu bertambahnya jumlah penduduk bumi serta pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di Indonesia, perubahan-perubahan tersebut berdampak bagi pembangunan atau aktivitas masyarakat. Perubahan tersebut akan membawa bangsa Indonesia pada keadaan yang tidak menentu dan tidak dapat diprediksi.
Namun, untuk menghadapi hal-hal tersebut diperlukan kemampuan yang sebaiknya dimiliki oleh bangsa Indonesia. Pertama, perlunya mencerna ilmu pengetahuan dan informasi yang banyak dengan pendekatan berpikir secara integratif dan konseptual. Kedua, kemampuan untuk bereaksi secara rasional untuk menghindari ketakutan dan kebimbangan. Ketiga, kemampuan untuk bersikap kreatif.
Kemudian, memiliki kepekaan sosial dan menjunjung tinggi keadilan. Selain itu, memiliki kepekaan terhadap toleransi sosial dan perubahan sosial. Terakhir, memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri yang dilengkapi dengan keyakinan terhadap iman yang kuat.
Beberapa kemampuan tersebut hanya dapat dikembangkan di dalam masyarakat yang demokratis, yang dapat beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
Bangsa Indonesia dan Lingkungan HidupBeberapa waktu yang lalu, Indonesia dikejutkan dengan bencana alam yang menimpa beberapa daerah, khususnya daerah-daerah di Pulau Sumatera, daerah-daerah di Pulau Kalimantan, sebagian daerah-daerah di Jawa Barat, dan beberapa daerah di wilayah timur Indonesia.
Bencana alam yang menimpa Indonesia menjadi ruang refleksi bersama untuk kembali menata ulang arah pembangunan yang berlandaskan pada lingkungan hidup. Soedjatmoko—melalui pemikirannya terkait lingkungan hidup dan manusia—telah memberikan isyarat bahwa pembangunan harus selaras dengan pelestarian lingkungan hidup.
Dalam konteks ini, diperlukan perbaikan pada kondisi daerah yang rusak, politik pembangunan yang sadar akan lingkungan hidup, dan politik lingkungan nasional yang diintegrasikan dengan strategi pembangunan.
Pembangunan nasional yang dilakukan melalui pengelolaan sumber daya alam harus dikelola dengan mempertimbangkan kebutuhan dan keberlanjutan manusia yang akan datang.
Sekarang, bangsa Indonesia harus mencari titik keseimbangan yang baru antara sasaran pembangunan dan menjaga lingkungan hidup. Pembangunan ke depan harus diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi masa sekarang dan juga generasi yang akan datang.
Tidak boleh ada pembangunan yang mengorbankan kepentingan masyarakat secara luas hanya untuk kepentingan yang bersifat sesaat dan jangka pendek.
Catatan AkhirDemikianlah beberapa pemikiran Soedjomoko yang sangat relevan dengan masa sekarang. Pemikiran Soedjamoko akan selalu hidup dalam mengarahkan kompas pembangunan bangsa Indonesia, khususnya dalam mempersiapkan bangsa Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing global.
Sumber daya manusia yang berdaya saing global merupakan salah satu sasaran pembangunan 19 tahun ke depan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Pergaulan bangsa Indonesia dengan masyarakat internasional merupakan suatu keniscayaan yang perlu dihadapi dan dipersiapkan dari sekarang, dengan dilengkapi oleh kemampuan-kemampuan abad 21 yang bersifat adaptif dan memiliki kepekaan terhadap perubahan sosial.




