Grid.ID- Kabar duka meninggalnya Rylan Henry Pribadi membuat publik kembali menaruh perhatian pada profil Henry Pribadi, pengusaha besar Indonesia. Rylan, cucu Henry Pribadi, meninggal dunia dalam usia 17 tahun akibat kecelakaan saat bermain ski di kawasan wisata Niseko, Hokkaido, Jepang, pada awal Januari 2026.
Peristiwa ini memicu gelombang ucapan belasungkawa dari berbagai tokoh nasional dan kalangan pengusaha. Di balik kabar tersebut, muncul kembali rasa ingin tahu publik mengenai latar belakang keluarga Pribadi dan kiprah sang konglomerat.
Nama Henry Pribadi pun kembali menjadi perbincangan luas di ruang publik. Nah, berikut ini profil Henry Pribadi secara menyeluruh berdasarkan informasi yang dihimpun dari Bangka Pos dan Kompas.com, Senin (19/1/2026).
Profil Henry Pribadi
Rylan Henry Pribadi merupakan putra dari pengusaha Reza Pribadi dan cucu Henry Pribadi. Kabar wafatnya Rylan disampaikan antara lain oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie melalui media sosial.
Dalam unggahannya, Airlangga Hartarto menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga besar Pribadi. "Saya dan Ibu Yanti menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ananda Rylan Henry Pribadi, putra dari sahabat kami, keluarga pengusaha nasional, Bapak Reza Pribadi dan cucu Bapak Henry Pribadi," tulis Airlangga Hartarto, dikutip dari BangkaPos Tribunnews, Senin (19/1/2026).
Sejak saat itu, perhatian publik kembali tertuju pada profil Henry Pribadi. Siapakah Henry Pribadi? Henry Pribadi merupakan sebagai pendiri dan tokoh sentral Napan Group.
Jejak Karier Henry Pribadi
Henry Setiawan Pribadi, yang juga dikenal dengan nama Tionghoa Liem Oen Hauw, lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 1948. Bersama dua saudaranya, Andry Pribadi dan Wilson Pribadi, ia mendirikan Napan Group pada Maret 1972.
Awalnya, Napan Group berangkat dari usaha dagang keluarga yang dikelola secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Seiring waktu, perusahaan ini berkembang pesat, khususnya pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Pada masa tersebut, profil Henry Pribadi identik dengan era ekspansi besar-besaran di berbagai sektor industri strategis.
Napan Group kemudian melakukan diversifikasi ke banyak bidang, mulai dari manufaktur, petrokimia, perkebunan, properti, perbankan, telekomunikasi, hingga media. Pada puncak kejayaannya, grup ini memiliki puluhan anak usaha dengan skala nasional.
Pada 1996, pendapatan Napan Group dilaporkan telah melampaui Rp 1 triliun. Bahkan, pada pertengahan 1990-an, sejumlah media asing mencatat nama Henry Pribadi sebagai salah satu wajib pajak terbesar di Indonesia, seiring keterlibatan perusahaannya dalam proyek-proyek industri besar, khususnya di sektor petrokimia.
Krisis moneter Asia 1997–1998 pun menjadi titik balik penting dalam perjalanan bisnis Henry Pribadi dan Napan Group. Perusahaan ini tercatat sebagai salah satu obligor besar Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), dengan kewajiban yang dilaporkan mencapai sekitar Rp 2,98 triliun.
Krisis tersebut memaksa grup melakukan restrukturisasi menyeluruh. Melalui proses panjang yang melibatkan pelepasan aset dan negosiasi dengan berbagai pihak, Napan Group berhasil bertahan, meski dengan skala usaha yang lebih kecil dibandingkan masa keemasannya.
Hingga kini, sejumlah unit usaha yang berkaitan dengan Napan Group masih beroperasi. Beberapa di antaranya adalah PT Argha Karya Prima Industry di sektor kemasan plastik, PT Lumbung Nasional Flour Mill di industri terigu, serta PT Sumatera Prima Fiberboard di sektor papan kayu.
Selain itu, bisnis keluarga Pribadi juga masih tercatat memiliki kepentingan di sektor properti, komunikasi, dan perhotelan. Fakta ini memperkuat profil Henry Pribadi sebagai pengusaha yang mampu bertahan melewati krisis besar.
Kehidupan Pribadi
Dalam kehidupan pribadi, Henry Pribadi diketahui memiliki anak. Salah satunya Reza Pribadi, yang dikenal aktif di dunia usaha dan terlibat dalam berbagai perusahaan swasta, termasuk sektor investasi dan pertambangan.
Kekayaan
Pasca krisis moneter dan restrukturisasi, kekayaan Henry Pribadi memang tidak lagi sebesar masa keemasan Napan Group. Namun demikian, profil Henry Pribadi menunjukkan bahwa ia tetap masuk jajaran pengusaha papan atas Indonesia.
Pada 2019, estimasi kekayaannya mencapai sekitar US$ 515 juta atau setara Rp7–8 triliun, bergantung pada nilai tukar. Estimasi tersebut didasarkan pada kepemilikan saham, aset properti, serta investasi keluarga yang masih berjalan hingga kini.
Demikianlah profil Henry Pribadi yang diperbincangkan publik usai kabar duka yang menimpa keluarganya beredar. Kepergian cucu tercinta membawa duka yang tak terucap bagi keluarga.
Catatan Redaksi
Sehubungan dengan adanya kekeliruan pada penggunaan foto, artikel ini disajikan kembali dalam versi pembaruan. Redaksi menyampaikan permohonan maaf kepada para pembaca dan pihak terkait atas hal tersebut. Kami berterima kasih atas perhatian serta masukan yang diberikan, yang menjadi bagian dari komitmen kami untuk terus menyajikan informasi yang akurat dan bertanggung jawab. (*)
Artikel Asli




