Beijing Minta Perusahaan China Setop Pakai Software Keamanan Siber AS - Israel

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah China baru-baru ini memberi perintah ke perusahaan dalam negerinya untuk berhenti menggunakan software keamanan siber yang dibuat sejumlah perusahaan AS dan Israel. Beberapa nama besar itu termasuk VMware (milik Broadcom), Palo Alto Networks, dan Fortinet dari AS, serta Check Point Software Technologies dari Israel.

Dilansir Reuters, para sumber yang menolak disebutkan namanya mengatakan Beijing punya alasan kekhawatiran keamanan nasional terkait software ini. Sumber lain mengatakan perusahaan lain yang perangkat lunaknya dilarang yakni Mandiant dan Wiz dari induk Google yakni Alphabet. Ada juga perusahaan AS, CrowdStrike, SentinelOne (SN), Recorded Future, McAfee, Claroty, dan Rapid7.

Perusahaan Israel, CyberArk masuk dalam daftar. Begitu pula Orca Security dan Cato Networks, keduanya adalah perusahaan Israel. Ada juga Imperva, yang dibeli oleh perusahaan pertahanan Prancis Thales pada tahun 2023.

Langkah ini terjadi di tengah ketegangan dagang dan teknologi antara China dan AS. Kedua negara bersaing dalam isu supremasi teknologi, sekaligus dorongan Beijing untuk mengganti teknologi asing dengan alternatif dalam negeri.

Sejumlah perangkat lunak dari perusahaan itu dikhawatirkan dapat mengumpulkan dan mengirimkan informasi rahasia ke luar negeri.

Bagaimana respons perusahaan yang masuk daftar larangan?

Perusahaan intelijen ancaman siber penyedia platform berbasis AI asal AS, Recorded Future, menyatakan dalam sebuah email bahwa mereka tidak melakukan bisnis di China dan tidak berniat untuk melakukannya. McAfee mengatakan bahwa posisi mereka adalah perusahaan yang berfokus pada konsumen dan teknologinya "tidak dirancang untuk penggunaan pemerintah atau perusahaan."

CrowdStrike merespons bahwa mereka tidak menjual layanan apa pun ke China dan tidak memiliki kantor, mempekerjakan orang, atau menyediakan infrastruktur di sana, sehingga dampaknya "hanya bisa sangat kecil."

Claroty mengatakan pihaknya tidak menjual layanan ke China. Dalam sebuah pernyataan, CEO Orca Security, Gil Geron, mengatakan perusahaannya belum diberi tahu tentang langkah tersebut. Geron menambahkan bahwa perusahaannya fokus pada pertahanan dan bahwa larangan tersebut "akan menjadi langkah yang salah."

Di sisi lain, dalam perdagangan bursa di pasar AS pada Rabu (14/1), saham Broadcom di NASDAQ turun lebih dari 4%. Saham Palo Alto hampir tidak mengalami fluktuasi. Saham Check Point ditutup sedikit naik. Saham Fortinet turun lebih dari 2%. Saham Rapid7 turun lebih dari 1%.

AS dan China, kini berada dalam fase 'gencatan senjata' dagang. Menurut laporann Reuters, AS sedang mempersiapkan kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing pada bulan April mendatang.

Hubungan perdagangan AS dan Chinakembali memanas usai kabar China yang kini tengah berambisi membangun sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan.

Para analis China mengatakan bahwa Beijing semakin khawatir layanan keamanan siber AS maupun Israel jadi pintu masuk aksi peretasan kekuatan asing. Atas dasar itulah China berupaya mengganti peralatan komputer dan perangkat lunak sampai layanan keamanan sibernya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ini Sebut Insiden ATR 42-500 Jadi Warning Serius bagi Industri Penerbangan di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Sumur SLW-C4X Beroperasi, Produksi Minyak Pertamina EP Papua Field Tembus 2.020 Bph
• 25 menit lalubisnis.com
thumb
Gempuran Berkelanjutan Rusia Merusak Infrastruktur Energi Ukraina dengan Parah
• 11 jam laluerabaru.net
thumb
Makna dan Lirik Tabola Bale, Lagu Timur yang Viral di Korea Selatan
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Begini Kronologi Penemuan Pesawat ATR 42-500
• 10 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.