Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dengan tercatatnya enam kali erupsi dengan tinggi letusan 300 meter hingga 1 kilometer pada Senin pagi.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.22 WIB, diikuti dengan erupsi berikutnya masing-masing pukul 00.36 WIB, 00.50 WIB, 05.19 WIB, 06.44 WIB, dan 08.36 WIB.
Erupsi tertinggi yang teramati berlangsung pada pukul 05.19 WIB, dengan tinggi kolom letusan yang mencapai 1.000 meter di atas puncak Gunung, atau setara dengan 4.676 meter di atas permukaan laut.
Aktivitas seismik Gunung Semeru pada Senin pukul 00.00-06.00 WIB tercatat 36 kali gempa letusan atau erupsi, dengan amplitudo berkisar antara 12-22 mm, dan durasi antara 86-156 detik.
Selain itu, juga terjadi 3 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-7 mm dan lama gempa 33-73 detik.
Status Gunung SemeruBerdasarkan pengamatan, kolom abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Semeru berwarna putih hingga kelabu, dan memiliki intensitas sedang. Kolom abu ini teramati bergerak ke arah timur laut.
Hingga saat ini, status Gunung Semeru masih berada pada level siaga atau Level III. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting untuk menjaga keselamatan masyarakat. Ditekankan bahwa masyarakat tidak diperkenankan untuk beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, dengan radius 13 km dari puncak gunung yang menjadi pusat erupsi.
Selain itu, direkomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan, karena terdapat potensi terkena dampak dari perluasan awan panas dan aliran lahar.
Selain itu, wilayah sepanjang aliran sungai Semeru, termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, merupakan area yang juga harus diwaspadai karena berpotensi terkena dampak dari aktivitas vulkanik Gunung Semeru.



