Gerakan Rakyat Deklarasi Jadi Parpol, Pengamat: Anies Baswedan Tak Cukup Andalkan Akar Rumput

suara.com
9 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Gerakan Rakyat menargetkan pendaftaran partai politik di Kementerian Hukum selesai pada Februari 2026.
  • Kemunculan partai ini menyoroti sentralitas kandidat dan perlunya dukungan elit politik untuk keberhasilan partai.
  • Keberhasilan partai baru memerlukan strategi politik matang karena Pemilu 2029 diprediksi padat serta pemilih cenderung spektrum ideologi tengah.

Suara.com - Kelompok ini menargetkan pendaftaran sebagai partai politik di Kementerian Hukum rampung pada Februari 2026 mendatang.

Selain menyiapkan langkah administratif, Gerakan Rakyat secara terbuka menyatakan harapannya agar Anies Baswedan maju dan terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia di masa mendatang.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Arga Pribadi Imawan, menilai kemunculan Partai Gerakan Rakyat menunjukkan kuatnya peran figur dalam dinamika politik Indonesia saat ini.

"Tentu saja ini menunjukkan fenomena sentralitas kandidat, di mana figur kandidat itu menjadi kunci dalam mendriven gerakan warga, gerakan rakyat untuk mentransformasikan diri menjadi partai politik," kata Arga saat dihubungi Suara.com, Senin (19/1/2026).

Menurut Arga, kemunculan partai yang berangkat dari basis akar rumput merupakan langkah positif.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan partai baru tidak cukup hanya mengandalkan dukungan massa.

Lebih dari itu dibutuhkan pula jejaring elit politik yang ada sekarang. Apalagi dengan Anies yang sudah ditunjuk sebagai tokoh sentral dari gerakan ini.

"Perlu diperhatikan juga apabila hal ini ingin dibilang sukses maka langkah selanjutnya yang perlu didorong oleh Anies Baswedan sebagai tokoh sentral dari gerakan ini yaitu merangkul jajaran elit politik di Indonesia," tuturnya.

Penting bagi akar rumput untuk mengombinasikan kekuatan yang ada dengan dukungan elit politik. Tujuannya agar partai memiliki daya tawar politik yang lebih kuat dalam kontestasi ke depan.

Baca Juga: Pakar UIKA Dukung Anies Desak Status Bencana Nasional untuk Aceh dan Sumatera

"Kedua kita berbicara secara institusional bahwa dari sistem pemilu kita mewajibkan kandidat yang maju harus memiliki dukungan partai politik," kata Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM tersebut.

Arga tak lupa menyoroti peta persaingan menuju Pemilu 2029 yang dinilai semakin padat.

Ia menyebut sejumlah nama yang berpotensi menjadi rival Anies Baswedan di masa mendatang, sehingga menuntut strategi politik yang lebih matang.

Misalnya saja dari Prabowo Subianto yang berpotensi kembali mencalonkan diri, hingga ketokohan partai yang lain seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Prabowo dan Anies Baswedan. [Ist]

Tantangan Elektoral dan Strategi Ideologi

Selain faktor figur dan institusi, Arga menekankan pentingnya membaca tren perilaku pemilih di Indonesia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Alasan GKR Timoer Interupsi Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat Acara Penyerahan SK Keraton Solo
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Gempa 5,0 Magnitudo Guncang Bolsel, Sulut
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Rp200 Jutaan, Segini Biaya Daihatsu Rocky Dipakai Sehari-hari
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
“Tulang Punggung”, Penanda Kembalinya Fiersa Besari ke Industri Musik, Simak Lirik Lagunya
• 22 jam lalumerahputih.com
thumb
BPOM Meraih WHO Listed Authority: Tekad Indonesia Pasok Obat Lokal ke Pasar Global
• 16 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.