HARIAN FAJAR, MAROS – Destinasi wisata baru ditawarkan anak muda Dusun Pajjaiang, Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Maros. Tempat yang tepat untuk melepas penat.
Meski belum tertata rapi, tempat permandian yang diberi nama Bendungan Mini Pannampu ini, sudah ramai pengunjung.
Sejumlah pengunjung mendirikan tenda. Kemudian bakar ikan dan menikmati sejuknya air yang bersumber dari pegunungan karst.
Sesuai namanya, bendungan ini kolamnya juga mini. Terbagi dua. Ada yang dangkal dan cocok untuk anak-anak. Ada pula untuk orang dewasa. Airnya sejuk dan bersih.
Di samping kolam ada sungai bening yang mengalir di antara bebatuan.
Bagi yang punya nyali bisa menikmati air di bagian dalam di antara stalagmit karst. Akan tetapi, harus hati-hati karena areanya licin dan batunya tajam.
Untuk mencapai lokasi ini harus menyiapkan stamina ekstra, karena jarak dari jalan raya sekitar satu kilometer. Melewati kebun warga dan pematang sawah yang licin.
Ada satu jalur licin yang kanan-kiri berpagar kawat berduri. Saat melintasinya harus benar-benar waspada untuk mencari pegangan yang aman agar tidak tertusuk kawat berduri.
“Senjata” lain yang harus disiapkan adalah payung agar tidak terbakar panas matahari. Bawa bekal air dan makanan, karena di lokasi wisata belum ada warung.
Meski medan sulit dan jauh, tetapi bagus untuk olahraga alam.
Pemandangannya eksotis. Ada gunung karst, hamparan sawah hijau, air irigasi bening, dan petani yang sedang panen kacang.
Kalau beruntung, bisa menyaksikan anak muda naik sepeda motor modifikasi. Mereka mengangkut hasil panen di jalan licin.
Pemandangan itu adalah nikmat lain yang dapat disaksikan di tempat ini.
Lelah? Pasti. Akan tetapi, semua itu terbayar lunas. Membuat kita sejenak melupakan kepenatan.
Sebelum pulang, rehatlah sejenak di atas pematang sawah. Di bawah teduhnya pohon mangga. Ambil gambar dengan latar bentangan karst yang kukuh. Syukuri sehatmu karena masih bisa sampai di sini.
Jika ke sini, jangan jalan sendiri. Temuilah anak-anak muda di dusun Pajjaiang. Mereka sigap mengawal, memarkirkan kendaraan atau meminjamkan sandal.
Tidak ada tarif. Mereka adalah anak-anak muda yang mau memajukan desanya.
Saya sudah merasakan keramahan mereka, Minggu (18/1/2026). Mereka rela melepas sandal dan meminjamkan alas kakinya.
Lantaran berjalan kaki jauh, kaki saya lecet karena gesekan sandal. Namun, luka lecet itu tak sebanding indahnya perjalanan. (erni)




