Bisnis.com, JAKARTA — Tingkat kepemilikan investor domestik di pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih berpotensi meningkat pada 2026, seiring dengan terbatasnya minat investor asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia.
Pengamat pasar modal, Martin Aditya, menilai, daya tarik SBN bagi investor global masih relatif rendah karena selisih imbal hasil (spread) antara obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor sama belum cukup lebar.
“Spread government bond Indonesia 10 tahun dengan US Treasury 10 tahun masih di kisaran 190–200 basis poin, sehingga dari sisi investor asing masih kurang menarik,” ujar Martin, dikutip Senin (19/1/2026).
Selain itu, tren penurunan suku bunga global yang semakin kuat juga membuat instrumen pasar uang dan pendapatan tetap kehilangan daya saing dari sisi imbal hasil. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong investor untuk lebih melirik instrumen saham yang menawarkan potensi return lebih tinggi.
Dia memaparkan, di tengah tren penurunan suku bunga, imbal hasil instrumen pasar uang dan pendapatan tetap (fixed income) seperti SBN menjadi kurang kompetitif di mata para investor asing dibandingkan saham yang lebih menarik.
Martin menambahkan, perbedaan karakter antara investor asing dan domestik juga turut memengaruhi struktur kepemilikan SBN. Investor asing cenderung bersifat jangka pendek dan lebih aktif melakukan transaksi perdagangan (trading), sementara investor lokal memiliki kecenderungan menahan obligasi hingga jatuh tempo.
Baca Juga
- SBN Masih Jadi Andalan Investasi Dana Pensiun di 2026
- Analis Ramal Kupon SBN Ritel 2026 Maksimal 5,65%
- SBN Ritel ORI029 Segera Meluncur, Intip Proyeksi Kuponnya di Sini
“Investor asing lebih trading, sedangkan investor lokal cenderung hold untuk jangka panjang. Trading biasanya hanya dilakukan jika membutuhkan likuiditas,” ujarnya.
Dari sisi stabilitas pasar, Martin menilai dominasi investor domestik justru memberikan dampak positif. Menurutnya, selama fundamental perekonomian nasional tetap kuat dan Bank Indonesia (BI) konsisten melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasar, peningkatan kepemilikan investor lokal dinilai tidak akan menimbulkan tekanan berarti.
Sebaliknya, jika kepemilikan asing terhadap SBN lebih dominan, dia menyebut volatilitas pasar dapat lebih tinggi. Hal tersebut karena para investor asing membandingkan instrumen SBN RI dengan negara lain yang mungkin menawarkan imbal hasil dan indikator ekonomi yang lebih menarik.
Perubahan BerkelanjutanSenada, Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet memprediksi tren kenaikan kepemilikan investor lokal di SBN kemungkinan besar masih akan berlanjut ke 2026. Menurutnya, kenaikan jumlah investor lokal tersebut bukan tren yang sifatnya sementara.
Dia menjelaskan, perubahan struktur investor di pasar obligasi negara umumnya terjadi secara bertahap dan membutuhkan waktu lama, kecuali memang dipicu oleh kondisi yang sangat ekstrem.
"Selama tidak ada guncangan besar, arah perubahannya cenderung berkelanjutan," jelas Yusuf.
Dia menambahkan, potensi kelanjutan tren ini juga ditopang oleh peran Bank Indonesia dalam kerangka kolaborasi kebijakan fiskal dan moneter yang masih cukup kuat.
Meski secara klasifikasi berbeda dengan investor ritel atau institusi keuangan lainnya, dalam statistik kepemilikan SBN, BI tetap tercatat sebagai investor lokal, sehingga porsi domestik secara keseluruhan tetap terjaga.
Yusuf melanjutkan, dengan dominasi kepemilikan lokal yang semakin besar, volatilitas pasar SBN cenderung lebih rendah. Hal tersebut karena ketergantungan terhadap arus modal asing berkurang.
Selain itu, yield SBN juga akan menjadi lebih dipengaruhi oleh faktor domestik dibandingkan sentimen global jangka pendek. Di sisi lain, kondisi ini membuat peran kebijakan fiskal dan moneter menjadi semakin menentukan dalam pembentukan yield di pasar.
Yusuf menambahkan, perbedaan perilaku investor asing dan lokal di pasar SBN cukup jelas. Dia mengatakan, investor asing biasanya jauh lebih responsif terhadap sentimen global, seperti arah kebijakan suku bunga AS, pergerakan dolar AS, atau perubahan selera risiko global. Oleh karena itu, arus dana asing cenderung lebih fluktuatif dan bersifat jangka pendek.
"Sebaliknya, investor lokal, seperti perbankan, asuransi, dana pensiun, dan juga Bank Indonesia, lebih berorientasi jangka menengah hingga panjang dan didorong oleh kebutuhan struktural, misalnya pengelolaan likuiditas dan kewajiban. Hal ini membuat perilaku investor domestik relatif lebih stabil," katanya.




