Kuncoro, asisten pelatih Arema FC, meninggal dunia usai sempat tak sadarkan diri saat bermain sepak bola di Stadion Gajayana, Malang. Ia bermain dalam pertandingan ekshibisi bertajuk Trofeo Menuju 100 Tahun Stadion Gajayana Malang, Minggu (18/1) sore WIB.
Pertandingan berjalan selama 20 menit di babak pertama, mempertemukan para legenda lapangan hijau dari Arema, Persema, dan Persik. Beberapa pemain legendaris seperti Siswantoro, yang juga jadi asisten pelatih Arema FC; legenda Persebaya Surabaya, Anang Ma'ruf; Hermawan, hingga Doni Suherman juga ikut bagian.
Menurut Siswantoro, selama pertandingan berlangsung, tak ada keluhan apa pun dari Kuncoro. Ia tahu betul kondisi Kuncoro, karena ia sudah puluhan tahun bersama Kuncoro baik sebagai pemain hingga masuk tim kepelatihan. Ia sudah menganggapnya sebagai sahabat.
"Kondisi awalnya kita kumpul biasa nggak tanda sama sekali, normal saja, Pak Kun juga ikut main 20 menit, main sama saya. Main pun juga normal nggak terlalu tinggi, nggak terlalu keras, nggak ada tanda-tanda, biasanya ada keluh sakit, ini nggak ada sakit, 20 menit normal selesai," kata Siswantoro ditemui media usai proses pemakaman Minggu (18/1) tengah malam WIB.
Ketika babak pertama berakhir, Kuncoro duduk di bench, di samping Anang Ma'ruf. Tiba-tiba, pria kelahiran Singosari itu kejang-kejang dan tak sadarkan diri. Hal ini membuat Anang panik, hingga memanggil Siswantoro dan beberapa orang yang ada di sana.
"Saya tidurkan tahu-tahu sudah itu (mengeluarkan suara dari mulutnya) dikasih bantuan sama yang lain sambil menunggu ambulans datang. Dikasih bantuan antara 15-30 menitan," ucapnya.
Kuncoro lantas diberikan perawatan di pinggir lapangan, termasuk dengan metode resusitasi atau pertolongan pertama pada bagian jantung dengan menekannya. Setelah pertolongan pertama diberikan, ambulans lantas membawa Kuncoro ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Di dalam ambulans itu Siswantoro sempat menemani sahabatnya, yang masih dalam kondisi hidup.
"Ketika nggak sadar masih ada suara dan sempat meneteskan air mata, sambil menunggu itu medis datang dan langsung menolong. Saya membantu di lapangan dan di dalam ambulans saya mengantar itu. Selanjutnya ditangani tim medis, (waktu di ambulans) sepengetahuan saya masih (hidup) ada suara, tapi nggak tahu kalau secara medis gimana," jelasnya.
Setibanya di RSSA Malang, Kuncoro sempat mendapat perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga dinyatakan meninggal dunia sekitar kurang lebih pukul 18.00 WIB. Dirinya pun tak tahu riwayat sakit yang diderita Kuncoro. Sebab selama ini juga tak ada keluhan penyakit berat, seperti jantung yang dideritanya.
"Saya nggak tahu diagnosisnya, dokter belum (ngasih tahu), saya nggak tahu (sakitnya), cuma (riwayat sakit) Pak Kun darahnya rendah. Ya hari Rabu sama Kamis, katanya sakit, cuma katanya sakit apa saya nggak tahu, kayaknya capek kan batuk pilek saya juga kena, kalau pun sakit biasanya saya minta istirahat," paparnya.
Sementara itu, General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi, mengatakan bahwa kepergian Kuncoro begitu memukul kondisi tim yang tengah mempersiapkan diri untuk putaran kedua Super League. Selama ini Kuncoro disebut kerap menjadi pencair ketegangan kondisi di lapangan.
"Orangnya kan suka guyon. Tadi saya katakan ke pemain yang datang juga, kita akan kehilangan sosok coach yang bisa mencairkan suasana di lapangan itu khasnya beliau dari dulu mulai sekarang," kata Yusrinal, usai pemakaman Kuncoro di Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.




