Tahun lalu saat hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) diumumkan dan nilainya rendah, publik pun cemas, saling menyalahkan, lalu mencari penjelasan cepat. Pandemi dituding sebagai biang keladi. Media sosial pun 'disalahkan'. Anak-anak dianggap kurang fokus, kurang disiplin, bahkan diam-diam dinilai kurang cerdas.
Padahal, jika kita mau jujur membaca data dan riset, cerita sesungguhnya jauh lebih panjang dan jauh lebih dalam. Nilai TKA yang rendah bukanlah kejadian mendadak, dan bukan pula kegagalan satu-dua tahun terakhir. Hasil TKA adalah alarm keras dari krisis belajar yang sudah lama tumbuh di bawah permukaan.
Lebih dari satu dekade lalu, jauh sebelum pandemi COVID-19 dan sebelum gawai serta media sosial menjadi bagian dominan dari hidup anak-anak, ekonom pendidikan Harvard Lant Pritchett sudah mengeluarkan peringatan keras tentang pendidikan Indonesia.
Dalam kajiannya atas data Indonesia periode 2000-2014, Pritchett menunjukkan fakta yang mengejutkan bahwa lama sekolah meningkat signifikan, tetapi kemampuan numerasi dasar nyaris tidak bergerak. Rata-rata anak muda usia 18-24 tahun yang mampu menjawab soal aritmetika sederhana, hanya meningkat dari 31,2% menjadi 31,4% dalam 14 tahun.
Upaya menggambarkan skala masalah ini, Pritchett menggunakan ilustrasi yang kuat yaitu dengan laju perubahan seperti saat studi dilakukan, maka pencapaian target kemampuan dasar anak-anak di Indonesia, berpotensi memakan waktu hingga lebih dari seribu tahun.
"At the current rate of change, achieving this modest goal would take over a thousand years ((.5 − .314) / .017) = 1112). Indonesian youth would be ready for the 21st century in the 31st century."
Kalimat ini bukan ramalan literal tentang masa depan Indonesia. Ini adalah peringatan ilmiah, cara insan akademik untuk mengatakan bahwa jika perbaikan pembelajaran berjalan setipis itu, maka sistem pendidikan sedang bergerak terlalu pelan untuk menghadapi tantangan abad ke-21.
Dengan kata lain, angka 'seribu tahun' akan bijak, bila digunakan untuk menggugah kesadaran, bukan untuk menakut-nakuti.
Poin terpenting dari Pritchett bukan pada angka, melainkan pada diagnosis sistemiknya. Indonesia berhasil memperluas akses pendidikan, meningkatkan partisipasi sekolah, bahkan menaikkan anggaran secara signifikan. Namun, semua itu tidak otomatis menghasilkan peningkatan kemampuan berpikir dasar.
Masalahnya terletak pada cara kita memahami pendidikan. Sekolah terlalu lama diperlakukan sebagai urusan administratif yaitu:
1. hadir
2. duduk di kelas
3. menyelesaikan silabus
4. lulus ujian
Padahal belajar sejati adalah proses manusiawi yang kompleks, yang membutuhkan latihan berpikir bertahap; pemahaman konsep, bukan hafalan; diskusi, refleksi, dan penerapan; serta guru yang memfasilitasi proses berpikir, bukan sekadar menyampaikan materi.
Ketika sistem lebih sibuk mengelola kepatuhan daripada pemahaman, yang naik adalah kuantitas (jumlah) ijazah, bukan kapasitas berpikir.
Pandemi dan Digitalisasi: Pengganda Masalah, Bukan Akar Masalah
Pandemi COVID-19 memang mengguncang pendidikan di seluruh dunia. Hampir semua negara mengalami learning loss. Namun, dampaknya tidak sama.
Negara dengan fondasi belajar yang kuat mengalami gangguan sementara. Sedangkan, negara yang sejak awal mengalami learning crisis, seperti yang diperingatkan Pritchett, akan terus mengalami akselerasi krisis.
Akselerasi digital kemudian memperbesar tantangannya karena pertama kebiasaan membaca panjang makin jarang; latihan berpikir mendalam tergeser oleh konten cepat; dan belajar mudah berubah menjadi sekadar menyelesaikan tugas.
Namun, penting ditegaskan kembali bahwa media sosial dan teknologi bukan penyebab awal rendahnya nilai TKA. Kedua hal tersebut, hanya mempercepat dan memperjelas masalah lama yang sudah ada jauh sebelum pandemi dan era digital.
Tes seperti TKA sering terasa keras karena "membuka" kelemahan siswa. Padahal sesungguhnya, TKA adalah cermin sistem pendidikan.
Soal TKA menuntut sedikitnya empat hal yaitu: penalaran bertahap; pemahaman konsep; konsentrasi yang bertahan; kemampuan menghubungkan informasi lintas konteks.
Jika pengalaman belajar harian anak lebih banyak melatih hafalan cepat dan jawaban instan, maka hasil TKA bukan kegagalan anak, melainkan ketidaksinkronan antara cara belajar dan cara menilai.
Mengapa Pendekatan Sekolah IB Menjadi Relevan
Di titik inilah pendekatan International Baccalaureate (IB) menjadi relevan untuk dibicarakan, bukan sebagai simbol sekolah mahal atau eksklusif, melainkan sebagai contoh cara merancang pembelajaran yang tepat sasaran.
Sejak awal, pendekatan IB tidak menempatkan siswa sebagai penghafal materi, tetapi sebagai pembelajar yang dilatih untuk berpikir. Di ruang kelas, siswa diajak untuk bertanya, berdiskusi, dan merenungkan kembali apa yang mereka pelajari, bukan sekadar menerima jawaban jadi.
Anak-anak dibiasakan membaca bahan bacaan yang lebih panjang, memahami isinya secara utuh, lalu menyampaikan pendapat mereka dengan alasan yang jelas dan runtut. Proses berpikir ini juga dinilai secara terbuka, dengan kriteria yang jelas, sehingga siswa tahu bagaimana cara berpikir yang baik, bukan hanya tahu jawaban mana yang benar.
Pendekatan seperti ini penting di era sekarang, ketika anak-anak hidup di dunia yang serba cepat, tetapi justru membutuhkan ruang untuk berpikir lebih dalam dan lebih tenang. Salah satu contoh pendekatan penting dalam IB adalah materi Theory of Knowledge (TOK). Melalui mata pelajaran ini, siswa diajak untuk berpikir tentang cara berpikir itu sendiri. Mereka belajar mempertanyakan dari mana sebuah pengetahuan berasal, bagaimana kebenarannya diuji, dan untuk apa pengetahuan itu digunakan dalam kehidupan nyata.
Latihan seperti ini sangat relevan dengan tantangan yang sering terlihat dalam hasil TKA. Banyak siswa sebenarnya mampu mengerjakan soal contoh, tetapi menjadi kesulitan ketika bentuk soal diubah atau konteksnya berbeda. TOK melatih siswa untuk memahami alasan di balik jawaban, bukan sekadar mengingat pola, sehingga mereka lebih siap menghadapi berbagai situasi soal yang menuntut pemikiran yang lebih fleksibel dan mendalam.
Yang penting dipahami, solusi dari metode IB, bukan berarti semua sekolah harus menjadi sekolah IB. Nilai utamanya justru pada prinsip-prinsip yaitu: pembelajaran berbasis pertanyaan; tugas yang menuntut penalaran; penilaian yang menghargai proses berpikir; dan evaluasi yang kredibel tanpa mematikan konteks lokal.
Nilai TKA yang rendah bukan cerita tentang generasi yang gagal. Ini kisah tentang sistem pendidikan yang terlalu lama mengukur kehadiran, bukan pemahaman.
Pritchett sudah memperingatkan jauh sebelum pandemi dan sebelum era digital berlari kencang setelahnya. Pandemi memang mengguncang, teknologi pun mempercepat, tetapi akar masalahnya sudah lama ada.
Kabar baiknya, karena ini adalah tantangan desain sistem, maka, fenomena ini masih bisa diperbaiki. Dengan mengembalikan pendidikan pada hakikatnya yaitu melatih cara berpikir, bukan sekadar menuntaskan sekolah. Oleh karenanya, kita tidak perlu menunggu "seribu tahun" untuk melihat perubahan. Perubahan itu dapat dimulai sekarang, dengan berpihak pada proses belajar yang sesungguhnya.
Dr. Devie Rahmawati, CICS
Wakil Pembina Kader Bangsa Foundation (YPKBI)
(knv/knv)



