Presiden Donald Trump mengatakan akan memberikan tarif impor tambahan sebesar 10% pada delapan negara Eropa mulai 1 Februari 2026, karena dinilai menghalangi niat Amerika Serikat menguasai Greenland. Ekonom menilai kebijakan ini tidak serta-merta membuka peluang besar bagi ekspor Indonesia ke pasar AS.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Faisal, menilai secara teori kebijakan tarif tersebut memang dapat menurunkan daya saing produk Eropa di pasar Amerika Serikat. Kondisi itu berpotensi membuka ruang bagi negara lain untuk mengambil sebagian pangsa pasar.
“Secara logika, kalau delapan negara Eropa dikenakan tarif tambahan 10%, daya saing produk ekspor mereka ke Amerika tentu turun. Itu membuka peluang bagi negara pesaing untuk mengambil pasar mereka,” ujar Faisal kepada Katadata.co.id, Senin (19/1).
Namun, peluang tersebut kecil bagi Indonesia karena struktur dan jenis produk ekspor Indonesia ke AS berbeda dengan produk unggulan negara-negara Eropa.
“Kalau dilihat dari kesamaan produk, ekspor Indonesia ke Amerika dengan ekspor Eropa ke Amerika itu berbeda. Jadi kemungkinan Indonesia mengambil pasar dari Eropa relatif kecil,” kata dia.
Faisal memaparkan, Indonesia selama ini mengekspor produk seperti pakaian jadi, tekstil, alas kaki, produk perikanan, serta minyak sawit ke Amerika Serikat. Sementara negara-negara Eropa lebih banyak mengekspor produk bernilai tambah tinggi seperti permesinan, elektronika, dan otomotif, baik dalam bentuk barang jadi maupun setengah jadi.
“Dari sisi tingkat kesamaan produknya kecil. Jadi dampaknya ke Indonesia, untuk saat ini, masih relatif terbatas,” ujarnya.
Peluang justru disebutnya akan lebih besar dinikmati negara-negara lain yang memiliki konfigurasi dan struktur ekspor ke Amerika Serikat yang mirip dengan delapan negara Eropa tersebut.
Memperbesar KetidakpastianTerkait dampak kebijakan tarif tersebut terhadap hubungan impor-ekspor Indonesia secara umum, Faisal menilai situasinya masih penuh ketidakpastian. Menurutnya, arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat di bawah Trump sulit diprediksi.
“Ketidakpastiannya tinggi karena sangat bergantung pada mood kebijakan Trump. Kalau Indonesia melakukan langkah atau tawaran yang tidak mereka sukai, risikonya juga besar,” katanya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan Indonesia dalam menyusun strategi perdagangan dan politik luar negeri di tengah dinamika global yang tidak stabil.
Senada, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai dalam ancaman tarif Trump ke Uni Eropa, diprediksi sedikit berdampak kepada ekspor dan impor di Indonesia, baik dengan AS ataupun negara-negara Uni Eropa.
“Dinamika ini tetap akan menekan perdagangan global, yang ujungnya berdampak secara tidak langsung ke ekspor-impor Indonesia,” ujar Wijayanto.
Dampak terbesar justru diproyeksikan akan dirasakan pada sektor keuangan, terutama nilai tukar rupiah yang berpotensi semakin volatil dan tertekan. Selain itu, aliran investasi, baik portofolio maupun investasi langsung, berisiko tergerus karena investor cenderung beralih ke aset berdenominasi mata uang kuat.
Wijayanto mengatakan bahwa dalam situasi ini, dampak penurunan perdagangan global alias trade reduction akan lebih dominan dibandingkan potensi pengalihan perdagangan atau trade diversion ke Indonesia.
“Produk Indonesia bukan substitusi langsung produk Amerika Serikat maupun Eropa, sehingga peluang mengisi celah pasar relatif terbatas,” ujarnya.
Ia mendorong pemerintah untuk tetap fokus memperbaiki diversifikasi dan daya saing produk ekspor nasional, termasuk melalui perbaikan iklim usaha. Selain itu, percepatan perundingan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (EU-CEPA) dinilai penting, terutama ketika Uni Eropa membutuhkan mitra dagang yang lebih andal.
“Belajar dari ketidakpastian kebijakan Trump, Indonesia perlu merespons secara lebih relaks dan tidak overshooting, karena banyak ide Trump yang pada akhirnya tidak berjalan,” katanya.
Trump Berlakukan Tarif Tambahan 10% pada 8 Negara Eropa Pendukung GreenlandSebelumnya, dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan tarif impor tambahan 10% berlaku untuk barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris Raya. Sebelumnya, Trump Sudah memberlakukan tarif impor pada delapan negara itu.
"Tarif tersebut akan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni dan akan berlanjut hingga kesepakatan tercapai agar AS membeli Greenland", tulis Trump pada Sabtu waktu setempat (18/1).
Trump bersikukuh ingin memiliki Greenland, wilayah otonom Denmark, meski Denmark dan Greenland menolak keras dan menegaskan pulau itu tidak untuk dijual. Ia menilai Greenland penting bagi keamanan AS karena letaknya yang strategis dan kekayaan mineral, bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan.
Sementara itu, negara-negara Eropa mengirim personel militer ke Greenland atas permintaan Denmark. Negara-negara yang disebut Trump mendukung Denmark, memperingatkan bahwa perebutan wilayah di NATO oleh militer AS bisa menyebabkan runtuhnya aliansi militer yang dipimpin Washington.



