Bisnis.com, KARAWANG - Indonesia segera memiliki fasilitas fraksionasi plasma darah pertama dan terbesar se-Asia Tenggara. Kehadiran pabrik ini akan mengakhiri ketergantungan impor produk obat derivat plasma (plasma derived medicinal products/PODP).
Selama ini, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengolah plasma darah dari hasil donor darah setiap tahunnya. Ketiadaan fasilitas fraksionasi atau pemisahan zat di Indonesia membuat lebih dari 200.000 liter per tahun plasma terbuang. Alhasil, kebutuhan plasma di Indonesia harus dipenuhi lewat impor 100%.
Untuk mengoptimalkan potensi plasma yang terbuang tersebut, PT SK Plasma Core Indonesia menginisiasi pengadaan pabrik fraksionasi plasma pertama. Perusahaan tersebut merupakan join venture antara perusahaan asal Korea Selatan, SK Plasma dan Indonesia Investment Authority (INA).
Pabrik fraksionasi plasma darah pertama ini berlokasi di kawasan Karawang International Industrial City (KIIC) seluas 5 hektare dan ditargetkan dapat beroperasi pada akhir 2026. Pembangunannya sudah berjalan selama 18 bulan dan kini progres konstruksi mencapai 98,72%.
Presiden Direktur PT SK Plasma Core Indonesia Ted Roh mengatakan, pengembangan proyek ini akan menjadi momen bersejarah bagi Indonesia untuk memacu kemandirian industri obat dan kesehatan nasional.
“Pada akhir tahun 2026, kami akan memasukkan plasma darah dari masyarakat ke manufaktur lokal. Dengan menggunakan fraksionasi kami di Indonesia, kami bisa menghasilkan produk medis dari bahan baku lokal dan untuk dalam negeri,” kata Ted di Pabrik SK Plasma Core Indonesia, Kamis (18/12/2025).
Dia meyakini pabrik dengan kapasitas produksi 600.000 liter plasma darah per tahun ini akan memperkuat keandalan sistem kesehatan Indonesia dengan menghasilkan produk-produk PODP, seperti imunoglobulin, albumin, dan factor VIII yang sebelumnya mengandalkan impor.
Sebagai gambaran, produk imunoglobulin merupakan PODP untuk penanganan imunodefisiensi dan penyakit autoimun, seperti primary immunodeficiencies (PID), sindrom Guillain-Barré (GBS), penyakit Kawasaki, serta immune thrombocytopenic purpura (ITP).
“Contohnya, semasa pandemi COVID-19, kita tidak memiliki obat. Sebelum kita mengembangkan vaksin, kita tidak memiliki metode penyembuhan. Tetapi dengan menggunakan imunoglobulin, kita bisa meningkatkan imunitas manusia,” jelasnya.
Sementara itu, produk albumin adalah PODP untuk meningkatkan kadar albumin dalam darah atau mengatur volume darah pada kondisi seperti hypoalbuminemia, syok hemoragik, luka bakar, penyakit hati, dan asites.
Untuk produk faktor VIII yaitu PODP untuk penyediaan protein yang diperlukan untuk pembekuan darah yang digunakan untuk mencegah atau menangani pendarahan pada hemofilia A.
Dengan lepas dari ketergantungan impor, maka Indonesia mestinya tidak lagi khawatir akan terekspos pada volatilitas harga global dan ketidakstabilan pasokan, khususnya pada saat krisis, yang meningkatkan biaya layanan kesehatan serta risiko bagi pasien.
Di sisi lain, dia menerangkan fasilitas SK Plasma ini mengadopsi sistem dan model operasional dari fasilitas SK Plasma di Andong, Korea Selatan, yang telah beroperasi sejak 2018 dan memasok obat-obatan turunan plasma ke 17–20 negara di seluruh dunia.
Saat ini, pihaknya juga telah mengolah plasma darah dari Indonesia yang dikirim ke fasilitas fraksionasi di Andong untuk dijadikan produk terapi esensial. Langkah ini merupakan bagian dari aktivasi program toll manufacturing paralel dengan fasilitas SK Plasma di Andong.
Pada Maret 2025, RSUP Dr. Sardjito dan Palang Merah Indonesia (PMI) berhasil mengirimkan batch pertama plasma yang dikumpulkan dari donor Indonesia ke fasilitas SK Plasma di Korea untuk diproses menjadi PODP.
Setelah melalui proses fraksionasi dan penjaminan mutu berstandar internasional di Korea Selatan, plasma tersebut diolah menjadi dua terapi esensial, yaitu SK Albumin dan SK GammaBio, yang secara resmi diluncurkan oleh PT SK Plasma Core Indonesia pada 8 Desember 2025.
VP of Investment Indonesia Investment Authority Andre J. Cahyadi menambahkan proyek kesehatan dinilai strategis karena tak hanya membawa investasi langsung, tetapi juga memperkuat ketahanan dan keamanan kesehatan nasional.
“Saat ini, 100% produk yang kami butuhkan masih dipenuhi melalui impor. Ke depan, kami ingin proyek ini berhasil sehingga memungkinkan produksi dilakukan secara lokal. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, kami juga berharap Indonesia dapat mengekspor produk tersebut ke negara lain,” jelasnya.
Hal ini akan menjadi pencapaian penting bagi Indonesia, mengingat hanya sekitar 20 negara di dunia yang memiliki fasilitas fraksionasi tersebut.
Dia juga mengingat pesan dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait situasi pandemi, ketika banyak warga kehilangan keluarga dan sahabat karena keterbatasan akses terhadap obat dan produk medis yang sangat dibutuhkan.
Pada saat itu, pasokan global sangat terbatas. Banyak negara menghentikan ekspor sehingga Indonesia kesulitan memperoleh produk medis. Salah satu contohnya adalah imunoglobulin, yang digunakan dalam kondisi kritis untuk membantu menyelamatkan pasien. Produk tersebut merupakan imunoglobulin yang sangat penting dalam situasi darurat.
“Melalui proyek ini, kami percaya lebih banyak nyawa dapat diselamatkan sekaligus memperkuat keamanan kesehatan nasional. Hal ini juga sejalan dengan misi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,” tuturnya.
Selain manfaat di bidang kesehatan, proyek ini disebut memiliki nilai sosial yang besar. Proyek ini akan menciptakan lapangan kerja, baik pada tahap konstruksi maupun pada saat operasional produksi. Tenaga kerja Indonesia yang sebelumnya dikirim ke Korea untuk pelatihan kini telah kembali dan siap mengoperasikan fasilitas ini.
“Selama proses konstruksi, banyak pekerja Indonesia juga terlibat langsung dalam pembangunan fasilitas tersebut. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya mencakup transfer teknologi, tetapi juga transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” terangnya.
Dia juga menyoroti isu penyimpanan darah, pihaknya berharap agar masyarakat meningkatkan kesadaran akan pentingnya donor darah karena hal ini akan memperkuat kapasitas penyimpanan nasional.
Dengan populasi sekitar 250 juta jiwa, Indonesia memiliki keunggulan demografis yang sangat besar dibandingkan banyak negara lain. Semakin banyak masyarakat yang berdonor darah, semakin banyak pula nyawa yang dapat diselamatkan. Inilah misi besar yang ingin diwujudkan melalui proyek ini.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5221066/original/001406000_1747300027-IMG_0594.jpeg)

