Budaya Perusahaan sebagai Nafas Koperasi Syariah

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

Belajar dari KSPPS Bakti Huria Syariah

Andi Amri Bakti
Dosen Pengantar Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muslim Maros/Ketua KSPPS BHS

Di tengah persaingan lembaga keuangan yang semakin ketat, banyak organisasi berlomba memperkuat modal, teknologi, dan jaringan. Namun, ada satu faktor yang sering luput dari perhatian, padahal justru sangat menentukan: budaya perusahaan. Budaya bukan sekadar slogan atau hiasan di dinding kantor, melainkan nafas yang menggerakkan cara berpikir, bersikap, dan bekerja dalam organisasi.

Pengalaman banyak institusi menunjukkan bahwa budaya perusahaan yang kuat menjadi fondasi utama dalam menjaga kinerja, loyalitas karyawan, dan keberlanjutan usaha. Hal ini juga berlaku bagi koperasi syariah, termasuk KSPPS Bakti Huria Syariah, yang tidak hanya berorientasi pada kinerja ekonomi, tetapi juga pada nilai dan amanah sosial.

Dalam kajian manajemen, budaya organisasi tidak berdiri di satu lapisan. Edgar H. Schein menjelaskan bahwa budaya memiliki tiga tingkatan, yaitu artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Ketiganya membentuk satu kesatuan, tetapi pengaruh terkuat justru berada pada level terdalam.

Pada lapisan paling luar terdapat artefak dan simbol. Inilah budaya yang paling mudah dilihat: seragam kerja, briefing pagi, tata ruang kantor, penggunaan sistem digital, hingga kebiasaan evaluasi rutin. Di KSPPS Bakti Huria Syariah, artefak ini mencerminkan organisasi yang menekankan disiplin, keteraturan, dan kerja yang terukur.

Namun, artefak hanyalah permukaan. Tanpa nilai yang hidup di baliknya, artefak mudah berubah menjadi rutinitas mekanis yang kehilangan makna.

Lapisan berikutnya adalah nilai-nilai yang secara sadar dianut dan dikomunikasikan. Di sinilah organisasi menyatakan apa yang dianggap penting. Di KSPPS Bakti Huria Syariah, nilai itu tampak dari cara memandang sumber daya manusia sebagai aset, bukan sekadar biaya. Karyawan diposisikan sebagai mitra yang tumbuh bersama organisasi.

Nilai disiplin, tanggung jawab, amanah, kerja sama, dan pelayanan kepada anggota terus ditekankan dalam penetapan target dan proses evaluasi. Target kerja tidak semata-mata dijadikan alat menekan, tetapi sebagai sarana belajar dan perbaikan berkelanjutan. Ketika target belum tercapai, fokusnya bukan mencari siapa yang salah, melainkan apa yang perlu diperbaiki.

Namun, budaya belum sepenuhnya mengakar jika masih bergantung pada aturan dan pengawasan. Budaya sejati bekerja pada tingkatan yang lebih dalam.

Tingkatan tertinggi budaya organisasi adalah asumsi dasar. Inilah keyakinan yang sudah begitu mengakar sehingga tidak lagi diperdebatkan, tetapi otomatis mengarahkan perilaku. Pada level ini, budaya tidak perlu diperintah; ia berjalan dengan sendirinya.

Dalam konteks KSPPS Bakti Huria Syariah, asumsi dasar yang penting untuk terus dijaga antara lain keyakinan bahwa kerja adalah manifestasi rasa syukur, dan sarana untuk menujukkan eksistensi sesorang, orang yang bekerja berarti dia mampu menujukkan dirinya, dan bahwa kepercayaan melahirkan tanggung jawab, serta bahwa anggota adalah mitra yang harus dilayani, bukan sekadar target bisnis. Ketika asumsi ini hidup, disiplin tidak lagi terasa sebagai paksaan, tetapi sebagai kesadaran profesional.

Budaya pada level ini tidak dibangun lewat slogan atau kebijakan tertulis. Ia tumbuh melalui kerja nyata, konsistensi dalam pengambilan keputusan, serta pengalaman sehari-hari yang dirasakan adil dan bermakna oleh karyawan. Teknologi seperti sistem e-mobile membantu memperkuat transparansi dan akuntabilitas, tetapi tetap hanya berfungsi sebagai alat. Budaya sejati lahir ketika sistem dipahami sebagai sarana menjaga amanah, bukan sekadar kontrol.

Ritual organisasi—seperti briefing pagi, evaluasi rutin, dan kegiatan kebersamaan—menjadi ruang penting untuk menanamkan makna. Dari sanalah nilai perlahan berubah menjadi keyakinan, dan keyakinan menjadi kebiasaan.

Pengalaman KSPPS Bakti Huria Syariah memberi pelajaran penting bahwa budaya perusahaan adalah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan. Sistem dapat ditiru, teknologi dapat dibeli, bahkan strategi bisa disalin. Namun, budaya yang hidup pada level asumsi dasar sulit ditiru oleh organisasi lain.

Di era modern, koperasi syariah tidak cukup hanya patuh pada regulasi dan unggul dalam sistem. Tanpa budaya kerja yang mengakar, organisasi mudah rapuh ketika menghadapi tekanan. Sebaliknya, dengan budaya yang diyakini dan dijalani bersama, koperasi memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi bukan hanya soal seberapa besar aset yang dimiliki, tetapi seberapa dalam nilai itu dihidupi. Ketika budaya benar-benar menjadi nafas organisasi, bekerja tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari perjalanan bersama menuju keberlanjutan dan keberkahan.(*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prambanan Shiva Festival diharap tingkatkan daya tarik wisata religi
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Harga Emas Antam Ngegas, Naik Tajam
• 8 jam lalugenpi.co
thumb
Jalur Kereta Terendam Sudah Bisa Dilalui Terbatas, Sejumlah Perjalanan Tetap Dibatalkan
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Basarnas Siapkan Evakuasi Udara dan Darat ATR 42-500
• 12 jam lalucelebesmedia.id
thumb
4 Hal Penting yang Perlu Diperhatikan saat Mengajukan Pinjaman Daring
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.