Mengenal Sindrom Stockholm, Saat Korban Membela Pelaku Kekerasan atau Penculikan

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Saat film Beauty and the Beast rilis pada 2017, banyak yang memperdebatkan bahwa Belle mengalami sindrom stockholm. Sebab ia memiliki perasaan pada Beast yang menyanderanya di dalam istana. Namun tak sedikit pula yang mengatakan bahwa Bella tidak mengalami sindrom tersebut.

Nah, hingga sekarang, pembicaraan mengenai sindrom stockholm masih terus berlanjut. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Gita Aulia mengatakan kalau sindrom ini merupakan cara bertahan hidup yang muncul ketika seseorang berada dalam situasi mencekam.

“Cara ini dilakukan oleh korban sebagai bentuk adaptasi psikologis agar ia bisa mengurangi rasa takut terhadap keselamatan dirinya,” ungkap Gita saat dihubungi kumparanWOMAN.

Asal Usul Istilah Sindrom Stockholm

Istilah ini dicetuskan oleh kriminolog Nils Bejerot setelah kejadian perampokan bank yang terjadi pada 1973 di Stockholm, Swedia. Saat itu korban yang berjumlah empat orang perempuan disandera selama enam hari.

Setelah dibebaskan, korban tidak menunjukkan rasa trauma atau kebencian. Mereka mengatakan diperlakukan baik selama disandera oleh pelaku sehingga enggan untuk memberikan kesaksian di hadapan hukum. Bahkan para korban memilih membayar pengacara untuk membela pelaku.

Selain itu, ada dua kasus lain yang memiliki motif serupa.

1. Kasus penculikan Mary Mcelroy (1933)

Jauh sebelum istilah sindrom stockholm muncul, terdapat kasus penculikan Mary Mcelroy. Selama 34 jam penculikan, korban justru berteman baik dan saling melempar perasaan.

Setelah mendapat tebusan sebesar USD 30.000 (saat ini sekitar Rp 500 juta) membebaskan Mary dan memberinya ongkos pulang. Saat ditangkap, salah satu dari tiga pelaku, Walter McGee, divonis hukuman mati. Namun Mary memprotesnya dan membuat hukuman berubah menjadi penjara seumur hidup. Dirinya bahkan rutin mengunjungi pelaku saat berada di penjara

2. Kasus penculikan Patricia Hearst (1974)

Patricia yang merupakan pewaris surat kabar yang memiliki keluarga berpengaruh diculik pada 1974. Ia diculik oleh organisasi gerilya, Symbionese Liberation Army (SLA), dan mendapat ancaman pembunuhan saat kejadian saat berusia 19 tahun.

Namun, setelah itu Patricia justru bergabung dalam organisasi tersebut. Ia ikut dalam beberapa perampokan bersenjata yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Ia kemudian ditangkap dan membela diri menggunakan kondisi sindrom stockholm.

Mengapa Sindrom Stockholm Dapat Terjadi?

Gita mengatakan kalau sindrom stockholm merupakan bentuk adaptasi psikologis agar korban bisa mengurangi rasa takut terhadap keselamatan dirinya. Mereka menghadapi situasi yang mencekam saat kasus penculikan dan kekerasan, oleh karena itu hal ini dijadikan tameng untuk bertahan hidup.

“Dalam kondisi ini, korban berusaha membangun makna bahwa pelaku “tidak sepenuhnya jahat” sebagai cara menjaga stabilitas emosional di situasi yang tidak dapat dikendalikan,” ujarnya.

Faktor-Faktor Sindrom Stockholm

1.Korban merasa bergantung pada pelaku

Korban merasa hidupnya bergantung pada pelaku, sehingga otak mencari cara untuk menghadapi ancaman dengan membentuk ikatan emosional.

2. Terisolir dari dunia luar

Saat penculikan, korban dipisahkan dari keluarga, teman, atau sumber dukungan lainnya. Sebab minimnya interaksi sosial dan informasi dari luar, korban tidak memiliki pembanding untuk menilai perilaku pelaku.

3. Pengalaman kekerasan yang diselingi perlakuan “baik”

Tak jarang pelaku melakukan hal baik seperti memberi hadiah untuk meluluhkan hati korban. Pola ini akhirnya menciptakan kebingungan emosional dan membuat korban membangun ikatan emosional.

Cara Pemulihan Sindrom Stockholm

Menurut Gita Sindrom Stockholm tidak diakui sebagai diagnosis resmi oleh Asosiasi Psikologi Amerika, namun fenomena ini sering berkaitan dengan gangguan stres akut dan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Berikut pendekatan psikologis yang dapat membantu:

  1. Terapi berfokus trauma, seperti CBT (Cognitive Behavior Therapy)

  2. Psychoeducation, membantu korban memahami bahwa reaksi yang dialami adalah respons trauma, bukan kelemahan pribadi.

  3. Pemulihan rasa kontrol dan otonomi diri, yang sering hilang selama relasi traumatis.

Ia menjelaskan bahwa pemulihan pengidap sindrom stockholm harus memperlakukan korban sebagai individu yang sedang beradaptasi dengan trauma, bukan sebagai pihak yang “salah”.

“Pemulihannya memang tidak instan, tetapi dengan pendampingan yang tepat, korban dapat keluar dari ikatan traumatis & membangun relasi yang lebih sehat,” ujar Gita.

Baca juga: Mengenal Post-Holiday Blues, Rasa Sedih dan Galau Selepas Liburan Panjang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Profil Indonesia Air Transport, Pemilik ATR 42-500 yang Hilang di Sulsel
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pemerintah Jamin Sertifikat Tanah Korban Bencana di Sumatera Tetap Diakui dan Gratis Diurus Ulang
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Prioritaskan Kebugaran, Jonatan Christie Absen di Indonesia Masters 2026
• 5 menit laluviva.co.id
thumb
Pemerintah Evaluasi Operasi SAR Pesawat ATR 42-500 yang Hilang Kontak
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Awas Jebakan Investasi Minyak Venezuela
• 8 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.