Dana Darurat Tak Harus Semua Berbentuk Tabungan, Ini Alternatif Instrumennya

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Banyak pekerja langsung membagi gajinya ke berbagai kebutuhan dan investasi, tetapi tidak memenuhi dana darurat. Padahal, ketersediaan dana darurat seharusnya menjadi prioritas utama.

Perencana keuangan bersertifikat sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno, menekankan pentingnya memprioritaskan dana darurat sebelum menabung untuk berbagai kebutuhan lain, seperti liburan, pembelian laptop, atau tujuan konsumtif lainnya.

“Bisa kita fokus dulu untuk menabung buat dana darurat, bisa juga paralel dengan tujuan menabung yang lain. Contoh misalnya, kita selain menabung buat dana darurat, kita juga menabung misalnya untuk dana DP [down payment atau uang muka] beli motor misalnya,” jelas Mike kepada Bisnis, dikutip pada Senin (19/1/2026).

Dia menegaskan, dana darurat tidak harus disiapkan dalam jumlah besar, melainkan cukup dan tidak berlebihan.

Menurutnya, tujuan utama menabung adalah untuk memenuhi kebutuhan prioritas yang perlu dipersiapkan sejak dini. Dengan begitu, setiap orang setidaknya memiliki pegangan finansial untuk menghadapi berbagai kondisi di masa depan.

Mike menyebutkan terdapat sejumlah instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk menyimpan dana darurat. Menurutnya, dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang mampu memberikan imbal hasil di atas bunga bank dan inflasi minimum, tetapi tetap memiliki tingkat keamanan yang tinggi.

Baca Juga

  • Dana Darurat atau Asuransi, Mana yang Lebih Penting?
  • Begini Cara Menghitung Dana Darurat Pasangan Baru Menikah menurut Perencana Keuangan

Dana darurat dapat ditempatkan di reksa dana pasar uang, deposito, maupun tabungan berjangka. Instrumen tersebut juga bisa dikombinasikan dengan emas, meskipun penggunaannya perlu disesuaikan dengan jangka waktu.

“Emas itu kalau saya sarankan lebih dari tiga tahun. Sehingga kalau untuk dana darurat saja Anda bisa kombinasi ini. Deposito, reksa dana pasar uang atau tabungan emas,” tuturnya.

Mike memberikan contoh alokasi dana darurat dari penghasilan bulanan. Misalnya, seseorang dengan gaji Rp5 juta yang ingin menyisihkan 10% untuk dana darurat, atau sekitar Rp500 ribu per bulan. Dana tersebut dapat langsung ditempatkan ke reksa dana pasar uang, atau dikombinasikan dengan tabungan emas digital.

Menurut Mike, tabungan emas memberikan fleksibilitas karena tidak mengharuskan pembelian emas dalam jumlah besar sekaligus.

“Karena kalau di 1 gram emas kan sekarang sudah 2,5 juta kalau fisiknya. Tapi kalau dengan tabungan emas, bisa sesuai dengan kekuatan dana masing-masing, berapa mau setornya,” ujarnya.

Jika target dana darurat sebesar 3—6 kali gaji telah tercapai, kelebihan setoran tabungan dapat dialihkan ke tujuan keuangan prioritas lainnya, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. (Putri Astrian Surahman)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
J99 Corp. Perkuat Kerja Sama dengan SAI Indonesia Perluas Distribusi
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PAMA Buka Lowongan Kerja 2026 untuk Lulusan S1 Hukum, Ini Kualifikasi dan Cara Daftarnya
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Aditya Hanafi Pembunuh Pegawai BPS di Malut Divonis Penjara Seumur Hidup
• 5 jam laludetik.com
thumb
Mengukur Kekuatan Iran: Postur Militer, Aliansi Proksi, dan Ketidakstabilan Regional
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KIM Indonesia Optimistis Terhadap Pertumbuhan Pasar Modal Indonesia
• 4 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.