Delapan Kebohongan Seorang Ibu Sepanjang Hidupnya

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Sahabatku, berapa banyak kebohongan yang pernah diucapkan ibumu demi dirimu? Setiap kebohongan itu adalah wujud cinta. Hargailah… dan jagalah selagi masih ada.

—  Kebohongan pertama seorang ibu

Karena keluarganya sangat miskin, saat makan, nasi sering kali tidak cukup. Sang ibu lalu memindahkan nasi dari mangkuknya ke mangkuk anak-anaknya.

Ibu berkata:  “Anak-anak, makanlah yang banyak. Ibu tidak lapar.”

— Kebohongan kedua seorang ibu

Ketika anak laki-laki memasuki masa pertumbuhan, ibu yang rajin sering memanfaatkan hari libur Minggu untuk menangkap ikan kecil di sungai dekat sawah, demi menambah gizi anak-anaknya.

Ikan itu lezat, kuahnya pun segar. Saat anak-anak makan ikan, ibu hanya duduk di samping, mengunyah tulang ikan dan menjilati sisa daging yang menempel. Anak laki-laki itu merasa iba, lalu memindahkan ikan dari mangkuknya ke mangkuk ibunya.

Namun ibu menolak, lalu mengembalikan ikan itu ke mangkuk anaknya.

Ibu berkata :  “Anak, makanlah. Ibu tidak suka makan ikan.”

— Kebohongan ketiga seorang ibu

Saat anak itu masuk SMP, demi membayar biaya sekolah anak-anaknya, ibu yang bekerja sebagai penjahit masih mengambil pekerjaan tambahan setelah pulang kerja—membawa pulang barang setengah jadi dari pabrik untuk dikerjakan hingga larut malam.

Suatu malam di musim dingin, anak itu terbangun dan melihat ibunya masih membungkuk bekerja di bawah cahaya lampu yang redup.

Anak berkata :  “Ibu, tidurlah. Besok pagi Ibu masih harus bekerja.”

Ibu tersenyum dan berkata : “Nak, tidurlah dulu. Ibu belum mengantuk.”

 — Kebohongan keempat seorang ibu

 Pada tahun ujian masuk universitas, ibu mengambil cuti untuk menemani anaknya mengikuti ujian. Saat itu musim panas terik. Dengan keras kepala, ibu berdiri berjam-jam di bawah matahari demi memberi semangat pada anaknya.

Saat bel ujian berbunyi, ibu segera menghampiri sambil menyerahkan segelas teh ginseng panas dari termos, menyuruh anaknya segera minum. Tehnya pekat, kasih sayangnya lebih pekat lagi.

Melihat bibir ibu yang pecah-pecah dan keringat yang membasahi kepalanya, anak itu mengembalikan termos itu kepada ibunya.

Ibu berkata :  “Anak, minumlah. Ibu tidak haus.”

 — Kebohongan kelima seorang ibu

Setelah ayah meninggal dunia, ibu memikul peran sebagai ayah sekaligus ibu. Dengan penghasilan kecil dari pabrik, dia membesarkan anak-anaknya dengan penuh penderitaan, menyekolahkan mereka meski hidup sangat berat.

Paman Li, tetangga di gang sebelah, mengetahui keadaan itu. Dia sering datang membantu—mengantar bahan makanan atau sedikit uang.

Para tetangga yang melihat semua itu merasa iba dan menasihati ibu untuk menikah lagi. Mengapa harus begitu menyiksa diri?

Namun selama bertahun-tahun, ibu tetap menjaga diri dan menolak untuk menikah kembali. Nasihat apa pun tak mampu mengubah keputusannya.

Ibu berkata :  “Aku tidak cinta.”

 — Kebohongan keenam seorang ibu

Setelah anak-anaknya lulus kuliah dan mulai bekerja, ibu yang telah pensiun membuka lapak kecil berjualan buah di pasar malam untuk menyambung hidup.

Anak-anak yang bekerja di luar kota sering mengirim uang untuk membantu. Namun ibu selalu menolak dan mengembalikannya.

Ibu berkata :  “Ibu punya uang.”

 — Kebohongan ketujuh seorang ibu

Anak laki-laki itu kemudian menjadi dosen selama dua tahun, lalu diterima sebagai mahasiswa doktoral di sebuah universitas ternama di Amerika Serikat. Setelah lulus, dia bekerja di lembaga riset teknologi dengan penghasilan dan kehidupan yang sangat layak.

Ia ingin membawa ibunya ke luar negeri agar menikmati masa tua dengan tenang, tetapi sang ibu menolaknya.

Ibu berkata :  “Ibu tidak terbiasa.”

 — Kebohongan kedelapan seorang ibu

Di masa tuanya, ibu jatuh sakit parah dan dirawat di rumah sakit. Anak laki-laki itu, yang sedang mengajar di luar negeri, segera pulang dengan pesawat. Namun saat ia tiba, ibu baru saja selesai operasi dan berada di ambang ajal.

Melihat ibunya yang renta dan tersiksa oleh penyakit, anak itu hancur hatinya dan menangis tersedu-sedu.

Namun ibu berkata dengan lemah: “Anak… jangan menangis. Ibu tidak sakit.”

Renungan Redaksi

Membaca kisah ini, mendengarkan musik, atau menonton sebuah video—semuanya bisa membuat jerih payah orang tua terbayang kembali di pelupuk mata. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jadwal Salat dan Buka Puasa Semarang 19 Januari 2026
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dunia Diambang Perang Dunia III, Situasinya Kini Mirip Jelang Perang Dunia I dan II
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Bocah 12 Tahun Kritis usai Diserang Ikan Hiu di Perairan Sydney Australia
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Momen Taruna Akpol Gelar Aksi Bersih-Bersih di Aceh Tamiang Pasca-Bencana | SAPA PAGI
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Intip Harta Kekayaan Juda Agung yang Mundur dari Kursi Deputi Gubernur BI
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.