Pemerintah Guatemala menetapkan status darurat nasional selama 30 hari setelah delapan polisi tewas dan terjadi penyanderaan di tiga penjara yang diduga dilakukan oleh geng kriminal.
Langkah darurat itu diumumkan Presiden Guatemala Bernardo Arevalo pada Minggu (18/1) menyusul lonjakan kekerasan yang menargetkan aparat keamanan. Otoritas menuding kelompok kriminal berada di balik pembunuhan delapan polisi serta aksi penyanderaan di tiga lembaga pemasyarakatan (lapas), demikian seperti dilansir Reuters.
Dalam pernyataannya, pemerintah menyebut status darurat diperlukan untuk memulihkan keamanan nasional.
“Kami menetapkan keadaan darurat nasional selama 30 hari untuk memerangi kelompok kriminal yang telah membunuh delapan polisi dan menyandera petugas di penjara,” kata Arevalo.
Seiring penetapan status darurat, polisi antihuru-hara dikerahkan ke Pusat Penahanan Preventif pria di Guatemala City. Operasi besar juga digelar di penjara keamanan maksimum Renovacion I di Escuintla, sekitar 75 kilometer di selatan ibu kota.
Dalam operasi tersebut, polisi menggiring keluar Aldo Dupie alias ‘El Lobo’ (‘Si Srigala’) yang diduga sebagai pemimpin geng Barrio 18. Otoritas mengatakan kepada AFP, “El Lobo adalah tokoh kunci dalam struktur kepemimpinan Barrio 18.”
Barrio 18 bersama rivalnya, Mara Salvatrucha (MS-13), selama ini dituding bertanggung jawab atas sebagian besar perdagangan narkoba dan kekerasan kriminal di Guatemala.
Kepala pemadam kebakaran Cordoba, Paco Carmona, sebelumnya mengungkap situasi di penjara sangat sulit dikendalikan. “Masih ada orang yang terjebak. Operasi sekarang difokuskan untuk mengevakuasi dari area yang sangat sempit,” ujarnya kepada TVE.
Hingga kini, aparat keamanan terus melakukan operasi penyisiran di sejumlah penjara dan wilayah rawan untuk memulihkan kendali penuh serta memburu anggota geng yang terlibat dalam serangan mematikan terhadap polisi.





