Di tengah riuh wisatawan yang lalu-lalang di Jalan Braga, Bandung, ada satu sosok perempuan lansia yang hampir setiap hari berjalan pelan sambil menenteng plastik berisi tisu.
Dialah Nenek Emi Suhaemi, perempuan yang usianya sudah senja, 74 tahun.
Meski tubuhnya renta, langkahnya pendek, namun semangatnya terasa jauh lebih besar dari siapa pun yang ditemuinya hari itu.
Nenek Emi mulai berjualan tisu setelah pandemi COVID-19 mereda. Ia bercerita bahwa ia memulai usaha kecilnya dari uang seadanya, hanya Rp 200.000.
“Daripada dibuang-buang, nggak paruguh (tidak jelas), jadi Nenek jualan tisu sedikit-sedikit. Biar ada untungnya dan berkah buat Nenek," katanya saat ditemui kumparan di Jalan Braga, Senin (19/1).
Tisu-tisu itu dibelinya sendiri. Ia kemudian berjalan menyusuri Braga, dari ujung ke ujung, menawarkan barang dagangannya kepada siapa saja yang ia temui. Tak jarang ia berhenti sejenak untuk duduk dan menghela napas ketika lelah. “Kalau capek mah istirahat dulu,” ucapnya ringan.
Setiap hari, Nenek Emi berangkat dari rumahnya di Ujungberung. Ia tidak naik angkutan kota sendirian.
“Diantar sama cucu, dia (cucu driver ojol) nge-grab. Cucu Nenek nyari rezeki juga, sama kayak Nenek,” tuturnya.
Setiap langkah di Braga adalah bagian dari perjuangan kecilnya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Dari hasil menjual tisu, ia bisa membawa pulang uang yang cukup untuk membeli beras dan kebutuhan sederhana lainnya.
"Ya bisa bawa ke rumah buat kebutuhan dasar, beras buat makan. Ngebantu cucu sama cicit alhamdulilah walaupun sedikit," katanya.
Saat sebagian orang seusianya memilih beristirahat di rumah, Nenek Emi justru merasa lebih sehat ketika ia bergerak.
“Daripada diem di rumah nggak berjalan. Jadi keluar biar gerak juga,” ujarnya.
Ia belajar hidup sederhana. Tak mau berutang. Tak mau boros. Yang penting cukup, sehat, dan terus beraktivitas. Ia sering mengingatkan dirinya sendiri untuk banyak berdoa dan berdzikir.
“Inget Allah yang Maha di atas. Orang lain banyak kena musibah, banjir bandang, kebakaran. Saya mah berdoa untuk selamat di jalan dan sehat buat semua.”
Tak hanya di Braga, Nenek Emi juga kadang pergi ke Pasar Caringin untuk membeli stok tisu ukuran besar. Perjalanannya panjang, naik bus jurusan Cicaheum–Cibeureum turun Jamika, lalu berganti kendaraan lagi. Total ongkosnya sekitar Rp 8.000.
Di Caringin, ia membeli tisu besar untuk dijual kembali. Kadang ia membeli bumbu dapur jika ada uang lebih. Bahkan, tak jarang ada pedagang yang memberinya sedikit bahan makanan.
“‘Mak ini buat di rumah,’ katanya. Banyak yang ngasih, Alhamdulillah,” ucapnya sambil tersenyum malu.
Nenek Emi bukan sekadar penjual tisu di sudut Braga. Ia adalah gambaran keteguhan seorang perempuan tua yang menolak berhenti melangkah. Usia tidak membuatnya rapuh, justru menjadikannya lebih tegar.
Di tengah hiruk pikuk kota, keberadaan Nenek Emi mengingatkan tentang kesabaran, kesederhanaan, dan rasa syukur atas apa yang dimiliki.





