REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Vale Indonesia Tbk terus mempercepat realisasi proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Pomalaa di Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari komitmen hilirisasi nikel nasional. Proyek ini dikembangkan melalui kemitraan tiga pihak antara Vale, Huayou asal China, dan Ford Motor Company dari Amerika Serikat.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Bernadus Irmanto menjelaskan, dalam skema kerja sama tersebut PT Vale berperan sebagai satu-satunya pemasok bijih nikel untuk pabrik HPAL Pomalaa. Ketentuan ini merupakan bagian dari kesepakatan bersama para mitra, khususnya Ford, yang menempatkan aspek keberlanjutan sebagai syarat utama rantai pasok.
“Ford sangat concern terhadap praktik sustainability. Mereka telah melakukan asesmen menyeluruh terhadap standar ESG PT Vale, dan hasilnya dituangkan dalam kesepakatan bahwa pabrik HPAL Pomalaa hanya boleh menerima bijih dari pertambangan PT Vale,” ujar Bernadus dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (19/1/2026).
Berdasarkan paparan manajemen, hingga Desember 2025 progres konstruksi proyek HPAL Pomalaa telah mencapai sekitar 60 persen. Dua unit autoclave telah tiba di lokasi proyek, sementara tiga unit lainnya dijadwalkan menyusul. Perseroan menargetkan mechanical completion pabrik HPAL Pomalaa dapat dicapai pada Agustus 2026.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Pabrik HPAL Pomalaa dirancang memiliki kapasitas produksi 120 kiloton per tahun produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Untuk mendukung kapasitas tersebut, kebutuhan bahan baku diperkirakan mencapai sekitar 21 juta ton limonite per tahun, dengan produk sampingan sekitar 7 juta ton saprolite dari kegiatan penambangan terintegrasi.
Bernadus menambahkan, PT Vale telah mulai menyiapkan pasokan bijih sejak 2025. Sebelum pabrik beroperasi penuh, perseroan juga diwajibkan menyediakan stockpile minimal tiga bulan sebagai bagian dari persiapan operasi dan mitigasi risiko rantai pasok.
Selain pabrik pengolahan, proyek Pomalaa juga didukung oleh pembangunan infrastruktur penunjang, termasuk pelabuhan khusus, Feed Preparation Plant (FPP), fasilitas pengelolaan air tambang, serta camp dan dormitori pekerja. Seluruh pengembangan tersebut menjadi bagian dari mandat hilirisasi yang tercantum dalam IUPK PT Vale Indonesia.
Dengan progres konstruksi yang terus berjalan, manajemen optimistis HPAL Pomalaa akan menjadi salah satu tulang punggung ekosistem baterai kendaraan listrik nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel global berbasis keberlanjutan.




