1. Bagaimana kronologi jatuhnya pesawat ATR 42-500?
2. Berapa awak dan penumpang dalam kejadian ini?
3. Apakah pesawat dan awaknya laik terbang?
4. Lantas, kemungkinan apa yang menyebabkan kecelakaan itu?
5. Seperti apa proses pencarian dan evakuasi yang dilakukan?
6. Seperti apa gambaran kecelakaan udara di Indonesia lima tahun terakhir?
7. Siapa Indonesia Air Transport itu dan bagaimana spesifikasi pesawat yang jatuh?
Pesawat ATR 42-500 hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat itu terdaftar dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan Indonesia Air Transport (IAT), pemegang Air Operator’s Certificate (AOC) 034.
Pesawat buatan tahun 2000 bernomor seri 611 tersebut terbang dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat dipiloti Kapten Andy Dahananto.
Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyebutkan, bisa dipastikan pesawat menabrak gunung. Gunung yang dimaksud adalah Bulusaraung di Sulawesi Selatan.
Menurut keterangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, pada Sabtu pukul 04.23 UTC, pesawat itu diarahkan ATC Makassar Air Traffic Service Center (MATSC) untuk mendekati landasan pacu Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Namun, setelah itu pesawat justru hilang kontak.
KNKT memastikan pesawat ATR 42-500 itu berisi 10 kru dan penumpang. Tiga orang di antaranya adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Tiga orang tersebut adalah Ferry Irawan (penata muda tingkat 1 dengan jabatan analis kapal pengawas), Deden Mulyana (penata muda tingkat 1 dengan jabatan pengelola barang milik negara), dan Yoga Nauval (operator foto udara).
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pegawainya dalam pesawat itu tengah melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia.
Meski sempat ada kendala sehari sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub memastikan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dengan registrasi PK-THT yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, dalam kondisi laik terbang.
Selain armada, seluruh awak pesawat yang bertugas juga dinyatakan dalam kondisi kesehatan prima atau fit.
”Berdasarkan data medical examination terakhir, seluruh awak pesawat yang bertugas dinyatakan fit dan telah memenuhi standar kesehatan penerbangan,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F Laisa.
KNKT menduga kecelakaan itu diklasifikasikan sebagai controlled flight into terrain (CFIT) atau kondisi pesawat dalam kontrol, tetapi menabrak sesuatu.
Namun, penyebab dari kondisi ini masih perlu pendalaman dan pengumpulan informasi yang lebih lengkap. Hal itu bisa saja karena pilot tidak sadar atau tidak mengetahui ada halangan berbahaya di depan mereka.
Pada umumnya, pengamat penerbangan Alvin Lie menyebut, CFIT ini terjadi pada fase pendaratan. Misalnya, pada pendaratan yang menggunakan pendekatan visual flight rule (VFR), saat instrumen navigasi di pesawat itu tidak dilengkapi radar.
Selain itu, pesawat juga tidak dilengkapi sistem terrain awareness warning system (TAWS) atau sistem peringatan kedekatan dengan permukaan. Tidak hanya itu, kondisi cuaca dengan jarak pandang rendah, berawan, berkabut, atau pada malam hari. Kondisi ini juga bisa terjadi pada pendaratan kompleks yang harus berbelok-belok menghindari banyak rintangan.
Saat ini, lebih dari 1.200 personel diturunkan mencari korban. Namun, cuaca buruk yang terjadi membuat satu korban yang ditemukan belum bisa dievakuasi. Bahkan, 10 anggota tim SAR gabungan pun sempat menginap di dekat jenazah korban.
Dari pemantauan terakhir, lokasi korban berada di jurang sedalam 200 meter dari utara puncak Gunung Bulusaraung. Namun, upaya menarik dengan tali terkendala buruknya cuaca, angin kencang, dan kabut.
Kabut memang menjadi kendala tim di Bulusaraung. Bahkan, di kaki Bulusaraung di Desa Tompo Bulu, sepanjang Sabtu hingga Minggu malam, cuacanya terus tak menentu.
Hujan bisa datang kapan saja. Turunnya kabut juga sulit ditebak. Cuaca cerah dapat muncul tiba-tiba, tetapi tidak lama kembali disapu hujan deras.
Dalam lima tahun terakhir, sebelum tragedi pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung Sulsel, Kompas mencatat sejumlah kecelakaan pesawat di Tanah Air. Kecelakaan ini berasal dari penerbangan pesawat penumpang komersial, militer, serta perintis dan carter.
Pesawat Boeing 737-500 yang dioperasikan Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182, misalnya, jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, sesaat setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Supadio di Kalimantan Barat.
Kecelakaan pesawat militer pertama dalam lima tahun terakhir terjadi pada Juli 2022. Pesawat latih milik TNI AU, T50i Golden Eagle, jatuh di daerah Blora, Jawa Tengah, ketika sedang berlatih manuver taktis tempur pada malam hari.
Di sektor penerbangan perintis dan carter, kecelakaan pertama terjadi pada September 2021 pada pesawat Rimbun Air dengan kode registrasi PK-OTW. Kecelakaan terjadi di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Lima orang tewas dalam peristiwa itu.
PT Indonesia Air Transport (IAT) adalah sebuah maskapai penerbangan dan perusahaan jasa transportasi udara yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Markas utama operasionalnya terletak di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dengan fasilitas pendukungnya seperti helipad dan hangar.
Maskapai ini juga memiliki AOC yang dikeluarkan oleh otoritas penerbangan Indonesia. Dengan itu, maskapai bisa menyelenggarakan angkutan udara niaga sesuai standar keselamatan dan regulasi yang berlaku.
PT IAT menawarkan pesawat ATR 42-500 sebagai salah satu modanya. Pesawat ini dipromosikan tidak sekadar sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai ’”ruang kantor dan konferensi” di udara.
Secara teknis, ATR 42-500 PK-THT yang dioperasikan oleh IAT mampu terbang hingga ketinggian maksimum 7.620 meter dengan kecepatan jelajah mencapai 556 kilometer per jam dan jangkauan terbang maksimum 2.037 kilometer.
Pesawat buatan tahun 2000 itu dapat membawa hingga 46 orang di luar awak kabin, menjadikannya ideal untuk rute-rute regional atau carter yang tidak memerlukan kapasitas besar seperti pesawat jet komersial biasa.
Pesawat ATR 42-500 disebut sebagai seri terbaru dari keluarga ATR 42 yang memiliki sejumlah peningkatan dari sisi desain dan performa. IAI menyebutkan versi ini sudah dilengkapi dengan mesin dan baling-baling baru serta kabin yang diperbarui.




