TORAJA, FAJAR –Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar sangat langka di duo Toraja. Para sopir pun menjerit.
BAIK di Tana Toraja maupun Toraja Utara), kelangkaan telah berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026 ini. Di beberapa SPBU, antrean panjang kendaraan jadi tontotan sehari-hari.
Pengendara disuguhkan tulisan “Pertalite Habis” dan “Solar Habis”. Di SPBU Bolu Kota Rantepao, Toraja Utara, misalnya. Antrean kendaraan pengisi BBM mulai mengular (panjang) terlihat setiap saat, sejak pagi. Baik roda dua, empat, dan terutama truk.
Tak jarang antiran membuat macet jalan poros provinsi. Atto (38), salah satu sopir truk yang mengantre, mengatakan ia sudah antre sejak pagi, namun jelang siang belum juga mendapatkan BBM.
“Kalau saya dari pagi belum dapat ini sampai sekarang, dan beberapa hari lalu juga saya antri, namun SPBU ini cepat habis BBM kata pengelola,” ucapnya, pekan lalu.
Dirinya satu di antara banyak sopir truk yang mengantre secara “jujur”. Sementara ada pihak yang sangat mudah mendapatkan BBM jenis solar.
“Sudah rahasia umum, dari SPBU di Tana Toraja hingga SPBU di Toraja Utara, mayoritas memberi kesempatan kepada para pelangsir bahkan bisa dikatakan mafia untuk menimbun,” tuturnya.
Pelangsir adalah istilah lokal yang merujuk pada pembeli BBM subsidi yang datang membawa kendaraan dengan tangki yang telah dimodifikasi atau membawa jeriken.
Dia sudah beberapa kali mencoba memberitahukan kepada pihak SPBU agar memantau secara adil, namun tak kunjung ditanggapi.
“Saya pusing antre berjam-jam dan tidak ada satupun yang dapat menjamin saya kebagian jatah atau tidak. Saya lalu sudah tegur itu yang bawa banyak jeriken d imobilnya hingga mobil yang tangki rakitan ke petugas, tapi tidak ditindak, termasuk di SPBU Bolu di sini,” tuturnya.
FAJAR berusaha mengonfirmasi beberapa pemilik SPBU mengenai penyebab kelangkaan tersebut, namun belum memberikan respons. Bahkan perihal lokasi penimbunan, kendaraan tangki rakitan, dan mobil yang membawa banyak jerigen untuk isi BBM sampai saat ini belum ditindaklanjuti oleh aparat.
Jatah BBM
Termasuk dugaan kuat oknum “bermain” di Toraja. Data Disperindag-UKM Toraja Utara, melalui Pengawas Perdagangan, Harwan Bukkang, untuk stok BBM seperti solar di Toraja Utara pertahun ialah 11.977 kl dan Pertalite 19.612 kl per tahun.
Sedangkan untuk data Tana Toraja, melalui Kabid Perdagangan Disperindag Tana Toraja, Any Paressa, untuk data per hari suplai BBM di Tana Toraja ialah Pertalite 108.488 liter, Pertamax 31.680 liter,
Pertamax Turbo 15.435 liter, Dexlite 27.786 liter,
dan Solar 35.884 liter.
Dari hasil data tersebut, secara garis besar bahwa untuk kebutuhan suplai kendaraan hingga kelompok tani masih terbilang terpenuhi (terkontrol). Data tersebut masih bisa bertambah, jika adanya permintaan pertambahan suplai BBM.
Pada 3-4 bulan jelang akhir tahun, hingga awal tahun SPBU di Toraja secara menyeluruh (Tana Toraja dan Toraja Utara) selalu minim stok BBM. Ada dugaan, BBM ditampung dan dijual keluar Toraja.
Seperti ke wilayah Enrekang, Luwu Raya, hingga ke daerah industri seperti ke Morowali, Sulawesi Tengah dan wilayah lainnya. Selain itu juga modus operandi lainnya dengan memalsukan bercode BBM, dan upaya kerja sama dengan “orang dalam”.
Hal ini bahkan sudah menjadi agenda tahunan mulai dari September-Desember hingga Januari-awal Februari puncaknya. Belum ada penindakan atas dugaan sejumlah pelanggaran itu. (*)




