Mahasiswa Bergerak: Advokasi sebagai Jalan Perubahan Sosial

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Mahasiswa sejak lama dikenal sebagai kelompok intelektual yang memiliki peran strategis dalam dinamika perubahan sosial. Sejarah mencatat bahwa berbagai momentum besar bangsa tidak pernah lepas dari keterlibatan mahasiswa, mulai dari pergerakan kemerdekaan, reformasi 1998, hingga berbagai gerakan sosial kontemporer.

Namun, di tengah arus pragmatisme dan individualisme hari ini, peran mahasiswa sering kali direduksi sebatas pencari nilai akademik dan gelar semata. Padahal, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk turut serta dalam advokasi sebagai jalan nyata menuju perubahan sosial.

Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial

Sebagai kelompok terdidik, mahasiswa memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan, ruang diskusi, dan kebebasan berpikir yang lebih luas dibandingkan masyarakat pada umumnya. Privilege intelektual ini seharusnya tidak berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi diarahkan untuk menjawab masalah sosial yang ada di sekitarnya.

Ketika ketimpangan sosial, ketidakadilan kebijakan, dan marginalisasi kelompok rentan masih terjadi, mahasiswa tidak boleh bersikap netral apalagi apatis.

Tanggung jawab sosial mahasiswa bukanlah sekadar slogan idealistik, melainkan juga bentuk nyata dari keberpihakan. Mahasiswa dituntut peka membaca realitas sosial dan berani mengambil posisi. Di sinilah advokasi menjadi penting, yaitu sebagai upaya sistematis untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat yang terabaikan.

Advokasi mengajarkan mahasiswa untuk tidak hanya memahami masalah, tetapi juga terlibat aktif dalam mencari solusi yang berkeadilan.

Advokasi sebagai Wujud Nyata Aktivisme

Advokasi bukan hanya identik dengan demonstrasi di jalanan, meskipun aksi massa tetap menjadi bagian penting dari tradisi gerakan mahasiswa. Advokasi mencakup proses yang lebih luas, mulai dari riset kebijakan, pendampingan masyarakat, dialog dengan pemangku kepentingan, hingga pengawasan terhadap implementasi kebijakan publik. Dengan demikian, advokasi menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, strategis, dan berkelanjutan.

Melalui advokasi, mahasiswa belajar menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas sosial. Isu pendidikan, lingkungan, agraria, kesehatan, dan pelayanan publik dapat menjadi ruang aktualisasi peran mahasiswa. Ketika mahasiswa terlibat langsung dalam advokasi, mereka tidak hanya menyuarakan kritik, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dan memperkuat posisi masyarakat dalam memperjuangkan haknya.

Pemberdayaan sebagai Kelanjutan Perjuangan

Advokasi yang berhenti pada tuntutan semata berisiko menjadi gerakan sesaat. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat harus menjadi kelanjutan dari perjuangan mahasiswa.

Pemberdayaan bertujuan membangun kapasitas masyarakat agar mampu memahami, mengorganisir, dan memperjuangkan kepentingannya secara mandiri.

Mahasiswa dapat berperan sebagai fasilitator, pendamping, dan penghubung antara masyarakat dengan struktur kekuasaan. Melalui pendidikan kritis, pelatihan, dan pengorganisasian, mahasiswa membantu masyarakat keluar dari ketergantungan dan ketidakberdayaan. Dengan cara ini, perubahan sosial tidak lagi bergantung pada figur tertentu, tetapi tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat itu sendiri.

Menjaga Idealisme di Tengah Tantangan Zaman

Menjadi aktivis mahasiswa yang konsisten dalam advokasi dan pemberdayaan tentu tidak mudah. Tekanan akademik, tuntutan ekonomi, dan godaan pragmatisme sering kali melemahkan idealisme.

Tidak sedikit mahasiswa yang memilih diam demi kenyamanan pribadi. Namun, sejarah membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari keberanian segelintir orang yang memilih melawan arus.

Mahasiswa harus mampu menjaga idealisme dengan tetap berpijak pada realitas. Aktivisme tidak boleh tercerabut dari kebutuhan masyarakat dan harus dijalankan dengan etika serta tanggung jawab.

Ketika mahasiswa mampu memadukan idealisme, intelektualitas, dan kerja nyata di lapangan, advokasi akan benar-benar menjadi jalan menuju perubahan sosial yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, mahasiswa bergerak bukan semata untuk dikenal sebagai oposisi, melainkan sebagai bagian dari solusi. Advokasi dan pemberdayaan adalah wujud konkret keberpihakan mahasiswa terhadap rakyat, sekaligus penegasan bahwa kampus bukan menara gading yang terpisah dari realitas sosial. Jika mahasiswa memilih bergerak, perubahan bukan lagi sekadar harapan, melainkan juga keniscayaan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Trump: Dunia Tak Akan Aman Kecuali AS Kuasai Greenland
• 4 jam laludetik.com
thumb
Industri Film Lesu, James Cameron Sebut Biaya Produksi Avatar 4 dan 5 Bakal Dipangkas
• 7 jam laluinsertlive.com
thumb
Dekatkan Akses Layanan Keuangan, BRILink Agen Waisun Jadi Tumpuan Warga di Papua Pegunungan
• 12 jam lalufajar.co.id
thumb
Saham CUAN-TPIA Cs Tersengat Aksi Akumulasi Prajogo Pangestu
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Draft Perpres TNI Atasi Terorisme Tuai Kritik, Dinilai Ancam Demokrasi
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.