Salah satu perusahaan konglomerasi dikabarkan berencana mencatat perdana sahamnya ke publik atau initial public offering (IPO) dalam waktu dekat. Hal itu diungkapkan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, awal pekan ini.
Dia menuturkan, pada tahun ini setidaknya ada satu perusahaan dekapan konglomerat Tanah Air yang akan melantai di bursa. Kendati demikian, dia tidak menyebutkan dari konglomerat mana perusahaan tersebut berasal dan bergerak di sektor apa.
“Insyaallah ada. Minimal satu (perusahaan konglomerasi yang IPO),” kata Iman kepada wartawan saat ditemui di Main Hall BEI, Jakarta, pada Senin (19/1).
Sebelumnya, BEI mencatat terdapat tujuh perusahaan yang berada dalam pipeline atau antrean pencatatan saham hingga 15 Januari 2026. Dari jumlah tersebut, lima perusahaan dikategorikan sebagai emiten beraset besar atau lighthouse, dengan nilai aset di atas Rp250 miliar sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017.
“Sampai dengan 15 Januari 2026, terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ungkap Nyoman dalam keterangannya, dikutip pada Senin (19/1).
Dia menjelaskan, selain lima perusahaan beraset besar, terdapat satu perusahaan dengan aset skala menengah Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar, serta satu perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp 50 miliar.
Jika mengacu pada sektor usaha, calon emiten tersebut memiliki latar belakang yang beragam. Di antaranya ada satu perusahaan dari sektor material dasar, satu perusahaan dari sektor energi, dua perusahaan dari sektor keuangan, satu perusahaan sektor industri, satu perusahaan sektor teknologi dan satu perusahaan dari sektor transportasi dan logistik.
Selain itu, sebelumnya BEI juga mengungkapkan bahwa terdapat dua emiten kategori lighthouse company yang direncanakan melantai di bursa pada kuartal pertama 2026. Kedua perusahaan tersebut berasal dari sektor infrastruktur dan pertambangan.
“Lighthouse ada dua. Yang ada itu sektor infrastruktur dan mining,” kata Nyoman saat ditemui usai penutupan perdagangan BEI di Main Hall, Selasa (30/12/2025).
Nyoman menjelaskan, lighthouse company adalah emiten dengan karakteristik minimum kapitalisasi pasar Rp3 triliun dan porsi saham publik (free float) sekurang-kurangnya 15%. Di luar dua emiten tersebut, masih terdapat tujuh perusahaan lain yang berada dalam antrean IPO 2026 dan berasal dari beragam sektor.
Rumor IPO Anak Usaha RAJA hingga Cucu Usaha CUANBerdasarkan informasi yang dihimpun Katadata, beberapa perusahaan konglomerasi memang sudah disebut-sebut akan melaksanakan IPO. Kabar tersebut sejatinya telah mencuat sejak tahun lalu. Sebut saja perusahaan Griya Idola dekapan konglomerat Prajogo Pangestu yang dikatakan sudah berada pada tahap finalisasi.
Perusahaan properti itu terafiliasi dengan Barito Pacific milik Prajogo. Namun, informasi mengenai rencana IPO Griya Idola tersebut belum dapat dikonfimasi.
Perusahaan Prajogo lainnya yang dikabarkan akan melantai di BEI adalah PT INTAM atau Intan Media yang merupakan bagian dari Intam Group. Perusahaan itu juga disebut-sebut berada pada tahap finalisasi IPO. Calon emiten itu adalah anak usaha PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Kemudian ada kabar IPO dari anak usaha PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) milik Happy Hapsoro. RAJA dikabarkan berencana mencatatkan saham perdana anak usahanya di bidang perdagangan dan transportasi gas bumi yakni PT Panji Raya Alamindo (PRA) melalui IPO pada tahun ini.
Katadata.co.id telah meminta konfirmasi kepada Sekretaris Perusahaan RAJA Yuni Pattinasarani terkait kabar tersebut. Namun hingga berita ini ditulis, pesan yang disampaikan belum mendapat tanggapan.
Kemudian, perusahaan Orang Tua Group disebut telah tercatat pada tahap persiapan. Kelompok usaha ini dikenal sebagai perusahaan barang konsumsi, merupakan konglomerasi FMCG nasional milik keluarga Djojonegoro. Blu BCA juga berada pada tahap persiapan. Layanan perbankan digital ini adalah bagian dari Grup Djarum.

