Harga Perak Hari Ini (19/1/2026) Menguat ke US$93 per Ons di Tengah Isu Greenland

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Harga perak pada hari ini, Senin (19/1/2026) mengikuti kenaikan harga emas dan mencapai level tinggi, imbas memanasnya isu perebutan Greenland.

Dilansir Bloomberg, harga perak menguat 3,2% ke level US$93,0211 per ons dan menyentuh sempat menyentuh rekor US$94,1213. Sementara di pasar spot, pada pukul 8.11 am waktu Singapura harga emas naik 1,6% ke level US$4.668,76 per ounce. Logam lain, seperti platinum dan palladium juga dilaporkan mengalami kenaikan.

Penguatan harga logam mulia tersebut seiring dengan upaya Presiden AS Donald Trump yang semakin intensif untuk merebut Greenland. Hal ini memicu kekhawatiran akan perang dagang yang berisiko merusak hubungan AS dengan Eropa.

Trump mengatakan dia akan mengenakan tarif pada delapan negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, yang menentang rencananya untuk mengakuisisi Greenland. Tarif 10% akan berlaku mulai 1 Februari dan naik menjadi 25% pada Juni 2026. Langkah ini pun mendorong permintaan aset aman berupa logam mulia.

Para pemimpin Eropa akan mengadakan pertemuan darurat dalam beberapa hari mendatang untuk menjajaki kemungkinan tindakan balasan. Negara-negara anggota sedang membahas beberapa opsi untuk menanggapi hal ini, termasuk mengenakan tarif balasan pada barang-barang AS senilai €93 miliar (US$108 miliar), menurut orang-orang yang mengetahui pembicaraan tersebut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron kemungkinan akan meminta aktivasi instrumen anti-koersi Uni Eropa, menurut laporan Bloomberg. ACI adalah alat pembalasan paling ampuh di blok tersebut, dan memungkinkan Uni Eropa untuk menerapkan serangkaian langkah sebagai respons terhadap tindakan perdagangan yang bersifat memaksa.

Baca Juga

  • Harga Buyback Emas Antam, UBS & Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini 19 Januari 2026
  • Harga Emas Dunia Hari Ini (19/1) Terkerek Ancaman Tarif Baru Trump & Perebutan Greenland
  • Siap-siap, Emas Akan Setuh USD 5000 per Ons dalam Waktu Dekat

“Risiko geopolitik terus meningkat. Ketidakpastian perdagangan yang baru melemahkan prospek pertumbuhan dan kebijakan luar negeri AS mengikis kepercayaan terhadap dolar AS. Ini adalah kombinasi sempurna untuk emas dan perak,” kata Kyle Rodda, seorang analis di Capital.com di Melbourne.

Adapun, harga logam mulia telah melonjak tajam tahun ini, menyusul kenaikan dramatis pada 2025, ketika AS menangkap pemimpin Venezuela dan kemudian meningkatkan ancaman untuk merebut Greenland.

Pemerintahan Trump juga memperbarui serangan terhadap Federal Reserve, yang meningkatkan kekhawatiran atas independensi bank sentral dan memicu perdagangan pelemahan nilai mata uang, di mana investor menghindari mata uang dan obligasi pemerintah karena kekhawatiran atas tingkat utang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dolar AS Makin Dekati Rp 17.000, Ini Sederet Faktor yang Bikin Rupiah Loyo
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Keluarga Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 Lakukan Tes DNA di Posko Ante Mortem Polda
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
TNI-Polri Jadi Petugas Haji, DPR Khawatir Timbulkan Persoalan Baru
• 13 jam lalufajar.co.id
thumb
Makna Jeulamee (Mahar) yang Dihitung dengan Mayam dalam Adat Aceh
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Pemerasan Sertifikasi K3, Noel: Saya Terima Rp3,3 Miliar
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.