Bisnis.com, JAKARTA – Manajer Investasi PT Korea Investment Management (KIM) Indonesia berencana meluncurkan sekitar empat hingga enam produk anyar sepanjang 2026. Strategi itu ditetapkan perseroan dalam rangka mengejar target pertumbuhan AUM sebesar 30% pada tahun ini.
Presiden Direktur KIM Indonesia Arfan Karniody, menerangkan bahwa beberapa produk baru yang akan diterbitkan KIM Indonesia pada tahun ini akan berbasis pendapatan tetap.
Hal itu sejalan dengan minat investor terhadap reksa dana pendapatan tetap (RDPT) yang dana kelolaannya atau asset under management (AUM) diklaim telah tumbuh 600% YoY pada 2025 menjadi Rp5,55 triliun.
“Jadi produk inovatif ini bisa macam-macam. Bisa berbasis pendapatan tetap, tetapi agak berbeda. Kami berusaha inovatif, berusaha berbeda dari yang lain,” katanya saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/1/2026).
Meskipun begitu, Arfan tidak merinci jenis produk baru yang akan diterbitkan perusahaan di tahun ini. Dia hanya menyebut bahwa beberapa produk akan terbit pada kuartal II/2026.
Saat ini, KIM Indonesia tengah melakukan perhitungan terhadap risiko dan potensi dari produk yang akan mereka terbitkan. Hal itu dilakukan guna menakar prospek produk tersebut terhadap kinerja perusahaan.
Baca Juga
- Sucorinvest AM: Suku Bunga Rendah Kerek AUM Reksa Dana Ratusan Persen
- Sinarmas AM Cetak AUM Rp62,39 Triliun, Fokus Tarik Lebih Banyak Investor
- AUM BNP Paribas AM Capai Rp34,96 Triliun, Ditopang Syariah Offshore ESG
“[Empat produk baru] belum termasuk kami mau merilis reksa dana terproteksi, kayaknya paling tidak ada dua,” katanya.
Di satu sisi, KIM Indonesia menargetkan pertumbuhan AUM sebesar 30% YoY pada tahun ini. Target yang ditetapkan KIM Indonesia pada tahun ini cenderung lebih kecil dibandingkan realisasi peningkatan AUM pada 2025 sebesar 176% YoY.
Arfan menilai, pihaknya tidak ingin terlalu percaya diri terhadap prospek pasar reksa dana tahun ini. Namun, peluang revisi terhadap target ini terbuka lebar.
“Tapi saya yakin bisa lebih dari 30% sih,” tegasnya.
Adapun sebelumnya, Arfan menilai bahwa peluang pasar reksa dana pada 2026 sebetulnya cukup prospektif. Terutama didukung oleh ruang pelonggaran moneter yang masih akan berlanjut di dalam negeri maupun AS. Selain itu, pertumbuhan jumlah investor pasar modal yang signifikan juga diprediksi dapat menjadi dorongan tambahan bagi investor reksa dana.
“Kami juga masih menantikan dampak positif dari stimulus likuiditas, serta efek positif program MBG terhadap perekonomian seiring dengan arah APBN yang kini lebih jelas karena sudah berada dalam fase transisi,” tambahnya.



