Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam skrining kesehatan di Indonesia kini semakin masif.
Menurutnya, AI berperan layaknya dokter dalam membantu mendeteksi penyakit sejak dini.
“Nah, sekarang X-ray itu bukan hanya untuk Tuberkulosis, bisa untuk Pneumonia, bisa untuk penyakit-penyakit lainnya, kanker paru, segala macam kita gunakan, ya,” kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (19/1).
“Karena AI ini dia kayak dokter, cuma kalau dokter pengalamannya 1.000 pasien, 5.000 pasien. Ini 5 juta pasien, 10 juta pasien dia belajar,” lanjutnya.
Menurut Budi, teknologi AI saat ini sudah terintegrasi dengan sistem skrining X-ray digital di fasilitas kesehatan.
Hasil X-ray langsung dianalisis oleh AI untuk mendeteksi potensi penyakit, sehingga membantu tenaga medis dalam proses diagnosis awal.
“Jadi screening-nya sekarang di kita tuh sudah screening X-ray digital, langsung masukin AI, dia kasih tanda. Ini ada potensi-potensi sakit apa,” jelas Budi.
Pemanfaatan AI tersebut dinilai sangat membantu, terutama bagi dokter umum yang pengalaman klinisnya masih terbatas.
“Apalagi untuk dokter-dokter umum yang mungkin pengalamannya masih 5.000, 10.000. Ini kan langsung kita ajarin 5 juta orang, 10 juta orang, 25 juta orang. Ya, dengan teknologi sekarang itu bisa kita lakukan,” ungkapnya.
Selain untuk tuberkulosis, Budi menyebut AI juga akan digunakan dalam pemeriksaan CT scan dan patologi anatomi untuk membantu dokter melihat indikasi penyakit secara lebih akurat.
“Nah, untuk AI sendiri, kita juga sudah masif menggunakan ini di Tuberkulosis. Sekarang kita akan menggunakan ini di CT Scan dan juga untuk patologi anatomi. Intinya apa? Membantu dokter untuk melihat apakah ada indikasi,” tuturnya.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan AI merupakan salah satu dari tiga fokus utama pengembangan teknologi kesehatan masa depan Kementerian Kesehatan, selain bioteknologi dan robotik.
“Ini mengenai teknologi kesehatan. Kita ada tiga yang kita fokuskan di teknologi kesehatan masa depan. Satu mengenai bioteknologi, kedua mengenai AI, yang ketiga mengenai robotik ya,” ujar Budi.
“Kita sudah bikin institusi namanya BGSi (Biomedical Genome Science Initiatice), dan ini sudah berhasil merekrut 20.000 pasien. Nanti akan ada di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi di Bogor,” tutup dia.




