Harga Emas Jungkir Balik Usai Profit Taking dan Geopolitik Mereda, Analis Pede Tembus US$5.000

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Harga emas dunia ambruk lebih dari 1 persen akibat aksi ambil untung (profit taking) serempak setelah emas mencapai rekor tertinggi (all high time/ATH). Sejumlah tanda yang mengindikasikan meredanya ketegangan geopolitik global menggerus daya tarik emas sebagai aset safe haven turut menjadi sentimen negatif terhadap harga logam mulia ini.

Berdasarkan data Gold Price, emas sempat menyentuh harga US$4.562,58 atau Rp 77,4 juta (estimasi kurs Rp 16.960 per dolar AS) per ons pada Jumat, 16 Januari 2026 pukul 10.32 waktu New York. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,6 persen ke US$4.595,40 per ons.

Baca Juga :
Terungkap Alasan Trump Batal Serang Iran: Israel Tak Siap!
Harga Emas Hari Ini 19 Januari 2026: Antam Meroket, Produk Global Cetak Rekor Tertinggi

Meski demikian, emas masih membukukan kenaikan mingguan sekitar 1,9 persen dan mencatatkan penguatan selama dua pekan beruntun setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di US$4.642,72 per ons pada Rabu pekan lalu. 

Analis Marex, Edward Meir, menilai pelemahan ini merupakan bagian dari koreksi wajar setelah lonjakan agresif harga komoditas seiring aksi ambil untung. Ia menyoroti meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. 

Ilustrasi emas
Photo :
  • Pixabay

Aksi protes di Iran dilaporkan mulai surut, sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil sikap menunggu dan melihat perkembangan situasi. Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin bergerak untuk memediasi Iran dan mendorong de-eskalasi konflik.

"De-eskalasi ketegangan di Timur Tengah juga telah menghilangkan sebagian premi geopolitik pada emas dan logam lainnya, terutama perak," tutur Meir dikutip dari CNBC Internasional pada Senin, 19 Januari 2026

Dari sisi perdagangan global, sentimen pasar juga dipengaruhi kesepakatan dagang antara AS dan Taiwan. Kedua negara sepakat menurunkan tarif atas sejumlah ekspor semikonduktor Taiwan serta membuka jalur investasi baru ke sektor teknologi AS, sebuah langkah yang berpotensi memicu ketegangan baru dengan China.

Sementara itu, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya hingga paruh pertama tahun ini. Pasar meramal The Fed akan menurunkan  suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Juni 2026, berdasarkan data yang dihimpun LSEG. 

Baca Juga :
Iran: Negara-negara G7 Munafik
Ali Khamenei: Trump Bersalah Atas Korban Jiwa dan Fitnah Bangsa Iran!
Iran Geram Negara yang Tergabung Dalam G7 Bakal Jatuhi Sanksi Baru: Munafik!

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Volume Kendaraan di Tol MBZ Saat Libur Isra Miraj 2026 Naik 14,72 Persen
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Tim SAR Evakuasi Jasad ABK yang Jatuh dari Kapal di Batam
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Tegaskan Komitmen, Panin Dai-ichi Life Bayar Klaim Tutup Usia Rp2 Miliar di Medan
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Doa Shalat Istikharah Jodoh: Tata Cara, Bacaan, dan Tanda Jawabannya
• 7 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Rumah Ortu Pegawai KKP Penumpang Pesawat ATR Jatuh Ramai Didatangi Kerabat
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.