Tersenyum Menghadapi Akhir Permainan Hidup

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Jika hidup dibagi berdasarkan nasib, kira-kira ada dua jenis manusia: yang satu terlahir membawa keberuntungan,  yang satu lagi seolah lahir untuk diuji oleh kesialan.

Pelukis disabilitas asal Taiwan, Xie Kunshan, jelas termasuk golongan kedua. Seakan-akan hidupnya tak pernah bersahabat dengan keberuntungan. Dia justru selalu ditemani kemalangan—jatuh berkali-kali, dan setiap jatuh terasa begitu menyakitkan, hingga nyaris pantas disebut “anak kesialan”.

Karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat miskin dan tak mampu membiayai sekolahnya, Xie Kunshan terpaksa putus sekolah sejak usia dini. Namun kemiskinan justru membuatnya tumbuh lebih cepat dewasa. Sejak kecil dia sudah memahami betapa beratnya jerih payah orangtuanya.

Maka sejak usia 12 tahun, dia mulai bekerja di proyek bangunan. Dengan bahu yang masih rapuh dan tubuh yang belum matang, dia ikut menopang kehidupan keluarganya. Namun nasib tak kunjung berpihak pada anak yang begitu berbakti ini. Bencana justru datang silih berganti.

Pada usia 16 tahun, karena tak sengaja menyentuh aliran listrik tegangan tinggi, dia kehilangan kedua lengannya dan satu kakinya. Tujuh tahun kemudian, saat berusia 23 tahun, sebuah kecelakaan kembali merenggut satu matanya. Tak lama setelah itu, kekasih yang sangat dia cintai pun diam-diam meninggalkannya…

Menghadapi pukulan demi pukulan dari takdir, Xie Kunshan tidak mengeluh, apalagi tenggelam dalam keputusasaan. Namun demi tidak menjadi beban bagi orangtuanya yang sudah sangat menderita, dan demi tidak semakin menghancurkan keluarga yang serba kekurangan itu, dia memilih satu jalan yang pahit—mengembara.

Dengan tubuh penuh keterbatasan, dia pergi seorang diri, memulai pertarungan panjang melawan takdir.

Dalam masa pengembaraannya, dia bekerja apa saja demi bertahan hidup. Di saat yang sama, dia juga aktif dalam kegiatan sosial, membantu mereka yang lebih membutuhkan. Lambat laun, dia jatuh cinta pada dunia melukis. Dia ingin memberi warna baru pada kehidupan yang selama ini terasa kelabu.

Awalnya, Xie Kunshan sama sekali tidak mengerti seni lukis. Dia hanya bisa datang ke sekolah seni sebagai pendengar, diam-diam mempelajari teknik melukis. Tak memiliki tangan, dia melukis dengan mulut—menggigit kuas dengan giginya, menggerakkannya dengan lidah, hingga sudut bibirnya sering mengalirkan darah.

Kehilangan satu kaki, cia melukis sambil berdiri dengan satu kaki saja, sering kali berjam-jam tanpa bergerak. Dia justru paling menyukai melukis di tengah angin dan hujan, menangkap suasana langit gelap dan terpaan angin dingin…

Dan tepat ketika hidupnya berada di titik paling sulit, datanglah seorang gadis cantik bernama Yezhen. Mengabaikan tentangan keras dari orangtuanya, gadis itu dengan tegas memilih masuk ke dalam hidupnya.

Dengan adanya satu titik tumpu dalam hidup, Xie Kunshan semakin giat berkarya. Dia menggelar pameran lukisan di berbagai tempat, dan karyanya terus meraih penghargaan dalam berbagai kompetisi seni.

Usaha sungguh-sungguh tak pernah mengkhianati manusia. Pada akhirnya, dia berhasil memenangkan “akhir permainan” hidupnya.

Dia bukan hanya memenangkan cinta—memiliki keluarga yang hangat dan bahagia—tetapi juga memenangkan karier, menjadi pelukis terkenal, serta meraih penghormatan dari masyarakat luas. Kisah hidupnya kini dikenal hampir di seluruh Taiwan, menjadi inspirasi dan teladan bagi banyak anak muda.

Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya:  “Jika suatu hari kamu memiliki sepasang tangan yang sempurna, apa hal pertama yang ingin kamu lakukan?”

Dia tersenyum, lalu menjawab dengan lembut: “Aku akan menggandeng tangan istriku dengan tangan kiri, menggenggam tangan kedua putriku dengan tangan kanan, dan berjalan bersama menyusuri jalan kehidupan.”

Hikmah Cerita / Renungan

Sesungguhnya, hidup ini bagaikan sebuah papan catur, dan lawan kita adalah takdir.

Sekalipun takdir sudah menguasai hampir seluruh papan, sekalipun yang tersisa hanya sebuah posisi akhir yang nyaris kalah, jangan pernah membalik papan dan menyerah. Hadapilah dengan senyum, dan teruslah bermain sampai akhir.

Karena justru dalam ketekunan dan keteguhan itulah, hidup bisa berbalik arah. Siapa tahu, pada langkah terakhir, kita justru mampu memberi takdir sebuah “sekakmat tersembunyi”.

Catatan:  “Sekakmat meriam tertutup” (The Smothered Cannon Checkmate) adalah istilah dalam catur Tiongkok, yaitu strategi memanfaatkan bidak lawan sebagai pijakan meriam untuk mematikan langkah raja lawan, sehingga tak ada jalan menghindar dan permainan berakhir. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sempat Adu Mulut, SK Keraton Solo Akhirnya Diserahkan ke Tedjowulan,
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kronologi Penemuan Satu Jenazah Korban Pesawat ATR PK-THT di Makassar
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Korban Meninggal Bencana Sumatera 1.199 Orang, 144 Hilang
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
6.432 Desa Aceh Kembali Pulih, PLN Terus Percepat Penormalan Jaringan
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
DPRD Surabaya Minta Pemkot Tegas kepada Developer Nakal
• 5 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.