Mengapa Berbicara dengan Kucing adalah Terapi, Bukan Halusinasi

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ada sebuah stigma menggelikan yang sering melekat pada mereka yang gemar berbicara dengan kucing: julukan "crazy cat lady" atau anggapan bahwa seseorang terlalu kesepian hingga harus mencurahkan isi hatinya pada hewan yang (tampaknya) tidak peduli. Kita sering melihat adegan di film di mana seseorang bertanya pada kucingnya, "Bagaimana harimu?" dan dijawab dengan tatapan kosong atau jilatan acuh tak acuh pada kaki depan.

Namun, bagi jutaan pemilik kucing di seluruh dunia, percakapan ini adalah ritual sakral. Saat kita pulang dengan bahu merosot karena beban pekerjaan, atau saat kita merayakan kemenangan kecil di pagi hari, kucing seringkali menjadi pendengar pertama kita. Pertanyaannya, apakah ini hanya mekanisme pertahanan diri manusia untuk mengusir sepi, atau adakah pertukaran emosional yang nyata di sana?

Opini saya tegas: Berbicara dengan kucing adalah salah satu bentuk komunikasi paling murni dan menyehatkan yang bisa dilakukan manusia modern. Ini bukan monolog; ini adalah dialog lintas spesies yang melibatkan kepekaan tingkat tinggi. Dan sains mulai membuktikan bahwa perasaan "dimengerti" oleh kucing bukanlah imajinasi kita semata.

Sains di Balik "Tatapan Mengerti" Itu

Skeptis mungkin berkata bahwa kucing hanya peduli pada siapa yang mengisi mangkuk makannya. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kucing memiliki kemampuan kognitif sosial yang jauh lebih dalam daripada sekadar oportunisme pangan.

Sebuah studi menarik yang diterbitkan dalam jurnal Animal Cognition pada tahun 2016 oleh peneliti Moriah Galvan dan Jennifer Vonk, memberikan validasi ilmiah yang kuat bagi kita yang sering curhat pada kucing. Penelitian ini menemukan bahwa kucing rumahan memiliki kemampuan untuk mengenali emosi manusia melalui ekspresi wajah dan intonasi suara.

Dalam studi tersebut, kucing diperlihatkan ekspresi wajah pemiliknya yang sedang bahagia dan marah, serta ekspresi orang asing. Hasilnya mengejutkan: kucing menunjukkan perilaku yang berbeda secara signifikan saat melihat wajah pemiliknya yang sedang bahagia dibandingkan saat marah. Mereka lebih cenderung mendekat, mendengkur, dan melakukan kontak fisik saat pemiliknya menunjukkan emosi positif (bahagia), dan menunjukkan kewaspadaan atau stres saat pemiliknya marah.

Apa artinya ini bagi kita? Ini membuktikan bahwa komunikasi kita tidak bertepuk sebelah tangan. Ketika Anda berbicara dengan nada lembut dan penuh kasih pada kucing Anda, mereka tidak hanya mendengar suara bising; mereka memproses emosi di baliknya. Kucing membaca "iklim emosional" kita. Jadi, saat kita merasa kucing kita datang menghibur ketika kita sedih, kemungkinan besar mereka memang sedang merespons perubahan emosi kita, bukan sekadar kebetulan.

Kucing sebagai Terapis Non-Verbal

Manfaat terbesar dari komunikasi ini terletak pada ketiadaan penghakiman. Dalam interaksi antarmanusia, komunikasi seringkali rumit. Kita harus memikirkan tata bahasa, nada bicara, dan risiko disalahpahami atau dihakimi. Namun, saat berkomunikasi dengan kucing, hambatan sosial itu runtuh.

Kucing adalah pendengar aktif yang luar biasa. Respons mereka, entah itu kedipan mata perlahan (slow blink), getaran dengkuran (purring) di pangkuan, atau sekadar kehadiran yang tenang di sebelah kita, memberikan efek grounding atau penenang bagi sistem saraf manusia.

Dengkuran kucing, misalnya, berada pada frekuensi 20-140 Hz, yang secara medis diketahui dapat menurunkan tekanan darah dan membantu penyembuhan jaringan. Jadi, ketika kita berbicara pada mereka dan mereka membalas dengan dengkuran, sebenarnya sedang terjadi terapi biologis dua arah. Kita memberikan afeksi verbal, mereka membalas dengan getaran penyembuhan.

Teruslah Mengobrol

Maka, sudah saatnya kita berhenti merasa malu saat tertangkap basah sedang berdiskusi serius dengan kucing tentang pilihan menu makan malam atau keluhan tentang atasan di kantor.

Komunikasi dengan kucing melatih kita untuk menjadi lebih peka terhadap bahasa non-verbal dan empati. Jika studi dari Galvan dan Vonk membuktikan bahwa kucing berusaha memahami emosi kita, maka hal paling manusiawi yang bisa kita lakukan adalah menghargai upaya mereka dengan terus mengajak mereka bicara.

Hubungan ini mengajarkan kita bahwa komunikasi tidak melulu soal kata-kata yang rumit. Terkadang, komunikasi terbaik adalah tentang kehadiran, nada suara yang tulus, dan perasaan aman saat tahu ada makhluk lain yang mengerti perasaan Anda, meskipun ia tidak bisa membalasnya dengan kata-kata. Itu bukan kegilaan; itu adalah bentuk cinta yang paling sederhana.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ketawa Dulu, Overthinking Kemudian
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pria di Bandung Tewas Dihajar Kakak Ipar Perkara Nafkah Anak
• 2 menit laludetik.com
thumb
Pasar Spot Ethereum Mulai Dilirik Investor Institusional Seiring Stabilnya Aktivitas On-Chain
• 11 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Mengenal Potensi Rebung Sebagai Superfood: Manfaat Kesehatan hingga Risiko racun
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Video: Masalah Sengketa Royalti Musik, DJKI Bakal Sanksi LMK "Nakal"
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.