Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan tujuan utama program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk memastikan masyarakat Indonesia hidup sehat.
“Kalau ditanya tujuannya apa? Tujuannya bukan jumlah screening, saya bilang berkali-kali. Tujuannya adalah masyarakat kita sehat. Masyarakat kita tidak sakit, masyarakat kita sehat. Cuma satu tujuannya,” jelas Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/1).
Budi menjelaskan, konsep sehat yang dimaksud bukan sekadar bebas dari penyakit berat, melainkan kondisi kesehatan yang terkontrol sejak dini, termasuk tekanan darah dan kadar gula darah.
“Nah sehat itu apa? Tekanan darahnya enggak boleh kuning. Kalau kuning kan di atas 120/80 di bawah 140/90. Apalagi merah, 140/90. HbA1c gulanya enggak boleh 5,7 sampai 6,5, pre-diabetes, itu kuning. Di atas 6,5 sudah HbA1c merah. Itu nggak boleh sama sekali,” jelasnya.
Ia menegaskan fokus utama program ini adalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh, bukan sekadar laporan administratif.
“Nah, jadi kalau ditanya tujuannya apa. Tujuan utamanya masyarakat kita harus sehat,” tegasnya.
Menurut Budi, hasil skrining awal memang menunjukkan banyak indikator kesehatan masyarakat yang belum ideal. Namun, hal tersebut dinilai sebagai langkah awal yang penting.
“Kita screening dulu. Ketahuan rapornya kan, jelek-jelek semua. Menurut saya enggak apa-apa,” ungkap Budi.
“Karena banyak orang kemudian takut bilang, ‘Wah kok kelihatan jelek, kok ini jelek?’ Ya memang dari dulu enggak pernah, lebih bagus ketahuan kalau itu jelek kan,” lanjutnya.
Budi mengatakan, selama ini pemerintah kerap dikritik karena terlalu fokus pada pendekatan kuratif dibandingkan promotif dan preventif. Program CKG disebut sebagai bukti perubahan arah kebijakan tersebut.
“Memang selalu dipertanyakan kenapa kita terlalu kuratif, enggak promotif preventif. Anggarannya kenapa banyak yang di kuratif, nggak di promotif-preventif,” tutur Budi.
“Saya rasa CKG ini adalah salah satu bukti bahwa kita bersama-sama DPR dan pemerintah melaksanakan program promotif-preventif. Menurut saya sih salah satu yang paling besar di dunia,” sambung dia.
Meski diakui belum sempurna karena baru berjalan, Budi menilai program ini sudah menunjukkan kemampuan sistem layanan kesehatan untuk melakukan skrining secara masif.
“Bahwa memang apakah sempurna? Tidak. Ya karena memang baru jalan 10 Februari tahun lalu. Kita mulainya screening-nya dulu. Dijalanin aja dulu. Mampu apa nggak, ternyata mampu,” katanya.
Ke depan, pemerintah akan memperkuat tindak lanjut dari hasil skrining tersebut, meski saat ini masih dalam tahap uji coba.
“Nah, saya juga mesti jujur, tindak lanjutnya pertama, kita emang akan kasih obat dulu. Dan kalau ditanya kok kecil sekali? Memang baru pilot project, itu saya akuin,” kata Budi.
“Sesudah jalan nih, karena saya kalau sekaligus langsung suruh screening, suruh tatalaksana, nggak kuat orang-orang kita tuh. Saya lihat kemampuannya, udah nggak usah pusing-pusing tatalaksana, screening dulu deh. Udah jalan kan. Habis itu, nah tahun ini akan kita tatalaksana,” tandasnya.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F11%2F10%2F49ee800da54e0425c6feab71031bb122-20251110ron10.jpg)