GenPI.co - Industri pertanian sedang menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim dan kekurangan tenaga kerja.
"Kita benar-benar membutuhkan lebih banyak teknologi ramah iklim," ujar CEO Enko Chem Jacqueline Heard, dilansir AP News, Minggu (18/1).
Heard menyebut pendekatan ini dikenal sebagai pertanian presisi.
Teknologi ramah iklim memungkinkan petani mengoptimalkan lahan, memperpanjang umur tanaman, meningkatkan kualitas hasil panen, dan mengurangi penggunaan bahan kimia.
"Ini baik untuk lingkungan dan tentu saja baik untuk para petani," ujarnya.
Heard memprediksi suatu hari nanti kecerdasan buatan (AI) bisa membantu petani memetakan jenis tanah dan menentukan tanaman yang paling cocok untuk setiap lahan.
"Perubahan iklim membuat beberapa tanaman menjadi kurang cocok untuk ditanam," katanya.
Teknologi ramah lingkungan sangat terlihat di area pameran Consumer Electronics Show (CES) 2026.
Presiden Kubota Tractor Corporation Todd Stucke mengatakan AI menjadi masa depan pertanian, terutama di tengah musim panas yang makin panjang dan badai yang kencang.
Kubota memamerkan teknologi AI yang bisa mendeteksi penyakit tanaman dan menyemprot pestisida hanya di tempat yang dibutuhkan.
Stucke dibesarkan di perkebunan kentang di Ohio. Dia belajar menyemprot tanaman setiap malam berdasarkan pengamatan ayahnya.
"Dulu kami menyemprot seluruh lahan, padahal mungkin hanya sebagian kecil yang perlu disemprot. Jika diterapkan di kebun buah atau kebun anggur, kita bisa lebih selektif," jelasnya. (*)
Simak video berikut ini:




