FAJAR.CO.ID, PANGKEP — Saipul Malik dari komunitas ARAI Sulsel, menceritakan mengenai detik-detik dirinya menemukan korban kedua di sekitar gunung Bulusaraung pada Senin (19/1/2026).
Saat ditemui di Posko AJU, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, ia mulai curiga terkait keberadaan korban ketika mendapati serpihan pesawat.
“Ketika saya menemukan tempat serpihan, saya mencoba mencari jalan menuju ke tempat penyelamat,” ujar Saipul, Senin malam.
Saat ditemukan sekitar pukul 14.00 Wita, posisi korban yang diketahui berjenis kelamin perempuan itu berada tidak jauh dari kepala pesawat.
“Saya menyesir ke kanan, kemudian melihat bekas-bekas pohon dan batu yang pecah. Saya identifikasi kemungkinan ada di sini, saya agak nyisir ke lereng sebelah ada, di situ saya dapat,” sebutnya.
“Sangat dekat dengan serpihan, baterai, yang paling besar ada mesin, saringan oli. Ada banyak di situ,” sambung dia.
Karena saat itu Saipul hanya bersama rombongannya dari ARAI Sulsel, ia tidak berani mendekati korban.
Mereka memilih menunggu tim SAR gabungan lain datang membawa kantong jenazah.
“Begitu abang (TNI AL) dan teman-teman Basarnas dan lain-lainnya datang, kita dekati fix perempuan dan masih ada ini identitasnya, nametag tapi samar-samar,” Saipul menuturkan.
Ia menjelaskan bahwa saat ditemukan posisi korban dalam keadaan tengkurap dan mengalami patah pada bagian kaki.
“Baju ada warna hitam non-uniform sih, mungkin sepatu kets, celana jeans, cuma baju uniform,” bebernya.
Setelah kantong jenazah tiba, kata Saipul, korban dimasukkan kemudian dipindahkan sekitar 25 meter dari posisi awal.
“Kita mobilisasi semaksimal mungkin ke jalur utama, untuk evakuasi kita sudah briefing teknis, jadi nanti pakai tali dari puncak ke sini itu yang belum kita ini mekanisme untuk dari puncak turun ke sini ya,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Anggota Yonmanharlan VI Markas, Serda Marinir Syamsul Alam, yang turut membantu Saipul dan rekannya menceritakan kondisi medan.
“Kalau dievakuasi ke puncak sangat memungkinkan, tapi kalau melalui helikopter, berat medannya. Mungkin di puncak bisa kalau tidak berkabut,” kata Syamsul.
Sesuai dengan hasil briefing, pada Selasa (20/1/2026) besok, korban rencananya dievakuasi menggunakan tali ke puncak.
“Tapi belum tahu nantinya. Opsinya antara udara dan darat. Rencana terakhir dievakuasi melalui jalur pendakian, kita lihat situasi dan kondisinya,” terangnya.
“Karena benar-benar di atas, kami jarak pandang hanya satu meter. Badai,” kuncinya. (Muhsin/fajar)



